Showing posts with label Fan Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fan Fiction. Show all posts

FF "Shoes in Love" Part 9 [END]

>> Sunday, April 25, 2010

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

--------------------------------------------------------------------

So Yon berdiri dari tempat duduknya dan bersiap-siap pergi. Dia berjalan menuju petugas pemeriksa. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memanggilnya. Tapi tidak ada seseorang yang ia kenal disana.

“Yosh, ini waktunya pergi So Yon a. Selamat tinggal Korea.. Selamat tinggal teman-teman.. Selamat tinggal Jun Su..” batinnya. Dia pun berbalik dan kembali melangkah pergi..

Tiba-tiba....

"So Yon a!"

So Yon menghentikan langkahnya. Suara itu.. Ya, dia kenal suara itu! Itu suara Jun Su! Tapi apa Jun Su benar-benar ada disini?

So Yon membalikkan tubuhnya, mencoba mencari sumber suara. Tapi belum sempat tubuhnya berbaik, seseorang dari belakang menarik dan memeluknya erat.

***

Akhirnya Jun Su menemukan sosok So Yon. Tanpa pikir panjang, dia langsung saja memanggilnya.

"So Yon a!"

Jun Su terus berlari menghampiri So Yon. Dia mempercepat langkahnya, sebelum So Yon sempat berbalik. Ia menarik tangan dan tubuh So Yon ke pelukannya, erat.

"So Yon a... Akhirnya aku menemukanmu. Aku mohon jangan pergi.. Aku tidak mau kehilanganmu.." lirih Jun Su yang mulai menitikkan air matanya.

"Jun Su ya..." So Yon membalas dekapan Jun Su.

"So Yon a.. Saranghae.."

"Na do saranghae, Jun Su ya..."

Mereka pun berpelukan di tengah orang-orang yang berlalu lalang. Tidak peduli banyaknya orang yang melihat mereka berdua. Akhirnya, perasaan cinta mereka pun tersampaikan...

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.45, tapi Jun Su belum juga muncul. Padahal acara akan dimulai pukul 11.00. Hyun Su menghempaskan tubuhnya di kursi, menyandarkan kepalanya di bahu Yoo Chun. Tampak Yun Ho dan Chang Min juga ada disana.

"Aduh Jun Su oppa kemana sih.. Acara kan mau dimulai, tapi kenapa dia belum datang juga.." Hyun Su mendesah. Yoo Chun mengelus kepalanya.

"Tunggulah chagi.. Sebentar lagi dia pasti datang.." Yoo Chun berusaha menenangkan Hyun Su.

"Ya, mudah-mudahan saja. Dan semoga saja dia datang bersama So Yon. Aku harap oppa bisa menahannya pergi ke Paris.." jawab Hyun Su sambil menganggukkan kepalanya.

"Tenang saja Hyunie ya.. Jun Su pasti bisa menemukan cintanya itu dan kembali kesini.. Dia bukan orang yang gampang menyerah.. Kita tunggu saja.." kata Yun Ho.

"Ya, Yun Ho hyung benar.." Chang Min setuju.

"Hei kalian! Kalian tahu dimana si Jun Su? Aish kemana dia itu! Jasnya kan sudah aku siapkan dengan susah payah! Tapi dia malah tidak ada!" Jae Joong yang tiba-tiba datang dengan membawa jas untuk Jun Su, terus saja mengerutu.

"Jun Su kan sedang ke bandara, mengejar cintanya. Memangnya kau tidak tahu hyung?" kata Chang Min.

"Hah?? Oh ya?? Aku tidak tahu tuh.." jawab Jae Joong polos.

"Ahhh kau ini kemana saja sih hyung.. Masa hal ini saja kau tidak tahu.. Payah.." Yun Ho mencibir, diikuti jitakan dari Jae Joong yang mendarat mulus di kepala Yun Ho.

"Awww sakit hyung! Kenapa kau memukulku?!!" Yun Ho meringis.

"Habisnya, kau bukannya memberitahuku, tapi malah mengejekku! Rasakan itu!" Jae Joong mencibir, tak mau kalah.

"Hyung! Aku kan cuma bercanda!" timpal Yun Ho.

"Aduhhh.. kasihan sekali aku ini.. Punya hyung kayak anak kecil semua.. Cape dehhh.." ledek Chang Min, disusul jitakan masal oleh Yun Ho, Jae Joong dan Yoo Chun.

"Ya, Yoo Chun hyung! Kenapa ikut-ikutan memukulku??" Chang Min protes.

"Aku kan juga hyung-mu! Berarti kau meledekku juga tadi!" Yoo Chun kembali menjitak Chang Min, begitu pula Jae Joong dan Yun Ho.

"Adududuhhh ,, tolong akuuu... Aku dianiyaya nihhh... ummaaa... appaaaa..." canda Chang Min sambil memegang kedua pipinya dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.

"Hei Chang Min a! Ternyata kau yang seperti anak kecil! Hahaha kau kan memang masih kecil.. hahaha," ledek Yun Ho.

"Ya, hyung!" Chang Min cemberut.

"Hahahaha..." semua tertawa kocak melihat tingkah Chang Min. Hyun Su juga ikut tertawa. Yah.. Oppa-oppanya ini memang selalu bisa membuatnya tertawa disaat dia sedang khawatir seperti sekarang..

Tiba-tiba tawa itu terhenti oleh teriakan Jae Joong.

"Ah, Jun Su ya!"

Semua mata tertuju pada pintu masuk. Jun Su ada disana. Raut wajahnya terlihat kusut, cemberut tak karuan.

"Jun Su ya, bagaimana??" tanya Yoo Chun.

"Mana cintamu, Jun?" timpal Jae Joong.

"Kau gagal ya Jun??" timpal Yun Ho.

"Koq sendirian, hyung?" Chang Min ikut-ikutan bertanya.

"Oppa, mana So Yon??" Hyun Su juga ikut-ikutan bertanya.

Jun Su menatap adik dan sahabat-sahabatnya itu satu persatu. Lalu ia tertunduk lemas dan mendesah. Semua ikut mendesah kecewa.

Tapi tiba-tiba Jun Su mengangkat kepalanya, lalu tersenyum, membuat semuanya kembali terheran. Ia menoleh ke belakang, memanggil seseorang disana.

Lalu muncullah sosok wanita cantik bertubuh tinggi, -sedikit- lebih tinggi dari Jun Su. Wanita itu mengaitkan lengannya pada lengan Jun Su, lalu mereka berdua tersenyum.

"So Yon a!" Hyun Su yang mengenali wanita itu langsung saja nerlari ke arah So Yon dan memeluknya.

"Jun Su ya, kau berhasil! Chukkae.." Yun Ho, Chang Min dan Yoo Chun datang menghampiri Jun Su dan memeluknya.

"Tentu saja.. Bukan Jun Su namanya kalau tidak berhasil menemukan cinta sejatiku! Hehehe,," ujar Jun Su sambil menepukkan dadanya.

"Ah, kalau begitu cepat pakai jasnya! Ini! Sebentar lagi pesta dimulai!" ujar Jae Joong sambil menyerahkan jas pada Jun Su. Jun Su cemberut.

"Hyung.. Kau tidak bersimpatik sama sekali ya?? Aku berhasil menemukan cinta sejatiku loh.. Ucapkan selamat dong.."

"Ah sudahlah, ayo cepat!" jawab Jae Joong lalu pergi meninggalkan Jun Su yang masih manyun. Jae Joong menghampiri So Yon.

"Ya, kau! Ayo cepat ikut aku!" Jae Joong menarik tangan So Yon dan membawanya pergi.

"Hei, kau mau membawaku kemana? Hei! Ya!" So Yon berusaha melepas diri dari Jae Joong, tapi gagal total. Jun Su yang melihat itu langsung saja naik darah.

"Ya, hyung! Kau mau apakan So Yon! Ya!" Jun Su berusaha mengejar Jae Joong yang terus melangkah menjauh. Yoo Chun menahan Jun Su.

"Jun Su ya! Ayo cepat pakai jasnya! Mau dimulai nih!" ujar Yoo Chun.

"Tapi So Yon..."

"Sudahlah, dia akan baik-baik saja.." timpal Yun Ho sambil menarik Jun Su.

"Ya oppa, tenang saja. So Yon pasti aman di tangan Jae Joong oppa.." Hyun Su meyakinkan.

"Tapi...."

***

Dengan berat hati, Jun Su pun memakai jasnya sambil terus menggerutu. "Huh apa-apaan Jae Joong hyung itu! Langsung menarik So Yon seenaknya! Padahal susah payah aku mencarinya! Ahh menyebalkan!" gerutu Jun Su.

Acara sudah mau dimulai, tapi Jae Joong dan So Yon belum juga muncul. Kemana mereka?

Yoo Chun dan Hyun Su sudah bersiap-siap di atas panggung kecil. Yun Ho yang bertugas sebagai MC langsung saja memulai acara.

"Baiklah. Kepada keluarga dekat dan juga teman-teman, terima kasih atas kedatangannya di pesta pertunangan antara Park Yoo Chun dan Kim Hyun Su...."

Di tengah kata-kata sambutan Yun Ho, Jun Su terlihat tidak tenang. Ia terus mondar-mandir tak karuan. Ia melihat sekeliling, mencari sosok Jae Joong dan So Yon. Tapi mereka tidak ada. "Oh My God Sun.. Kemana mereka.." batin Jun Su.

"Sebelum acara dimulai, saya ingin memberitahukan bahwa hari ini akan ada dua pasangan yang akan bertunangan.." kata MC Yun Ho.

"Eh?? Dua??" Jun Su tersentak kaget.

"Ya, Jun Su ssi. Baiklah langsung saja saya panggil pasangan yang kedua."

Semua mata tertuju pada satu kamar rias, tak terkecuali Jun Su. "Siapa pasangan berikutnya? Apa Yun Ho? Ah tidak mungkin! Dia kan MC! Lagipula dia tidak punya pacar! Atau Chang Min? Ah, mana mungkin dia! Dia kan belum pernah pacaran! Atau Jae Joong? Ah mungkin juga dia.. Dia kan sejak tadi tidak ada disini bersama So Yon.. HAH?? SO YON?? Oh My God Sun, apa yang terjadi??" batin Jun Su.

Pintu kamar rias terbuka. Sosok Jae Joong ada disana, tersenyum. Di sampingnya berdiri wanita tinggi cantik dengan gaun yang indah dan sepatu hak tinggi yang elegan. Jun Su melihat hyung-nya itu dengan heran. Memangnya Jae Joong hyung sudah punya pacar?

Perlahan ia mengalihkan pandangannya pada sosok wanita tinggi di sebelah Jae Joong itu. Dia ingin tahu seperti apa wanita-nya Jae Joong. Namun ia tersentak kaget saat melihat wanita itu. "So Yon?!"

So Yon menatap Jun Su lalu tersenyum. Tapi Jun Su malah membalas senyumannya itu dengan muka cemberut dan kecewa. "Apa-apaan ini?? Jae Joong hyung merebut cintaku dengan sangat mudahnya?" pikir Jun Su.

Jae Joong dan So Yon pun berjalan, tapi bukan ke atas panggung, melainkan ke hadapan Jun Su.Jun Su terlihat heran. "Apa mereka mau pamer kemesraan di depanku?" gumamnya.

"Jun Su ya.. Ayo cepat bawa pasanganmu ini ke atas panggung!" ujar Jae Joong.

"Eh? Aku?!"

"Ya!" Jae Joong menjitak Jun Su.

"Aww.. Ya hyung! Kenapa menjitakku hah?" Jun Su mulai emosi.

"Kau ini berpikir apa sih?! Kau pikir aku yang akan bertunangan?! Tentu saja kau, bukan aku! Aku tidak mungkin merebut pacar sahabatku sendiri!" ujar Jae Joong, lalu tersenyum. "Ayo, bawalah dia ke atas panggung.."

"Hyung.. Jadi semua ini.."

"ya, ini semua kejutan dariku.." jawab Jae Joong sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Hyung..." Jun Su langsung saja memeluk Jae Joong. "Jeongmal gomawo Jae Joong hyung.."

"Ne, cheonmaneyo Jun Su ya.."

Jun Su melepas pelukannya lalu menghampiri So Yon dan menggenggam tangannya. "So Yon a.. Kau mau kan tunangan denganku??"

"Tentu saja Jun Su ya.. Aku tidak mau dan tidak bisa menolakmu.." jawab So Yon mantap, tersenyum. Mereka pun berpelukan.

"Gomawo So Yon a.."

"Ne Jun Su oppa.."

Mereka pun naik ke atas panggung. Yoo Chun dan Hyun Su yang sudah menunggu langsung saja memeluk mereka.

"Chukkae So Yon a, oppa.."

"Chukkae Jun Su ya.."

"Baiklah acara akan kami mulai." lanjut MC Yun Ho. Mereka pun bersanding dengan pasangan masing-masing.

"Ah tunggu!" teriak Jun Su, membuat hadirin bingung. Dia turun dari panggung lalu berlari ke kamarnya. Tak lama ia kembali dengan sesuatu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya, lalu kembali naik ke atas panggung dan menghampiri So Yon.

"Chagi ya.. kau pakai ini saja ya.." Jun Su menyodorkan sepasang sendal lucu berbentuk kepala kelinci pada So Yon. "Hah? Sendal? Kenapa aku harus memakai sendal?" tanya So Yon heran

"Ah.. Emh.. Itu.." Jun Su terbata-bata. "Chagi ya.. Kau kan tinggi.. Kalau kau pakai sepatu hak tinggi begitu, aku terlihat pendek sekali dong.. Makanya kau pakai sendal ini saja ya.. Setidaknya aku tidak terlalu terlihat pendek nanti.. Hehehe," jawab Jun Su malu-malu.

"Hahahaha..." semua hadirin tertawa, termasuk So Yon. So Yon mencubit pipi Jun Su gemas, lalu berkata,

"Baiklah Jun Su oppa sayang..."

Akhirnya Yoo Chun-Hyun Su dan Jun Su-So Yon pun resmi bertunangan. Semua tamu menikmati pesta itu dengan penuh sukacita dan penuh kebahagiaan...

***

(seminggu kemudian)
-Bandara Seoul-

"Oppa.. Kau yakin akan pergi? Kita kan belum sebulan berkumpul.. Masa oppa sudah mau pergi lagi.." Hyun Su menatap Jun Su dengan wajah cemberut. Jun Su tersenyum lalu memegang bahu Hyun Su.

"Hyun Su ya.. Ini demi kebahagiaan oppa.. Oppa juga ingin selalu bersama cinta oppa.. Sama sepertimu dengan Yoo Chun.. Oppa tidak mau kehilangan dia.." jelas Jun Su.

"Jun Su ya... Kau dan So Yon memutuskan untuk menetap sementara di Paris. Sedangkan Yun Ho hyung dan Chang Min akan pergi menemani Jae Joong ke Jepang untuk merintis karirnya sebagai desainer.. Ah, sepertinya kita akan benar-benar kesepian. Benar kan chagi.." ujar Yoo Chun sambil merangkul Hyun Su. Hyun Su mengangguk.

"Tenang saja hyung.. Aku, Jae Joong, Yun Ho juga Chang Min pasti akan sering-sering pulang ke Korea untuk bertemu kalian.." kata Jun Su.

Tak lama datang So Yon.

"Ah, maaf aku terlambat. Apa Jun Su oppa sudah siap?" tanyanya.

"Ya chagi, sudah.. Tunggu Jae Joong, Yun Ho dan Chang Min dulu ya.. Mereka belum datang. Aish kemana mereka itu? Padahal pasawat ke Jepang 10 menitan lagi akan berangkat!"

Dari kejauhan tampak Jae Joong, Yun Ho dan Chang Min terburu-buru sambil terengah-engah. Seperti habis marathon saja..Mereka masing-masing membawa tas yang besar, apalagi Chang Min. "Ah itu mereka," tunjuk Jun Su.

"Ah ini semua gara-gara kau hyung! Lama sekali memasaknya! Jadinya kan kita telat! Untung pesawat berangkat 10 menitan lagi!" gerutu Yun Ho pada Jae Joong.

"Ya, Yun Ho ya! Kenapa kau menyalahkanku? Ini salah Chang Min! Dia sibuk memasukkan makanan berat dan beribu-ribu cemilan ke dalam tasnya itu, besar sekali! Seperti mau pindahan saja!" Jae Joong menyalahkan Chang Min.

"Ya, hyung! Kenapa jadi aku yang disalahkan! Kau kan tahu aku ini tidak bisa hidup tanpa cemilan-cemilanku ini! Lagipula ini kan gara-gara Yun Ho hyung! Dia tadi luluran dulu saat mandi, lama sekali!" Chang Min membela diri.

"Ya, Chang Min a! Kenapa kau menyalahkanku?" Yun Ho menepis.

"Hei! Kalau kalian bertengkar terus, aku akan melarang kalian loh!" gerutu Jae Joong sambil berlalu.

"Ya, hyung.. Jangan gitu dong.. Nanti aku kasih lulur mandi khusus untukmu dehh.." rayu Yun Ho.

"Hyung.. Maaf maaf.. Jangan ngambek gitu dong.. Nanti aku bagi cemilanku deh.. Tapi sedikit saja ya.. Hehe," rayu Chang Min

"Hei kalian! Rayuan kalian itu standar sekali! Lagipula aku heran deh.. Aku kan tidak minta ditemani ke Jepang.. Tapi kenapa kalian ini ngotot sekali ingin ikut?!" tanya Jae Joong.

Yun Ho dan Chang Min saling bertatapan, lalu tertawa dan maenjawab bersamaan, "Kami mau cari pacar!! hahahaha..."

"What?! Cuma buat cari pacar?! Ya Tuhan.. Kasian sekali sahabat-sahabatku ini..." ujar Jae Joong sambil berlalu.

"Hei hyung! Kau juga begitu kan! Di samping jadi desainer, kau juga pasti ingin cari pacar kan?! Hayoo ngaku saja hyung.." goda Yun Ho.

"Mwo?! Ya, kalian! Ahh sudahlah.." Jae Joong terlihat gugup lalu pergi.

"Hahaha..." Yun Ho dan Chang Min tertawa. Jun Su, So Yon, Yoo Chun dan Hyun Su yang menghampiri mereka terlihat heran.

"Kenapa kalian tertawa disini?" tanya Yoo Chun.

"Ah tidak.. Hehehe..." Chang Min dan Yun Ho menahan tawa.

"Hei ayo cepat! Kalau tidak aku akan menendang kalian ke rumah dan tidak boleh ikut bersamaku!" ancam Jae Joong pada Yun Ho dan Chang Min.

"Ah ya.. Baik baik..."

"Kita pamit ya.." ujar Jae Joong pada Yoo Chun dan Hyun Su, lalu memeluk mereka, diikuti yang lain.

"Kita juga ya.. Pesawat kami juga sebentar lagi berangkat.." kata Jun Su.

"Baiklah.. Jaga diri kalian baik-baik ya.. Jangan lupa untuk sering-sering pulang ke Korea ya.. Kami akan sangat merindukan kalian.." kata Hyun Su. Yoo Chun mengangguk. "Jangan lupa kabari kami ya kalau kalian sudah sampai Jepang dan Paris.."

"Ya, baiklah.. Sampai jumpa.."

"Selamat tinggal..."

"Bye.."

Akhirnya mereka pun berpisah. Yoo Chun dan Hyun Su menetap di Korea. Jun Su dan So Yon memutuskan untuk tinggal sementara di Paris. Sedangkan Jae Joong, Yun Ho dan Chang Min pergi ke Jepang untuk berkelana mencari cinta disana...

[END]

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 8

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

----------------------------------------------------------------

(malam sebelum acara pertunangan)

Hyun Su dan Yoo Chun sedang duduk di taman kecil di halaman rumah Hyun Su. Mereka sudah tidak sabar menunggu tunangan mereka besok.

“Chagi ya…”

“Ya oppa..”

Yoo Chun menggenggam tangan Hyun Su erat. “Akhirnya besok kita tunangan juga ya..”

Hyun Su menatap Yoo Chun lalu tersenyum, “Ya oppa.. Aku bahagia sekali..”

“Oppa juga, chagi..” Yoo Chun merangkul Hyun Su erat. “Oh ya, chagi…”

“Ya? Kenapa oppa?” Tanya Hyun Su.

“Kemarin-kemarin oppa melihat Yun Ho hyung memelukmu loh…” kata Yoo Chun jujur.

“Eh?” Hyun Su terlihat kaget. “Ah, itu… Yun Ho oppa bilang itu untuk yang terakhir kalinya, oppa..” lanjutnya terbata-bata.

“Hahaha,” Yoo Chun tertawa sambil mengelus rambut Hyun Su. “Arasseo chagi ya… Tenang saja, oppa tidak cemburu kok.. Oppa mengerti.. Kau tidak usah khawatir.. Yang penting kan besok kau sudah jadi milik oppa.. Jadi Yun Ho hyung tidak bisa macam-macam lagi..”

“Oppa!” Hyun Su mencubit pipi Yoo Chun gemas. Yoo Chun hanya tertawa lalu memeluk Hyun Su erat. “Saranghae, Hyun Su ya..”

Hyun Su tersenyum lalu menjawab, “Na do saranghae, oppa..”

Tiba-tiba seseorang mengganggu kemesraan mereka.

“Hyun Su ya!”

Yoo Chun dan Hyun Su melepas pelukan mereka, lalu menoleh ke arah sumber suara di belakang.

“Jun Su oppa!” Hyun Su cemberut.

“ Ya, Jun Su ya! Kau ini mengganggu saja,” Yoo Chun tidak kalah cemberut.

“Ah ya maaf maaf hyung.. Tapi aku ada perlu sebentar dengan Hyun Su..” kata Jun Su dengan wajah memlas.

“Aku? Memang ada apa, oppa??” Tanya Hyun Su heran. Jun Su langsung duduk di sebelah Hyun Su.

“Ahh, itu.. Hyun Su ya.. Apa besok.. Besok.. emh..” Jun Su terbata-bata.

“Besok hari pertunanganku,oppa!” Hyun Su memotong kata-kata Jun Su.

“Ah bukan itu! Kalau itu tentu saja ku tahu!”

“Lalu apa?”

“Ah itu,” Jun Su menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa besok So Yon akan datang?”

“So Yon?” Hyun Su terlihat heran. “Aku tidak tahu.. Tapi dia sudah janji akan datang.. Kurasa dia akan datang besok,” jawab Hyun Su. Jun Su tertunduk lemas.

“Hei Jun Su ya! Sepertinya kau sudah jatuh cinta pada So Yon ya?” Tanya Yoo Chun.

“Mwo? Kenapa hyung bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” Jun Su menaikkan alisnya.

“Tentu saja! Kau sadar tidak sih? Kau itu selalu menanyakan So Yon hampir setiap hari,” jawab Yoo Chun.

“Eh?” Jun Su mengernyitkan dahinya dan berpikir. “Apa aku seperti itu ya? Oh my God Sun…”

“Hei, memangnya hyung tahu siapa So Yon?” Jun Su berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja. Dia kan model juga. Dia juga teman dekat Hyun Su, mana mungkin aku tidak mengenalnya!” jawab Yoo Chun.

“Oppa..” kata Hyun Su sambil merangkul Jun Su. “Kau mencintainya?” tanyanya serius.

Jun Su menunduk terdiam sejenak. Lalu berkata, “Oppa tidak tahu Hyun Su ya.. Tapi semenjak kejadian itu, entah kenapa oppa jadi selalu memikirkannya. Oppa sendiri tidak mengerti..”

“Oh, kejadian saat oppa memeluk So Yon ya? Aku tahu kok. So Yon kan cerita padaku,” ujar Hyun Su.

“Ahh, dia itu! Kenapa menceritakan hal memalukan seperti itu..” Jun Su menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hyun Su tersenyum dan mempererat rangkulannya. “Oppa.. Aku rasa kau dan So Yon saling mencintai..”

“Eh?” Jun Su mengalihkan pandangannya pada Hyun Su.

“Ya. Perasaan yang oppa rasakan sekarang ini sama persis dengan So Yon. Setelah kejadian itu, So Yon juga jadi uring-uringan dan selalu memikirkan oppa, sama dengan oppa sekarang.. Oppa, berjuanglah. Aku yakin kalian ditakdirkan untuk bersama..” ujar Hyun Su tersenyum.

“Hyun Su ya..” Jun Su pun akhirnya menyadarinya.. “Ya, aku sudah mencintai So Yon..” batinnya.

“Berjuanglah Jun Su ya.. Aku juga mendukungmu,” ujar Yoo Chun tersenyum. “Kau harus bisa mendapatkannya dan bisa bersama seperti kami,” lanjutnya sambil merangkul Hyun Su.

“Hyung…”

“Ah baiklah. Aku coba hubungi So Yon ya. Aku harus meyakinkannya kembali supaya datang besok,” Hyun Su lalu mengeluarkan hp dari sakunya, mencari nomor So Yon lalu menelponnya.



Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan ulangi beberapa saat lagi. Atau tinggalkan pesan setelah nada berikut

“So Yon a! Kenapa hp-mu tidak aktif? Aku hanya ingin mengingatkan.. Besok jangan lupa datang ke pesta pertunanganku ya..” Setelah meninggalkan pesan, Hyun Su pun menutup flip hp-nya.

“Tidak aktif ya..” desah Jun Su.

“Iya.. sudah beberapa hari ini hp-nya tidak aktif.. Aneh sekali..” jawab Hyun Su. “Tapi oppa tenang saja, besok dia pasti datang..”

“Ya, mudah-mudahan saja dia datang..” harap Jun Su.

***

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Hari pertunangan antara Yoo Chun dan Hyun Su. Pesta yang sederhana ini diadakan di rumah Hyun Su. Tamu yang diundang pun hanya keluarga dekat saja.
Sudah sejak pagi mereka bersiap-siap. Padahal acara baru dimulai pukul 11 siang nanti.

Jun Su terlihat mondar mandir di belakang Hyun Su yang sedang make up di kamar umma. Melihat tingkah oppa-nya itu, Hyun Su menggerutu. “Ya, oppa! Kenapa kau mondar mandir begitu? Aku pusing lihatnya..”

“Hyun Su ya, apa kau yakin So Yon akan datang?” tanya Jun Su memastikan.

“Oh, So Yon.. Dia bilang sih dia pasti datang. Oppa tunggu saja, dia pasti datang.”

“Ah tapi kenapa perasaanku tidak enak..” gumam Jun Su. Tiba-tiba Chang Min datang.

“Hyun Su ya! Hp-mu berdering dari tadi tuh, sepertinya ada sms penting..”

“Benarkah? Oh ya aku lupa tadi aku meninggalkannya di kamar. Bisa tolong ambilkan, Chang Min oppa? Hehe,” pinta Hyun Su.

“Ya ba…” kata-kata ChangMin langsung saja dipotong oleh Jun Su. “Ah biar aku saja yang ambil! Chang Min a, kau temani adikku saja disini ya!” Tanpa menunggu jawaban ChangMin, Jun Su langsung saja keluar kamar. “Mungkin itu sms dari So Yon. Astaga kenapa aku bisa sekhawatir ini padanya..” batin Jun Su.

“Kenapa Jun Su hyung? Semangat sekali, padahal cuma mengambil hp saja..” ujar Chang Min menggerutu.

“Hahaha.. Jun Su oppa sedang jatuh cinta.. Sudahlah biarkan saja, oppa..” Hyun Su tertawa.

“Eh? Jatuh cinta? Sama siapa? Kenapa dia tidak cerita padaku?” protes Chang Min.

“Dengan teman modelku. Ah panjang ceritanya oppa, kau juga nanti akan tahu hehe,”

Chang Min hanya bengong mendengar penjelasan Hyun Su yang sangat singkat tapi juga tidak membuat rasa penasarannya hilang.

***

Dengan langkah terburu-buru, Jun Su masuk ke kamar rias Hyun Su, membuat seisi kamar kaget. Jun Su menyambar jasnya lalu menghampiri Hyun Su sebentar.

“Hyun Su ya, ini hp-mu! Maaf oppa harus pergi sekarang. Oppa usahakan oppa akan kembali sebelum pestamu dimulai,” Jun Su langsung pergi dengan langkah setengah berlari, membuat yang lain heran.

Merasa ada yang aneh, Hyun Su langsung memeriksa hp-nya. Ada sms dari So Yon disana.

“Hyun Su ya.. Mianhae.. Sepertinya aku tidak bisa datang ke pesta pertunanganmu. Aku harus pindah ke Paris dan tinggal bersama saudara-saudaraku disana. Dan mungkin aku tidak akan kembali lagi ke Korea. Aku berangkat hari ini dengan pesawat pukul 10 pagi. Maaf aku baru memberitahumu sekarang. Oh ya, selamat ya atas pertunanganmu. Semoga kau bahagia dengan Yoo Chun oppa. Sampaikan salamku juga pada Jun Su ya.. Kurasa kau benar, Hyun Su ya.. Ternyata aku mencintainya..”

“Astaga…” lirih Hyun Su.

***

Jun Su menambah kecepatan mobilnya. Sudah jam 09.45 sekarang. Aku harus menahan So Yon pergi, batinnya.

Sesampainya di bandara Seoul, Jun Su berlari masuk dan mencari sosok So Yon.

“So Yon a! So Yon a!” teriak Jun Su. Dia sudah tidak peduli pandangan orang-orang yang memperhatikannya. Dia terus memanggil nama So Yon.

***

So Yon memeriksa paspornya sekali lagi. Dia menghela napas panjang. Dia sudah memutuskan untuk pergi dari Korea, meninggalkan kenangan bersama orang tua dan teman-temannya, juga meninggalkan Jun Su.

Ya, Jun Su. Kim Jun Su.

Entah sejak kapan perasaan itu muncul, namun So Yon sadar ternyata dia sudah mencintai pria itu. Berat rasanya meninggalkan Jun Su. Namun ini harus dilakukannya. Ia tidak mau merasakan sakit hati karena cinta, sama seperti saat dia harus kehilangan Yoo Chun yang ternyata calon tunangan Hyun Su. Ia juga masih tidak berani bertemu Jun Su karena kejadian ‘pelukan’ itu. Lagipula saudaranya di Paris menjanjikan So Yon bisa masuk agen model terkenal kalau ia tinggal disana. Karena itulah dengan berat hati, ia memutuskan untuk pindah ke Paris.

Para penumpang dengan keberangkatan menuju Paris dimohon untuk bersiap-siap memasuki pesawat karena pesawat akan segera diberangkatkan

So Yon berdiri dari tempat duduknya dan bersiap-siap pergi. Dia berjalan menuju petugas pemeriksa. Sejenak ia menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memanggilnya. Tapi tidak ada seseorang yang ia kenal disana.

“Yosh, ini waktunya pergi So Yon a. Selamat tinggal Korea.. Selamat tinggal teman-teman.. Selamat tinggal Jun Su..” batinnya. Dia pun berbalik dan kembali melangkah pergi..

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 7

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya Jun Su sudah bersiap-siap. Hyun Su akan menjemputnya pulang hari ini. Ya, pulang ke rumah barunya. Kembali berkumpul bersama keluarganya setelah 3 tahun berpisah. Ini adalah saat yang sangat dinanti oleh Jun Su.

Tak lama Hyun Su pun datang bersama Yoo Chun. Jun Su menyambut adik dan sahabatnya itu dengan penuh sukacita.

“Jun Su ya! Kau ini kemana saja, aku benar-benar merindukanmu!” kata Yoo Chun sambil merangkul Jun Su. Jun Su hanya tersenyum. “Hei hyung, bahagiakan adikku ya! Kalau tidak kau akan mati di tanganku hahaha,” canda Jun Su.

“Ya, Jun Su ya! Kemarin-kemarin Jae Joong yang bilang begitu, sekarang kau! Hahaha tenang saja, Hyun Su pasti bahagia bersamaku,” jawab Yoo Chun tertawa.

“Hei oppa! Bantu donk berat nih,” Hyun Su yang sejak tadi sibuk membawa barang-barang Jun Su ke mobil mulai menggerutu.

“Aduh chagi, kau ini jangan bawa yang berat-berat donk. Jun Su ya! Bawa sendiri donk barangmu! Kan kasian Hyun Su-ku!” kata Yoo Chun sambil mengarahkan pandangan tajamnya pada Jun Su. Jun Su tertawa.

“Oh my God Son.. Hahaha arasseo.. Baiklah baiklah..” Jun Su pun membawa barang-barangnya. Hyun Su dan Yoo Chun hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Jun Su.

“Ternyata Oh my God Sun-mu itu masih melekat ya sejak dulu haha,” Yoo Chun tertawa.

“Tentu saja hyung! Itu kan ciri khasku.. OH MY GOD SON,” kata Jun Su dengan wajah serius, lalu tertawa.

“Hahaha,” semua tertawa. Hyun Su tersenyum geli melihat kedua sahabat itu. Tuhan, terima kasih Kau sudah mengembalikan semuanya seperti dulu, gumam Hyun Su.

“Hyung, bagaimana kabar Jae Joong, Chang Min dan Yun Ho??” Tanya Jun Su sambil memasukkan barangnya ke dalam mobil Yoo Chun.

“Sudahlah nanti saja aku ceritakan tentang mereka! Pokoknya kau harus cepat! Ayo kita berangkat!”

Yoo Chun menarik Jun Su masuk ke dalam mobil. Hyun Su pun ikut masuk ke dalam mobil.

“Ya! Kenapa buru-buru begitu?” Tanya Jun Su.

“Sudahlah oppa nurut saja.. Hehe” Hyun Su tersenyum pada Jun Su. “Ayo jalan, Chun oppa!! Kecepatan penuuuuh!!” kata Hyun Su semangat sambil meniru gaya superhero yang siap siap terbang ke langit.

“Hahaha kalian ini ada ada saja,” Jun Su yang duduk di kursi belakang tertawa geli.

Tiba-tiba saja ia teringat So Yon..

“Hyun Su ya….”

“Ya??” Hyun Su menoleh ke belakang. “Ada apa oppa??”

“Ah itu,” Jun Su terbata-bata. “Kemarin.. Apa So Yon tidak apa-apa?” Tanya Jun Su akhirnya.

“Oh.. Ya dia tidak apa-apa. Kemarin aku mengantarnya pulang, jadi oppa tenang saja.” Jawab Hyun Su santai.

“Oh, syukurlah kalau begitu.” Jun Su menghela napas.

“Hei oppa, kenapa kau menanyakan So Yon? Oppa menyukainya ya?” goda Hyun Su. Jun Su terlihat salah tingkah.

“Ah, itu…” Jun Su terlihat salah tingkah. “Tentu saja tidak! Mana mungkin aku bisa suka pada orang galak seperti dia!”

“Benarkah?” Tanya Hyun Su, menatap Jun Su tajam.

“Hei dongsaengie! Kenapa kau melihatku seperti itu? Ya, ten..tentu saja!” jawab Jun Su sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia semakin salah tingkah.

“Tapi kenapa muka oppa jadi merah begitu?” Hyun Su semakin memperdalam tatapannya pada Jun Su. Jun Su semakin terpojok.

“Ya, Hyun Su ya! Kau ini jangan bertanya yang aneh aneh! Sudah ah, oppa mau tidur! Oppa capek!” Jun Su membalikkan tubuhnya, menyender di kursi mobil yang empuk. Dia menenggelamkan kepalanya dengan kedua tangannya, menutup wajahnya yang mungkin sudah mendidih saking malunya. Oh my God Son, gumamnya.

Hyun Su tersenyum geli melihat tingkah laku oppa-nya itu. Dia menggelengkan kepalanya lalu kembali melihat ke depan. Dia berbisik pada Chun oppa yang sejak tadi tidak kuat menahan tawa, “Oppa, ternyata benar.. Dia sedang jatuh cinta..” Tawa Yoo Chun pun meledak.

“Bwahahahahahaha,”

Tetapi tawa itu tidak berlangsung lama…

“Awww,” teriak Yoo Chun kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya. Rupanya Jun Su menjitak Yoo Chun dari belakang tadi.

“Jun Su ya! Sakit tahu! Aku kan cuma becanda…” protes Yoo Chun.

“Ah tidak bisa! Hyung sudah mengganggu tidurku barusan!” jawab Jun Su tidak mau kalah.
“Hahahaha, oppa sudahlah. Kalian ini bercanda terus sih, hahaha,” Hyun Su tertawa melihat sikap kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu. Suasana di dalam mobil dipenuhi canda tawa sepanjang perjalanan.

***

Satu jam kemudian mereka sampai di rumah keluarga Hyun Su yang baru. Jun Su turun dari mobilnya dan menatap rumah barunya itu. Rumah yang besar namun sederhana, tidak terlihat mewah namun terasa nyaman dengan taman kecil di halaman rumahnya. Penuh dengan dedaunan hijau yang segar. Sesaat Jun Su memejamkan matanya, merasakan udara segar disana. Dia sangat merindukan suasana ini. Berkumpul kembali dengan keluarganya dengan penuh canda tawa. Rasanya ia tidak sabar untuk segera bertemu orang tuanya dan semua sahabatnya.

“Ayo masuk oppa,” gandeng Hyun Su pada Jun Su.

“Ayo Jun Su ya!” Yoo Chun ikut menggandeng tangan Jun Su yang satunya lagi.

“Ya ya.. Tapi kok sepi ya? Kenapa tidak ada yang menyambutku pulang? Apa kau belum memberi tahu umma, appa dan teman-temanku, Hyun Su a??” Tanya Jun Su heran.

“Ah kau ini cerewet sekali. Ayo masuk sajalah,” Yoo Chun segera menarik Jun Su masuk. Hyun Su hanya tersenyum.

Pintu rumah dibuka. Keadaan rumah benar-benar sepi. Sebenarnya ada orang atau tidak sih di rumah ini?? Batin Jun Su.

Tiba-tiba…

Tar.. Tar.. Pesta kejutan pun dimulai.

“Surprise!! Selamat datang Kim Jun Su!!” Orang tua dan sahabat-sahabat Jun Su keluar dari persembunyian mereka dan segera berhamburan memeluk Jun Su.

“Umma! Appa!” Jun Su terlebih dulu memeluk orang tuanya. “Aku sangat merindukan kalian,”

“Kami juga merindukanmu Jun Su ya.. Mulai sekarang kita akan selalu berkumpul ya.. Jangan terpisah lagi..” jawab umma-nya Jun Su sambil terisak di pelukan Jun Su.

“Ia umma.. Aku janji..”

“Jun Su ya! Kau tidak merindukan kami ya??” seseorang kembali menyadarkan Jun Su. Sepertinya suara itu tidak asing lagi. Jun Su melepas pelukan orang tuanya. Matanya berputar mencari arah sumber suara.

“Jae Joong hyung! Yun Ho hyung! Chang Min a!” melihat sahabat-sahabatnya ada di sana Jun Su langsung saja memeluk mereka.

“Akhirnya kau kembali hyung! Kami benar-benar merindukanmu..” kata Chang Min.

“Benar Jun Su ya! Kami semua sangat merindukanmu,” timpal Yun Ho.

“Chang Min a.. Yun Ho hyung.. Aku juga merindukan kalian..” balas Jun Su. Tanpa sadar air matanya mulai keluar.

“Ya!” seseorang memukul kepala Jun Su, keras sekali.

“Aww,” Jun Su mencari sumber pukulan. “Ya, Jae Joong hyung! Kenapa kau memukulku?? Sakit tahu..”

“Kau ini!” Jae Joong bersiap-siap memukul Jun Su untuk yang kedua kalinya, tapi Jun Su keburu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Kenapa kau menangis begitu? Aku kan tidak pernah mengajarimu begitu?!” gerutu Jae Joong dengan dengan wajah serius, membuat Jun Su ketakutan. “Hyung…” Air mata Jun Su kembali keluar.

“Ya! Kau menangis lagi!” Jae Joong kembali memukul Jun Su.

“Hyung…” wajah Jun Su semakin memelas.

“Hahaha,” tiba-tiba saja Jae Joong tertawa.

“Ya, hyung!” menyadari dirinya sedang dikerjai oleh Jae Joong, Jun Su langsung saja berlari mengejar Jae Joong yang sudah lari entah kemana. “Hyung! Tunggu kau!”

“Hahaha,” seisi rumah tertawa geli melihat ‘aksi kejar-kejaran’ itu.

Akhirnya keluarga ini sudah kembali, batin Hyun Su.

***

(malam harinya)

Hyun Su sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga. Orang tuanya sedang pergi berbelanja untuk mengadakan pesta kepulangan Jun Su besok. Sementara oppa-nya bersama teman-temannya yang lain sedang berkumpul di kamar Jun Su, melepas kerinduan mereka selama tiga tahun tidak bertemu.

Tiba-tiba seseorang duduk di samping Hyun Su.

“Hyunnie ya.. Kau sedang menonton apa?” Tanya orang itu kemudian. Hyun Su tersadar. Hanya ‘dia’ yang selalu memanggilnya Hyunnie. Hyun Su menoleh ke arah sumber suara di sampingnya, ternyata benar, ‘dia’ ada di samping Hyun Su sekarang. Ia lalu tersenyum.

“Yun Ho oppa..”

Yun Ho tersenyum.

“Kenapa oppa disini? Tidak berkumpul dengan yang lain?” Tanya Hyun Su.

“Ah, mereka semua sudah tertidur. Tadi mereka bilang mau begadang, eh malah tidur semua. Lagipula oppa belum mengantuk, jadi oppa memutuskan untuk nonton tv saja. Ternyata kau juga ada disini.. Ngomong-ngomong, kenapa kau belum tidur? Ini kan sudah malam Hyunnie ya..”

Hyun Su tersenyum. “Filmnya lagi seru oppa, hehehe.” Matanya kembali tertuju pada tv di hadapannya.
“Memangnya film apa?” Tanya Yun Ho penasaran.

“Full House,” jawab Hyun Su singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.

“Oh Full House. Ah ya, kau kan sejak dulu memang sangat suka film itu,” Yun Ho tersenyum. Hyun Su menoleh pada Yun Ho.

“Oppa.. Ternyata kau masih ingat..” lirihnya.

“Tentu saja. Mana mungkin oppa bisa melupakannya. Kita kan dulu sering menontonnya bersama. Walaupun selalu diulang-ulang, tapi tidak membosankan.” Kenang Yun Ho, tersenyum.

Ya, empat tahun lalu Hyun Su dan Yun Ho adalah pasangan kekasih. Namun mereka memutuskan untuk berpisah karena Yun Ho harus meneruskan kuliahnya di Amerika selama tiga tahun. Selama Yun Ho pergi, Hyun Su selalu ditemani oleh Yoo Chun. Setiap saat Yoo Chun selalu ada di samping Hyun Su. Menghiburnya saat sedih, menemaninya, menjaganya, dan memberinya perhatian lebih. Sampai akhirnya mereka saling menyukai dan memutuskan untuk berpacaran. Yoo Chun sempat meminta izin pada Yun Ho dan Yun Ho tidak keberatan. Karena ia tahu Yoo Chun orang yang setia dan ia yakin Yoo Chun bisa menjaga Hyun Su dengan baik.

“Oppa..” Hyun Su menatap Yun Ho dalam-dalam. Yun Ho tersenyum. “Aku tidak akan mungkin dan tidak akan pernah lupa dengan semua kenangan kita, sekalipun kau bukan milikku lagi sekarang. Tapi aku bahagia kau bersama Yoo Chun. Aku percaya padanya, dia pasti bisa membahagiakanmu, Hyunnie ya..”

“Lalu kenapa oppa tidak cari pacar sampai sekarang?” tanya Hyun Su.

“Oppa belum siap. Oppa masih ingin sendiri. Jomblo itu enak lho, hehe” Yun Ho terkekeh-kekeh. Hyun Su tertawa. “Oppa..”

Mereka pun tertuju kembali pada tv di hadapan mereka. Tak lama..

“Hyunnie ya..” lirih Yun Ho.

“Ya, oppa?” Hyun Su melirik Yun Ho.

“Boleh aku meminta satu hal padamu? Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, sebelum kau bertunangan dengan Yoo Chun..” ucap Yun Ho memelas.

“Hmm.. Baiklah. Kau ingin apa oppa?” tanya Hyun Su.

“Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?”

“Eh?” Hyun Su terlihat kaget. Perlahan ia mendesah, lalu akhirnya mengangguk pelan.

Tanpa ragu Yun Ho langsung saja memeluk Hyun Su. Erat sekali. Tanpa mereka sadari, Yoo Chun melihatnya dari jauh. Dia tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 6

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

----------------------------------------------------------------

“Ah ya, aku jadi ingat. Kau bilang kau kan pinjam sepatu untukku dari si OB itu ya? Mana sepatunya? Aku ingin lihat,” Hyun Su terlihat bersemangat. So Yon menghapus air matanya dan mulai tersenyum.

“Kau ini, bersemangat sekali dengan sepatu ini,” ujar So Yon sambil mengambil kotak sepatu disampingnya dan menyerahkannya pada Hyun Su.

“Tentu saja. Ini kan sepatu untuk acara pertunanganku. Lagipula kau bilang modelnya bagus kan, makanya aku penasaran, sebagus apa sih.. Hehe,” Hyun Su mengambil kotak sepatu itu dari tangan So Yon. “Aku lihat ya,” So Yon mengangguk.

Perlahan Hyun Su membuka kotak sepatu itu. Dia terlihat kaget saat melihat isi kotak itu.

“Ah, ini!” katanya sedikit berteriak, membuat So Yon kaget.

“Aduh kenapa berteriak begitu??” So Yon kebingungan melihat wajah Hyun Su yang tercengang.

Hyun Su mengeluarkan sepatu itu dari kotaknya, melihatnya dengan seksama dan teliti, “Ah ternyata benar! So Yon a, kau bilang ini dapat dari si OB itu ya?!” tanyanya mulai panik.

“Ah, iya.. memangnya kenapa?” Tanya So Yon heran.

“Ya! Cepat antarkan aku ke rumahnya sekarang juga!” tanpa basa-basi Hyun Su langsung menarik tangan So Yon.

“Mwo? Sekarang? Hei tunggu! Ada apa ini?! Hyun Su ya!!”

***

Jun Su merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang tidak terlalu empuk. Matanya terpejam, tapi tidak tidur. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian barusan, sekitar satu jam yang lalu. Kejadian antara dirinya dengan So Yon. Kejadian saat dia menarik tangan So Yon dan entah kenapa tangannya itu malah menarik So Yon ke pelukannya. Oh My God Sun, sepertinya aku sudah gila, gumamnya.

Tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk berulang kali. Jun Su pun membuka kedua matanya, mencari kesadaran dari alam pikirannya. Dia keheranan, lalu melihat jam dinding di kamarnya. “Sudah hampir jam sebelas malam begini, siapa yang datang?” gerutunya. Jun Su pun bergegas menuju pintu.

Perlahan ia membuka pintunya. Sudah ada dalam benaknya untuk memarahi tamu ini karena datang malam-malam buta saat dia ingin istirahat. Namun ia terkejut melihat siapa yang datang.

“Hyun Su ya!”

“Oppa!”

***

So Yon terlihat berat untuk melangkahkan kakinya masuk ke rumah Jun Su. Namun mau bagaimana lagi, Hyun Su menariknya sejak tadi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut pada temanya itu yang terlihat tergesa-gesa.

Hyun Su mengetuk pintu rumah Jun Su dengan ketidaksabaran tinggi, membuat So Yon kebingungan.

“Hyun Su ya! Kau ini kenapa? Apa kau begitu penasaran pada si OB itu sampai-sampai kau tidak sabar untuk bertemu dengannya?” Tanya So Yon. Namun Hyun Su tidak menjawab. Kecemasan dan ekspresi penasaran muncul dari wajahnya.

Tak lama pintu pun terbuka. So Yon bersembunyi dibalik Hyun Su. Ia masih malu untuk bertemu dengan Jun Su gara-gara kejadian tadi.

“Hyun Su ya!”

“Oppa!”

Tanpa pikir panjang Hyun Su langsung memeluk Jun Su, begitu pula Jun Su. So Yon terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat di depan matanya. “Oppa??? Sebenarnya ada apa ini???” teriaknya dalam hati.

“Oppa, akhirnya aku menemukanmu.. Bogoshipo Oppa.. Aku merindukanmu..” tangis Hyun Su dalam pelukan Jun Su.

“Aku juga merindukanmu Hyun Su ya..” Jun Su pun mulai menangis. Lalu perlahan melepas pelukannya.

“Oppa, bagaimana kabarmu? Kenapa oppa tampak kurus begini? Dan lagi, kenapa oppa tinggal di tempat seperti ini? Kenapa selama ini oppa tidak pulang atau sekedar memberi kabar? Apa oppa tahu semuanya cemas memikirkan oppa?? KENAPA…” tangis Hyun Su semakin menjadi. Jun Su kembali memeluk Hyun Su.

“Mianhae Hyun Su ya.. Jeongmal mianhae.. Oppa benar-benar minta maaf.. Masuklah dulu, oppa akan ceritakan semuanya..” kata Jun Su sambil membawa Hyun Su masuk. Ia melirik So Yon, “kau juga, masuklah..”

“Tapi, apa yang terjadi? Sebenarnya ada apa? Aku tidak mengerti, Jun Su a..” Tanya So Yon heran.

Jun Su menoleh pada So Yon lalu berkata, “Hyun Su ini adikku. Adik kandungku,”

“Apa? Adik kandung? Jadi kalian? Omo.. Tapi, kenapa bisa?” So Yon semakin heran.

“Sudahlah kau masuk dulu saja. Kau akan tahu semuanya nanti,” kata Jun Su lalu masuk ke dalam. Mau tak mau So Yon pun mengikutinya masuk.

Mereka pun duduk di sofa kecil. So Yon duduk di samping Hyun Su, sedangkan Hyun Su duduk di samping Jun Su.

“Jadi jelaskan padaku oppa, kemana saja kau selama ini?” Tanya Hyun Su masih menangis. Jun Su mulai bercerita,

“Hyun Su ya.. Semenjak nuna meninggal, kau tahu?? Oppa sangat terpukul. Oppa tidak tahu harus bagaimana. Rasanya hidup oppa hancur bila nuna tidak ada. Kau tahu kan oppa sangat menyayangi nuna melebihi diri oppa sendiri. Setiap saat, sejak kecil, oppa selalu bersama nuna. Dan saat kau lahir, kita selalu bertiga. Tapi kecelakaan itu membuat oppa tidak bisa berpikir. Akhirnya selesai pemakaman, oppa pergi untuk menenangkan diri. Oppa merenung di taman dan terus menangis. Air mata oppa tidak bisa berhenti. Malam harinya saat oppa pulang, saat oppa sampai di depan rumah, oppa kembali teringat nuna dan menangis. Oppa pun pergi lagi dan berpikir untuk kembali lagi besoknya, mungkin oppa bisa lebih tenang. Tapi ternyata oppa salah. Setiap oppa pulang, oppa selalu ingat nuna dan air mata oppa selalu keluar. Oppa tidak kuat. Terlalu banyak kenangan bersama nuna di rumah. Dan kenangan itu akan membuat oppa tidak bisa melupakan nuna, bahkan sampai sekarang. Jauh dari rumah saja oppa masih terus ingat nuna, apalagi kalau oppa tinggal di rumah. Karena itulah oppa memutuskan untuk pergi..” cerita Jun Su.

“Tapi oppa kan masih punya aku! Kenapa oppa meninggalkan aku?” Tanya Hyun Su. Tangisnya semakin menjadi.

Jun Su mengelus rambut adiknya itu dengan penuh kasih sayang. “Hyun Su ya. Kalau soal itu oppa benar-benar minta maaf. Oppa tidak punya maksud untuk meninggalkanmu. Oppa sangat ingin bertemu denganmu. Seminggu setelah kejadian itu oppa selalu menunggumu di tempat yang biasa kau lewati kalau pergi ke sekolah, tak jauh dari rumah. Tapi oppa tidak pernah melihatmu lagi. Karena penasaran, oppa bertanya pada orang yang ada di sekitar sana. Dan mereka bilang gadis manis itu sudah pindah bersama keluarganya entah kemana. Kau tahu? Saat itu hati oppa hancur untuk yang kedua kalinya. Oppa seperti kehilangan dua orang yang sangat oppa sayangi sekaligus. Oppa berusaha mencari alamat barumu, tapi oppa tidak pernah menemukannya. Akhirnya oppa pun hidup sendiri seperti sekarang.”

“Oppa…” Hyun Su memeluk oppa-nya itu dan kembali menangis.

“Hyun Su ya, maafkan oppa ya.. “ Hyun Su mengangguk pelan.

“Oh ya oppa,” Hyun Su melepas pelukannya dan mengeluarkan sepatu yang ada di kotak. “Sepatu ini kenapa bisa ada di tangan kakak? Ini kan sepatu kesayangan onni?”

“Oh itu…” Jun Su mendesah, “Pagi hari sebelum kecelakaan yang menimpa nuna terjadi, nuna datang menemui oppa. Dia memberikan sepatu ini pada oppa dan berpesan agar oppa bisa menjaga sepatu ini selama nuna pergi bertugas. Yah, tapi oppa benar-benar tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir oppa dengan nuna. Karena itulah sepatu ini selalu oppa jaga dan selalu oppa bawa kemanapun oppa pergi..” jelas Jun Su. “Eh tunggu Hyun Su ya. Kenapa sepatu ini bisa ada di tanganmu sekarang? Tadi kan oppa pinjamkan ke So Yon untuk temannya yang akan bertunangan… Tunggu dulu!! Apa yang bertunangan itu…..” Jun Su menatap adiknya.

“Ya, oppa. So Yon memang meminjamkan sepatu ini untukku. Aku akan bertunangan minggu depan. Dan saat aku melihat sepatu ini, aku langsung ingat onni dan juga oppa. Karena itu aku meminta So Yon untuk menemui pemilik sepatu ini. Dan ternyata itu oppa. Aku benar-benar senang, oppa…” Hyun menghapus sisa air matanya dan tersenyum.

“Ah, begitu rupanya. Ngomong-ngomong, dengan siapa kau akan bertunangan?” Tanya Jun Su.

“Dengan Yoo Chun oppa,” jawab Hyun Su senang.

“Eh? Yoo Chun? Sahabatku itu?” Jun Su terlihat kaget, lalu tersenyum. “Wah selamat ya.. Akhirnya kalian bertunangan juga. Hei, tunggu dulu! Kau mendahului oppa, itu kan tidak boleh!” canda Jun Su.
“Oppa.. Suruh siapa menghilang, jadi aku duluan deh.. Hehehe,” tawa Hyun Su. Akhirnya suasana sedih pun berubah jadi canda tawa.

“Ah aku senang sekali hari ini. Ini semua berkat So Yon. Terima kasih ya So Yon a!” ujar Jun Su tersenyum sambil melirik So Yon. Namun So Yon hanya tertunduk. Bahunya terguncang perlahan.

“So Yon a, kau menangis?” Jun Su dan Hyun Su terlihat khawatir. “Kau kenapa?” Tanya Hyun Su sambil merangkul So Yon.

So Yon menghapus air matanya perlahan, “Aniya Hyun Su a. Aku hanya terharu mendengar kisah kalian tadi. Aku sempat kaget saat tahu kalian ternyata adalah kakak adik. Oh ya, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya kakakmu. Yah mungkin ini terlambat, tapi aku tetap harus berbela sungkawa. Karena bagaimana pun aku pernah memakai sepatu kakakmu. Sepatu itu kan kenangan kakakmu..”

“Terima kasih So Yon a…” Jun Su tersenyum, membuat So Yon salah tingkah. Ia pun mengangguk.

“Ah ya, sepatu ini. Kita ditakdirkan bertemu karena sepatu ini. Hebat ya! Mungkin Tuhan dan juga nuna memang sengaja menitipkan sepatu ini agar kita semua bisa bertemu. Benar kan oppa?? So Yon??” ujar Hyun Su semangat. So Yon dan Jun Su hanya mengangguk lalu tersenyum.

Hyun Su memperhatikan sepatu yang ada dalam genggamannya, lalu ia teringat sesuatu, “Hei, tunggu dulu! So Yon a! Kau bilang di taman tadi, yang membuatmu murung tadi itu… Karena dipeluk tiba-tiba… Lalu membuatmu jadi tidak karuan... Itu karena si OB yang meminjamkan sepatu… Astaga! Jadi orang yang kau maksud itu??!!!!!” Hyun Su akhirnya menyadari bahwa orang yang membuat temannya tadi murung begitu -bahkan mungkin telah membuatnya jatuh cinta-, ternyata adalah Kim Jun Su?? Oppa-nya??

Jun Su langsung mengalihkan pandangannya pada So Yon dengan muka merah. Begitu juga So Yon. Wajahnya bahkan lebih merah dari kepiting rebus saking malunya. Mereka pun saling bertatapan. Hyun Su hanya memandang mereka bergantian. So Yon yang terlihat salah tingkah langsung saja berdiri sambil tertunduk untuk menyembunyikan muka merahnya. “Ah maaf, sudah malam. Aku permisi dulu. Maaf mengganggu,” So Yon pun pergi. Jun Su hanya bengong.

“Ya So Yon a!” teriak Hyun Su. “Ah oppa, maaf ya. Aku harus mengejar So Yon. Aku takut dia berbuat yang aneh-aneh. Besok aku akan datang lagi. Aku juga akan memberitahu umma dan appa. Oppa harus siap-siap ya karena besok aku akan menjemput oppa pulang ke rumah baru kita. Sampai jumpa oppa.” Hyun Su mencium pipi kiri dan kanan Jun Su lalu buru-buru pergi menyusul So Yon, “So Yon a, tunggu aku! Hei!”

Jun Su terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan adiknya tentang So Yon barusan. Benarkah itu? Oh my God Son...

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 5

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

------------------------------------------------------------------

So Yon membuka pintu mobil, lalu melihat ke arah Jun Su, memastikan apa dia sudah bangun atau belum. Tapi Jun Su tidak ada disana. Ya, Jun Su tidak ada di dalam mobil. Kemana dia??

So Yon menutup pintu mobilnya. Kopi hangat yang sejak tadi ia pegang dijatuhkan begitu saja. Yang ada di pikirannya hanya Jun Su. Kemana dia sebenarnya? Kenapa menghilang begitu saja? Saat dia berbalik hendak mencari Jun Su, tiba-tiba dia menabrak sosok yang ada di hadapannya. Barang yang dibawa orang itu pun jatuh.

“Ah maaf, maafkan saya,” So Yon membungkuk meminta maaf, mengambil barang yang terjatuh tadi lalu menengadah, melihat siapa orang yang ditabraknya tadi. “Kau.. ”

***
-Jun Su POV-

Aku terbangun dari tidurku. Lalu melihat sekelilingku, Sepertinya aku sudah sampai. Tapi kenapa So Yon tidak membangunkanku? Dan kemana dia?

Aku pun turun dari mobil, mencari sosok So Yon. Akhirnya mataku menemukannya. Dia terlihat sedang membeli kopi hangat. Mungkin dia lelah, pikirku. Akhirnya aku pun masuk ke rumah, mengambil sepatu yang akan dipinjam So Yon untuk temannya yang akan bertunangan.

Tidak lama aku pun kembali keluar. So Yon terlihat sedang membuka pintu mobil membawa dua cup kopi hangat. Tunggu, kenapa dua? Apa yang satu lagi untukku? Aneh, kenapa dia musti sebaik itu hanya karena mau meminjam sepatu? Padahal kan biasanya dia galak padaku, tapi kenapa sekarang malah peduli?

Tanpa sadar aku malah terus memikirkannya. Ayolah Jun Su, lupakan! Kalau sepatu ini sudah dikembalikan nanti, pasti dia galak lagi. Fiuh..

Aku pun berjalan ke arahnya dengan kotak sepatu di tanganku. Dia terlihat sedang sibuk mencariku. Saat aku akan menegurnya, tiba-tiba dia berbalik dan menabrakku. Kotak sepatuku pun terjatuh.

Sesaat dia berada di pelukanku tadi. Kepalanya menyentuh dadaku, membuat jantungku berdetak tak karuan. Wangi rambutnya pun tercium olehku, membuatku ingin mengelusnya. Tapi aku mengurungkan niatku. Hey, kenapa aku jadi deg-degan begini??

“Ah maaf, maafkan saya,” katanya sambil mengambil kotak sepatuku yang terjatuh. Lalu dia menengadah. Dia tampak kaget.

“Kau…” So Yon menatapku. Aku terdiam, menatap wajahnya yang terlihat khawatir. Apa dia khawatir karena aku? Tapi kenapa bisa? Dan anehnya, kenapa aku merasa senang?

Kami terdiam, saling menatap. Tiba-tiba So Yon membuyarkannya. “Jun Su a, kau ini kemana? Aku kira kau diculik tadi.” Katanya, terlihat salah tingkah.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Diculik? Bagaimana bisa? Tanpa sadar aku mengacak-ngacak rambutnya, lembut -seperti sudah akrab-. “Aniya, aku tidak diculik kok. Aku tadi hanya masuk ke rumah sebentar untuk mengambil sepatu yang mau kau pinjam. Jangan khawatir..”

Tunggu, kenapa aku berkata seperti itu? Ada apa denganku? Jun Su ya! Wae yo??

So Yon terlihat keheranan, lalu tersenyum. Aneh, dia sama sekali tidak marah. Bahkan dia tidak menepis tanganku yang masih ada di atas kepalanya. Wajahnya terlihat memerah. Aku pun menurunkan tanganku dari atas kepalanya. Gawat aku salah tingkah! Kenapa bisa begini!

“Ah, maaf. Oh ya itu sepatunya. Jaga baik-baik ya.” Kataku sambil menunjuk kotak sepatu yang sejak tadi masih ada di genggaman So Yon. “oh, emh, iya.. Terima kasih ya. Setelah pertunangan temanku selesai, aku pasti akan segera mengembalikannya.”

Aku hanya terdiam tanpa melepas pandanganku dari So Yon. So Yon terlihat salah tingkah *lagi*.

“Ah baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya.” Kata So Yon cepat. Dia lalu berbalik, membuka pintu mobilnya. Tapi tangan ini tiba-tiba saja menahan dan menariknya.

-end Jun Su POV-

***
-So Yon POV-

Aku membuka pintu mobilku. Oh Tuhan, kenapa aku jadi salah tingkah begini? Aku harus cepat pergi sebelum Jun Su memergoki aku yang salah tingkah sejak tadi. Mungkin wajahku juga sudah seperti kepiting rebus sekarang.

Tapi tiba-tiba Jun Su memegang tanganku, menahanku dan menarikku ke pelukannya. Eh? Ada apa ini?
Sejenak aku tidak bisa berpikir. Anehnya, aku tidak menolak. Aku membiarkan tubuh ini berada di pelukan Jun Su. Dia memelukku erat sekali. Hangat. Nyaman sekali sampai-sampai aku memejamkan mataku.

Tidak lama aku pun tersadar dari tingkahku. Perlahan aku melepas pelukan Jun Su, menatapnya, lalu masuk mobil dan pergi meninggalkan Jun Su sendiri. Oh Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi.. Dan apa yang aku rasakan ini..

-end So Yon POV-

***

(di tempat lain)
Hyun Su sedang berada di rumah Yoo Chun. Mereka sedang mengobrol dengan orang tua Yoo Chun untuk membicarakan konsep pertunangan mereka minggu depan. Tiba-tiba handphone Hyun Su berdering.

“Maaf umma, appa, oppa, aku menerima telepon dulu..” Hyun Su memang terbiasa memanggil orang tua Yoo Chun dengan sebutan umma dan appa, sudah seperti orang tua sendiri. Hyun Su pun memisahkan diri lalu mengangkat teleponnya.

“Oh, So Yon a. Ada apa?”

Tidak ada jawaban.

“So Yon a…” Hyun Su sekali lagi memanggil lawan bicaranya di telepon.

Tetap tidak ada jawaban.

“Ya So Yon a! Kau disana? Jawab aku!” Hyun Su mulai panik.

“Hyun Su a, pendengaranku bisa rusak kalau kau berteriak seperti itu,” jawab So Yon pelan.

“Kau ini membuatku khawatir saja. Kenapa lama sekali tidak menyahut tadi?” tanya Hyun Su mulai tenang.

“Hyun Su a..” Suara So Yon terdengar pelan, lemah sekali.

“Hei kau kenapa? Kau sakit?” tanya Hyun Su.

“Mullaseo. Aku juga tidak tahu. Pikiranku kacau sekali Hyun Su a,” kata So Yon lemas.

“Ya, kau dimana sekarang?”

“Aku di taman tengah kota.”

“Tunggu aku akan segera kesana!” Hyun Su menutup teleponnya tanpa membiarkan So Yon berbicara. Dia pamit pada orang tua Yoo Chun dan juga Yoo Chun.

“Umma, appa, oppa, maaf sepertinya aku harus pergi dulu. Tampaknya temanku sedang dalam masalah..”kata Hyun Su.

“Oh begitu ya. Kalau begitu konsep pertunangan kalian biar kami yang atur saja ya,” kata appa-nya Yoo Chun sambil menunjuk dirinya dan umma-nya Yoo Chun.

“Baiklah appa. Maaf ya merepotkan. Terima kasih umma, appa..” kata Hyun Su.

“Ah kau ini, tenang saja. Serahkan saja pada kami.. Chunnie ya, ayo antarkan Hyun Su.”

“Baiklah umma. Hyun Su a, aku antar ya,” kata Yoo Chun sambil berdiri. Namun Hyun Su menolaknya.

“Aniya oppa, aku pergi naik taksi saja. Tidak jauh dari sini kok. Hanya di taman kota. Aku harus bertemu So Yon, sepertinya dia membutuhkan aku. Ini urusan perempuan oppa..” katanya sambil mengedipkan mata.

“Ah, begitu rupanya. Baiklah kalau begitu. Aku antar kau sampai dapat taksi ya,” kata Yoo Chun lagi. Hyun Su mengangguk.

“Hati-hati ya Hyun Su a..” kata ibunya Yoo Chun.

“Ya umma. Aku pergi dulu ya,” Mereka pun pergi.

***

Yoo Chun menemani Hyun Su sambil menunggu taksi datang sambil mengobrol.

“So Yon kenapa chagi?” tanyanya.

“Entahlah. Tadi di telepon suaranya lemas. Sepertinya dia sedang sakit. Aku jadi khawatir,” jawab Hyun Su.

“Chagi ya, kau ini sejak dulu memang tidak pernah berubah ya. Perhatian sama semua orang,” kata Yoo Chun manja sambil mengacak-ngacak rambut Hyun Su.

“Ah oppa ini berlebihan ah.. Hehe,” Hyun Su menyikut Yoo Chun. “Ah, itu taksinya datang. Aku pergi ya oppa,”

“Baiklah. Kalau ada apa-apa telepon aku ya chagi. Hati-hati..” kata Yoo Chun sambil membukakan pintu taksi.

“Ya oppa. Bye..”

***

Hyun Su sampai di taman kota lalu mencari sosok So Yon. Dimana dia? Lalu dia melihat seorang gadis sedang duduk termenung dengan pandangan kosong. Itu So Yon!

Hyun Su pun menghampirinya. “Ya So Yon a! Kau ini kenapa?” tanyanya sambil merangkul So Yon. Dengan refleks So Yon menyandarkan kepalanya di bahu So Yon.

“Hyun Su a.. Aku ini kenapa.. Kenapa perasaanku begini.. Aku tidak mengerti.. Aku..”

“So Yon a.. Ceritakanlah padaku. Sebenarnya ada apa?” tanya Hyun Su.

So Yon melepaskan sandarannya. Dia kembali duduk termenung dengan pandangan menerawang ke bawah. “Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi padaku. Tapi tadi aku merasakan perasaan yang aneh. Padahal biasanya setiap bertemu dengannya aku selalu bertengkar. Bahkan tidak bisa akur. Tapi tadi..”

“Dengan siapa? OB itu?” potong Hyun Su.

“Ya. Si OB itu…” jawab So Yon sambil mengangguk perlahan. “Tadi sepertinya dia berbeda Hyun Su a.. Padahal niatku hanya berpura-pura baik supaya aku bisa meminjam sepatunya untuk pertunanganmu minggu depan, tapi entah kenapa perasaanku malah jadi begini. Dia juga sama, terlihat aneh. Bahkan dia memelukku..”

“Apa? Memelukmu?” Hyun Su kaget.

“Ya begitulah. Tapi anehnya aku tidak menolaknya. Hyun Su a, aku tidak mengerti..” So Yon menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Kebingungan terpancar dari dirinya.

Hyun Su memperhatikan tingkah So Yon, lalu ia mengangguk dan tersenyum, “Ah, aku rasa aku tahu apa yang kau rasakan itu So Yon!”

So Yon mengalihkan pandangannya pada Hyun Su, serius. “Benarkah? Apa??”

“Ya. Kau tahu? Kau itu sudah jatuh cinta padanya. Aku rasa kalian saling menyukai,” angguk Hyun Su mantap.

“Mwo? Tidak mungkin Hyun Su a! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya! Aku dan dia itu tidak pernah akur! Setiap bertemu selalu saja bertengkar! Bahkan aku dan dia sudah jarang bertemu. Baru tadi aku bertemu dengannya lagi karena kebetulan dia baru diterima bekerja di minimarket tempatku kerja part-time!” So Yon berusaha menepis pendapat Hyun Su, namun Hyun Su tertawa kecil.

“Haha, kau ini So Yon! Justru karena kalian tidak akur, maka tumbuhlah benih-benih cinta. Ada pepatah mengatakan, jangan kau terlalu benci pada seseorang, sebab nantinya kau malah akan sangat mencintainya, begitu pula sebaliknya. Nah, karma ini sekarang kena padamu So Yon.. Apalagi setelah beberapa lama tidak bertemu, kalian akhirnya dipertemukan di tempat kerja yang sama, itu kan jodoh namanya. Berarti Tuhan memang menakdirkan kalian untuk bertemu lagi, benar kan?!” jelas Hyun Su panjang lebar. So Yon terdiam. Mungkin saja itu benar, pikirnya.

“Tapi Hyun Su a…” So Yon sekali lagi berusaha menepis.

Hyun Su memotong perkataan So Yon, lalu duduk menghadapnya sambil memegang kedua bahu So Yon, berusaha meyakinkannya,” So Yon a, dengarkan aku ya.. Cinta itu datang tanpa diduga. Cinta itu bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan bagaimana pun, tidak ada seorangpun yang tahu itu. Perasaan yang kau rasakan sekarang adalah cinta. Kau tidak bisa menepisnya, karena bagaimana pun juga, rasa itu tidak akan bisa kau hilangkan. Malah akan semakin tumbuh dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Itulah yang namanya cinta, So Yon a.. Kau mengerti??”

“Hyun Su a..” So Yon tertunduk. Hyun Su memeluknya. Membiarkan So Yon menangis di pelukannya.

“Kau harus berjuang mendapatkan cintamu So Yon a.. Aku pasti akan membantumu..” hibur Hyun Su.

“Sudahlah jangan menangis lagi ya..” Hyun Su melepas pelukannya. So Yon masih sedikit terisak.

“Ah ya, aku jadi ingat. Kau bilang kau kan pinjam sepatu untukku dari si OB itu ya? Mana sepatunya? Aku ingin lihat,” Hyun Su terlihat bersemangat. So Yon menghapus air matanya dan mulai tersenyum.

“Kau ini, bersemangat sekali dengan sepatu ini,” ujar So Yon sambil mengambil kotak sepatu disampingnya dan menyerahkannya pada Hyun Su.

“Tentu saja. Ini kan sepatu untuk acara pertunanganku. Lagipula kau bilang modelnya bagus kan, makanya aku penasaran, sebagus apa sih.. Hehe,” Hyun Su mengambil kotak sepatu itu dari tangan So Yon. “Aku lihat ya,” So Yon mengangguk.

Perlahan Hyun Su membuka kotak sepatu itu. Dia terlihat kaget saat melihat isi kotak itu.

“Ah, ini!”

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 4

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

-------------------------------------------------------------

Malam harinya, seperti biasa, waktunya So Yon kerja part-time. Saat itu seluruh pegawai dikumpulkan untuk memperkenalkan satu lagi pegawai baru. Siapa ya?

So Yon menatap seseorang yang sedang berjalan dan sekarang tepat berdiri disamping bos-nya. Wajahnya tidak terlalu jelas karena pegawai baru itu memakai topi dan terus menunduk. Tak lama bosnya pun berbicara,

“Baiklah. Ini adalah pegawai baru kita yang akan bekerja bersama So Yon di bagian kasir. Namanya Kim Jun Su.”

“Eh??” So Yon terlihat kaget mendengar nama itu. Kim Jun Su?? Apa tidak salah dengar?

So Yon terus memandang pegawai itu, memastikan dan berharap kalau nama yang bos-nya sebut tadi tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Perlahan pegawai baru itu mengangkat wajahnya lalu memperkenalkan diri dengan sopan. “Halo semua, nama saya Kim Jun Su. Mohon bimbingan kalian semua.” Lalu dia membungkuk 45 derajat.

So Yon yang mengenali wajah itu langsung saja berteriak, “Ya, kau! Si OB!”

Jun Su yang kaget ikut berteriak, “Kau!”

***

So Yon terus menggerutu. Bagaimana tidak? Orang yang ingin ia hindari, sekarang malah ada di dekatnya, mana kerja satu shift pula. Kalau begini mana bisa menghindar??

Jun Su terlihat sedang melayani konsumen yang sedang membayar belanjaannya, sementara So Yon ada di belakangnya. Dia melipat kedua tangannya sambil menatap Jun Su sebal. Jun Su yang merasa diperhatikan menoleh ke belakang. Dia sedikit mundur saat melihat ekspresi So Yon yang sepertinya siap memakannya saat itu juga.

“Kenapa kau melihatku begitu? Tidak pernah lihat orang kerja ya?” kata Jun Su lalu kembali berbalik membelakangi So Yon.

“Mwo? Omona~” So Yon mulai jengkel. “Apa kau tidak tahu kalau kau mengganggu hidupku lagi hah?” batinnya.

“Ya, kau! Kenapa kau bekerja disini? Kau tahu aku sebal kalau melihatmu, tapi kenapa kau malah bekerja disini?” Tanya So Yon galak.

Jun Su kembali berbalik dan berkata, “Ya! Kau pikir ini minimarket milikmu apa? Lagipula mana aku tahu kalau kau juga bekerja disini? Kalau aku tahu dari awal, aku juga tidak mau kerja disini!”

“Mwo? Kau!!!” So Yon hampir saja menerkam ‘mangsa’ yang ada di depannya. Namun ia kembali mundur, “Aish aku bisa gila!” So Yon pun pergi. Jun Su tidak menghiraukannya lalu kembali bekerja.

***

So Yon pergi dari hadapan Jun Su tanpa arah dan tujuan. Akhirnya ia diam di salah satu sudut ruangan di kamar ganti. Dia terus saja menggerutu tentang Jun Su. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Hei, aku lupa! Hyun Su kan mau pinjam sepatu si Jun Su? Aduh bagaimana ini. Aku dengan dia kan sudah seperti anjing dan kucing, tidak bisa akur. Kalau begini, bagaimana bisa aku pinjam sepatu itu? Ah aku benar-benar bisa gila!” gumam So Yon sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tapi aku sudah janji pada Hyun Su. Yah, mau bagaimana lagi. Aku harus baik-baik di hadapan si Jun Su supaya dia mau meminjamkan sepatu itu lagi padaku. Ayolah So Yon, ini hanya sementara sampai pertunangan Hyun Su selesai! Saat aku kembalikan sepatu itu, keadaan menjadi seperti semula deh. Yosh!”

Saat sibuk dengan batinnya, tiba-tiba datang Jun Su.

“Kau ini gila ya? Bisik-bisik sendiri sambil garuk-garuk kepala begitu. Oh my God Sun, kau ternyata memang gila..” ucap Jun Su sambil berlalu. So Yon sudah siap-siap menerkamnya untuk yang kedua kalinya -mungkin lebih-, namun diurungkan niatnya itu. Dia memanggil Jun Su -sebelum dia pergi- dengan nada normal.

“Hei Kim Jun Su,”

Jun Su pun berhenti dan menoleh. “Apa?”

“Ah tidak apa-apa. Kau istirahat saja dulu. Biar giliran aku yang jaga kasir,” kata So Yon lalu pergi meninggalkan Jun Su yang kebingungan.

***
-Jun Su POV-

Oh my God Sun, Apa aku tidak salah dengar dan tidak salah lihat?

Berkali-kali aku mengucek mataku dan menggosok telingaku, tapi sepertinya memang bukan mimpi. Gadis galak ini memanggilku dengan nada normal begitu, bahkan terkesan lembut! Padahal baru beberapa menit yang lalu dia sepertinya akan melahapku hidup-hidup saking sebalnya padaku!

Bahkan sekarang dia menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaanku dan menyuruhku istirahat. Sekarang dia sibuk di depan kasir. Tapi dia mengerjakan itu sendirian tanpa memerlukan bantuanku. Aneh kan? Apa tadi saat merenung dia kesambet setan baik ya?

Ah ngapain aku mikirin dia! Lebih baik aku memanfaatkan ini dengan tidur sebentar. Lelah sekali aku hari ini.

-end POV-

***

Jam 9 malam. Saatnya pulang. Jun Su sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia keluar dari minimarket, saat itu So Yon memanggilnya, “Jun Su ssi!”

“Jun Su ssi?? Sopan sekali dia, kenapa??” Batin Jun Su. Jun Su pun menoleh dan melihat So Yon sedang berlari ke arahnya.

“Ada apa?” Tanya Jun Su sambil mengernyitkan dahi.

“Kau mau kuantar pulang? Aku bawa mobil kok,” tawar So Yon sambil terengah-engah. Jun Su semakin mengernyitkan dahinya, heran.

“Kau ini kenapa sih? Sebentar galak padaku, lalu sekarang baik padaku. Kau benar-benar gila ya? Ah kurasa kau memang benar-benar gila. Oh my God Sun..” jawab Jun Su lalu berbalik pergi. Tapi So Yon kembali memanggilnya.

“Hei aku serius! Ayo cepat! Mobilku disana,” tanpa basa-basi So Yon menarik tangan Jun Su dan membawanya ke mobil.

“Hei kau mau menculikku ya? Hei lepaskan!” Jun Su memberontak, tapi So Yon menang. Jun Su pun menyerah dan akhirnya masuk mobil So Yon.

Di perjalanan, So Yon dan Jun Su terdiam. Tidak ada yang berbicara. Hening.

“Oh ya,” mereka berbicara berbarengan.

“Ah, kau saja duluan.” Kata Jun Su dingin.

“Tidak, kau saja,” kata So Yon santai sambil konsentrasi menyetir.

“Kau pasti ada maunya ya berbuat baik padaku seperti ini?” tanya Jun Su curiga.

“Eh?” So Yon terlihat salah tingkah, lalu menjawab, “Aniya. Aku tulus kok. Aku lelah bertengkar denganmu terus. Aku pikir kita bisa menjadi teman,”

“Apa? Teman? Kau ingin menjadi temanku? Oh my God Sun, kau memang sudah gila,” jawab Jun Su dingin.

“Terserah kau sajalah,” So Yon menyerah.

Mereka pun kembali terdiam.

“Tadi kau mau bicara apa?” Jun Su memulai pembicaraan.

“Oh, itu…” So Yon terbata-bata. “Emh, anu, itu…”

“Apa? Bilang saja,” potong Jun Su.

“Itu, soal sepatu yang kau pinjamkan waktu dulu. Apa masih kau simpan?” Tanya So Yon ragu-ragu.

“Ya, tentu saja. Memang kenapa?”

“Ah, itu… Boleh aku meminjamnya? Temanku akan bertunangan minggu depan, dan ia belum menemukan sepatu yang cocok..” ungkap So Yon jujur.

“Tapi kenapa harus sepatu kakakku?” Tanya Jun Su heran.

“Itu, karena modelnya bagus. Aku yakin temanku pasti suka. Boleh kan aku meminjamnya? Ayolah, hanya seminggu saja, sampai pesta pertunangan temanku itu selesai, aku akan langsung mengembalikannya padamu.” Kata So Yon memelas.

“Oh, jadi ini toh tujuanmu bersikap baik padaku. Rupanya karena sepatu..” Jun Su tersenyum sinis, membuat So Yon terdiam dan gugup karena rahasianya ketahuan. Dia hanya tersenyum simpul.

“Baiklah. Aku akan meminjamkannya. Anggap saja pinjaman sepatu itu sebagai bayaran karena kau telah mengantarku pulang hari ini.” Kata Jun Su tanpa memperhatikan So Yon.

“Benarkah? Ah terima kasih banyak ya Jun Su ssi! Kau baik sekali! Baiklah, kau lebih baik tidur saja dulu. Rumahmu kan agak jauh. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan deh,” kata So Yon semangat. Jun Su meliriknya lalu tersenyum, manis sekali. Membuat So Yon salah tingkah untuk yang kedua kalinya.

Tak lama Jun Su pun tertidur. So Yon sesekali melirik Jun Su yang terlelap, nyenyak sekali. Mungkin pekerjaan hari ini benar-benar membuatnya lelah. “Hei, kalau sedang tidur begitu dia manis juga.. Ah berpikir apa aku ini! Ayo So Yon, kau konsentrasi menyetir saja, jangan hiraukan Jun Su!” batin So Yon.

Lima belas menit kemudian mereka pun sampai. So Yon memarkirkan mobilnya di samping pagar rumah Jun Su. Dia melirik ke arah Jun Su. Ternyata masih tertidur lelap. So Yon yang tidak tega membangunkannya akhirnya memutuskan untuk keluar sebentar membeli minuman hangat.

Tidak lama, So Yon kembali dengan membawa dua cup kopi hangat di tangannya. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Jun Su. Entah angin apa yang merasuk ke dalam dirinya hingga ia menjadi perhatian pada Jun Su yang terlihat kelelahan sejak tadi. Mungkinkah hanya rasa kasihan, rasa simpati, rasa ingin berterima kasih karena sudah mau meminjamkan sepatu padanya, atau mungkin karena hal lain. Entahlah. Karena So Yon sendiri tidak mengerti dengan sikapnya sekarang.

So Yon membuka pintu mobil, lalu melihat ke arah Jun Su, memastikan apa dia sudah bangun atau belum. Tapi Jun Su tidak ada disana. Ya, Jun Su tidak ada di dalam mobil. Kemana dia??

So Yon menutup pintu mobilnya. Kopi hangat yang sejak tadi ia pegang dijatuhkan begitu saja. Yang ada di pikirannya hanya Jun Su. Kemana dia sebenarnya? Kenapa menghilang begitu saja? Saat dia berbalik hendak mencari Jun Su, tiba-tiba dia menabrak sosok yang ada di hadapannya. Barang yang dibawa orang itu pun jatuh.

“Ah maaf, maafkan saya,” So Yon membungkuk meminta maaf, mengambil barang yang terjatuh tadi lalu menengadah, melihat siapa orang yang ditabraknya tadi. “Kau...”

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 3

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

--------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya, aktivitas sebagai model pun dimulai. So Yon dan Hyun Su terlihat akrab, meskipun mereka baru saja kenal beberapa hari yang lalu. Saat sesi pemotretan sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan pakaian casual. Sepertinya dia juga seorang model. Dia terlihat sedang mencari seseorang.

So Yon menatap pria itu lebih jauh. Hey, itu kan pria yang kemarin ada di minimarket tempatnya bekerja?! Yang membuatnya salah tingkah hingga wajahnya memerah?! “Wah, beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya lagi. Tapi siapa yang dia cari? Apa aku? Hhihi..”

So Yon sedang asik dengan pikirannya tentang pria itu, tiba-tiba Hyun Su menyikutnya.

“So Yon a! Pria itu tampan ya! Hehehe,”

Lamunan So Yon langsung saja buyar. “Eh? Emhh, ya.. Tampan..” katanya terbata-bata tanpa melepas pandangannya dari pria itu.

“Hmm, dasar oppa! Harusnya wajah tampannya itu disembunyikan saja, biar tidak ada yang tahu.. Hahaha,” Hyun Su tertawa. Spontan So Yon langsung memalingkan pandangannya ke Hyun Su dengan sangat cepat.

“Eh? Kau mengenalnya?” Tanya So Yon.

Belum sempat Hyun Su menjawab, pria itu datang menghampiri mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Bukan ke arahku, pikir So Yon. Dia melihat Hyun Su yang disebelahnya juga melambaikan tangan. Pria itu datang lalu mencium pipi kanan dan kiri Hyun Su. Eh?? Ada apa ini??

“Ah maaf So Yon, aku jadi kelupaan. Kenalkan ini pacarku, Yoo Chun.” Kata Hyun Su sambil merangkul pria itu.

“Hai, kenalkan. Aku Park Yoo Chun. Aku juga model disini. Senang berkenalan denganmu.” Kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.

Eh??? Pacar???

Sesaat So Yon terdiam melongo, menatap pria tampan bernama Park Yoo Chun dihadapannya. “Oh Tuhan, pria ini. Dia yang membuatku salah tingkah. Yang membuat mukaku memerah karena malu. Yang membuat hatiku deg-degan tidak karuan karena melihat senyumnya. Yang sepertinya membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi dia ternyata pacar teman baruku, Kim Hyun Su?? Oh God… Rasanya 50 batu mendarat di tubuhku sekarang. Ah aku tidak bisa bergerak.. Rasanya aku ingin menghilang dari sini,” batin So Yon.

“Hei So Yon a, kau kenapa?” Tanya Hyun Su, lagi-lagi membuyarkan lamunan So Yon. Dia pun tersadar dari lamunannya.

“Ah, eh, tidak apa-apa. Oh ya, perkenalkan, namaku Park So Yon. Senang berkenalan denganmu,” kata So Yon akhirnya dengan sedikit terbata-bata. Ia menyambut tangan Yoo Chun dan menjabatnya. Hangat.

“Oh, So Yon. Kau yang kemarin di minimarket itu ya?” Tanya Yoo Chun.

Astaga, dia masih ingat…

“Ah ya… Ternyata kau masih ingat ya.. Hehe,” So Yon tersenyum kecut. Ah, andai saja ia melupakan kejadian memalukan itu.

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Hyun Su heran.

“Ya, aku pernah bertemu dengannya di minimarket.” Jawab Yoo Chun singkat, lalu tersenyum ke arah So Yon, memastikan.

“Ah, ya..” jawab So Yon ragu. Sungguh saat ini ia tidak ingin mengingatnya.

“Begitu ya. Oh ya oppa, hari ini kita jadi kan melihat baju untuk pesta pertunangan kita minggu depan?” Tanya Hyun Su pada Yoo Chun.

“Mwo?” So Yon -sekali lagi- terperanjat kaget. Hyun Su dan Yoo Chun melongo.

“Ah maaf, saya hanya sedikit kaget. Hehe. Jadi kalian akan segera bertunangan ya?” Tanya So Yon memastikan. Lagi-lagi mukanya merah karena tingkah lakunya sendiri.

“Ah ya, minggu depan kita akan bertunangan. Kau datang ya ke pesta pertunangan kami. Ah tidak, kau harus datang So Yon! Ia kan oppa?! ” jawab Hyun Su senang sambil mengaitkan tangannya pada Yoo Chun, manja.

“Ya tentu saja. Datanglah.. Kami akan sangat senang..” jawab Yoo Chun tersenyum.

So Yon terdiam sesaat, lalu perlahan tersenyum -meski sebenarnya dia tidak mau-. Dengan berat hati dan dengan suara yang pelan -bahkan nyaris tidak terdengar-, So Yon menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ya..”

“Baguslah. Aku akan menunggumu So Yon!” kata Hyun Su. So Yon hanya tersenyum kecut.

“Jadi apa pemotretanmu sudah selesai chagi?” Tanya Yoo Chun pada Hyun Su.

“Ya oppa, sudah selesai. Tapi aku berjanji akan menunggu So Yon. Sebentar lagi giliran dia, oppa.” Jawab Hyun Su.

“Aniya, gwenchana Hyun Su a. Kalian pergi saja. Aku tidak apa-apa kok. Lagipula setelah ini aku harus langsung bekerja di minimarket. Hyun Su a, pergilah. Ini kan untuk persiapan hari bahagiamu. Itu lebih penting kan,” jawab So Yon cepat. Oh Tuhan, aku benar-benar tidak ingin melihat kemesraan mereka sekarang, batinnya.

“Jeongmal? Benar tidak apa-apa?” Hyun Su memastikan.

“Tentu saja Hyun Su a. Gwenchana,” jawab So Yon sambil menepuk Hyun Su.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi ya. Kalau ada apa-apa kau bisa hubungi aku So Yon a,”

“Ya arasseo..”

Hyun Su dan Yoo Chun pun pamit dan pergi. So Yon menghela napas panjang. “Tuhan, kenapa bisa begini.. Baru saja aku berniat ingin mendekatinya, tapi saat itu juga aku harus patah hati. Ah, rasanya kali ini bukan hanya 50 batu yang mendarat di tubuhku, tapi seribu batu!” batin So Yon.

***

Hyun Su dan Yoo Chun tiba di sebuah butik terkenal. Pemiliknya adalah sahabat Yoo Chun, Kim Jae Joong.

“Oh, hyung!” sapa Yoo Chun sambil memeluk Jae Joong.

“Wah sudah datang kau rupanya,” Jae Joong membalas pelukan Yoo Chun. “Kau potong rambut ya chun? Aigoo tampan sekali. Sangat cocok bila dipasangkan dengan Hyun Su.. Hei Hyun Su ya! kau pasti tambah cinta dengan pasanganmu ini kan.. Hahaha,” goda Jae Joong.

“Ah oppa, bisa saja.. Hehehe,” Hyun Su tersenyum lalu menatap Yoo Chun dan memeluknya. Yoo Chun tersenyum sambil membelai rambut Hyun Su yang tergerai panjang dan hitam.

“Aigoo lihat merah begitu mukamu. Hahaha. Ayolah kalian jangan mesra-mesraan di depanku donk. Aku kan belum punya pacar..” ledek Jae Joong.

“Ya oppa! Meledek saja daritadi.. Makanya cari pacar donk.. Hahaha..” Mereka bertiga pun tertawa. “Oh ya oppa, bagaimana dengan gaun untuk kita? Sudah beres?” Hyun Su mengalihkan pembicaraan.

“Ya tentu saja. Ada di sebelah sana, ayo.” Ajak Jae Joong. Mereka pun pergi ke sebuah ruangan. Di sana tampak gaun putih yang sangat indah, dengan motif sederhana namun terlihat anggun.

“Bagaimana? Kau suka?” Tanya Jae Joong.

Hyun Su menatap gaun itu, melongo. Matanya tidak berkedip sama sekali. Ia berjalan mendekati gaun itu, perlahan, dan menyentuhnya dengan penuh kelembutan. Ia pun tersenyum. “Cantik sekali oppa. Aku menyukainya! Wah oppa memang hebat. Gaun untuk tunangan saja seindah ini, apalagi saat menikah nanti ya.. Oppa, kau harus membuat yang lebih indah ya kalau aku menikah,” jawab Hyun Su tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun itu.

“Hoho tentu saja Hyun Su a! Kau tidak usah khawatir. Serahkan saja semuanya padaku,” jawab Jae Joong mantap sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Hey hyung. Ngomong-ngomong mana jasku?” Yoo Chun yang merasa ‘dicuekin’ akhirnya bertanya.

“Ah ya maaf aku jadi lupa hehe. Ini jasnya Chun.” Jae Joong mangambil jas dari lemari dan menyerahkannya pada Yoo Chun.

“Wah aku suka bahannya hyung,” kata Yoo Chun.

“Kalau begitu kalian coba pakai ya. Supaya kalian mantap dengan pakaian yang ini. Nanti aku foto kalian berdua, bagaimana?” tawar Jae Joong.

“Ah, ide bagus! Kalau begitu kita coba ya chagi? Aku ingin melihatmu memakai gaun itu, pasti cantik sekali.” Kata Yoo Chun. Hyun Su mengangguk.

Mereka pun mencoba baju itu. Tak lama…

Yoo Chun yang sudah siap dengan jasnya sedang berkaca di depan kaca besar yang ada di ruangan itu. Pintu ruang ganti terbuka, dan nampak Hyun Su muncul dari sana. Yoo Chun melihat Hyun Su dari kaca, benar-benar cantik. Ia pun berbalik, memastikan yang ada di kaca itu benar-benar Hyun Su-nya, calon tunangannya. Ia tercengang melihat Hyun Su. Tanpa berkata apapun, ia perlahan berjalan mendekati Hyun Su, melihat kekasihnya itu dari atas sampai bawah. Tepat saat Hyun Su sudah ada di hadapannya, ia pun berbisik, “Sempurna. Kaulah malaikatku, Kim Hyun Su.” Yoo Chun memegang tangan Hyun Su dan menciumnya.

“Oppa…” Hyun Su yang terharu langsung saja memeluk Yoo Chun. Jae Joong menatap mereka dari kejauhan. “Benar-benar serasi sahabatku ini,” batinnya.

Sejam kemudian mereka pun selesai.

“Chagi ya… Sekarang kita tinggal cari sepatu yang cocok untukmu,” kata Yoo Chun sambil merangkul Hyun Su. Raut wajah Hyun Su tiba-tiba berubah muram. Air matanya mulai menetes.

“Chagi ya.. Kenapa? Apa aku salah bicara?” Yoo Chun mulai panik.

“Aniya oppa… Aku hanya ingat Onni. Sebelum meninggal, Onni punya sepatu kesayangan yang sangat indah dan cantik. Aku ingin sekali memakainya di acara pertunangan kita nanti. Tapi sayang, sepertinya sepatu itu hilang. Aku sudah mencarinya di rumah, tapi tidak ada. Aku sedih sekali oppa. Hanya itu kenangan Onni yang ingin aku pakai.. Tapi…” Hyun Su semakin terisak. Yoo Chun memeluknya. “Apalagi sampai sekarang, saat kita akan bertunangan, oppa-ku juga tidak pulang-pulang. Aku sedih sekali oppa..”

“Chagi ya.. Sudahlah jangan menangis lagi.. Mudah-mudahan saja oppa-mu pulang sebelum pertunangan kita berlangsung. Dan masalah sepatu, Oppa akan carikan sepatu lain. Atau kalau kau mau nanti oppa buatkan sepatu yang mirip dengan sepatu kakakmu itu. Apapun itu, asalkan kau tidak sedih lagi chagi..” Yoo Chun menenangkan Hyun Su. Membelainya. Membiarkannya menangis di pelukannya.

“Aniya oppa. Kita cari sepatu lain saja. Aku tidak apa-apa,” Hyun Su melepas pelukan Yoo Chun, lalu tersenyum. Yoo Chun menyeka air matanya, lalu menyentuh kedua pipinya dengan lembut.

“Baiklah kalau begitu. Tapi janji ya kau jangan sedih lagi. Kalau kau sedih, oppa juga sedih..”

Hyun Su menatap kedua mata Yoo Chun, dan kembali tersenyum. “Ya oppa,”

“Hei kalian sedang apa? Eh? Hyun Su a! Kenapa kau menangis? Kau diapakan oleh Chun?” Jae Joong tiba-tiba datang dan menghampiri Hyun Su.

“Gwenchana Jae Joong oppa. Aku tidak apa-apa kok,” jawab Hyun Su tersenyum.

“Benar kau tidak apa-apa? Kalau Chun macam-macam padamu, kau bilang saja padaku. Pasti aku akan membuat perhitungan dengannya. Akan ku hajar dia! Kalau perlu kubunuh dia!” kata Jae Joong semangat.

“Ya, hyung!” Yoo Chun membela diri. Hyun Su tertawa.

“Hahaha, jangan oppa. Kalau kau membunuh Chun oppa, nanti aku sama siapa.. Aku tidak mau sendirian. Aku mau ikut dengan Chun oppa, sekalipun itu menyangkut nyawa.. Karena aku sangat mencintainya,” Hyun Su tersenyum dan memeluk Yoo Chun. Yoo Chun pun membalas pelukannya, “Chagi ya…”

“Hahaha dasar. Nah gitu donk, tersenyum lagi. Jangan sedih lagi ya Hyun Su! Aku tidak mau matamu hitam dan bengkak saat pesta pertunangan kalian nanti hanya gara-gara kau menangis terus. Kalau itu terjadi, aku akan langsung pulang tanpa pamit padamu loh..” goda Jae Joong.

“Hahaha,” semua tertawa.

***

Setelah mengecek baju di butik Jae Joong, Hyun Su dan Yoo Chun pun pergi mencari sepatu. Mereka pergi dari satu toko ke toko yang lain, dari toko sepatu yang paling mahal dan elit sampai ke toko sepatu yang murah. Tapi Hyun Su tetap tidak menemukan sepatu yang cocok untuknya. Tidak ada sepatu yang ‘kena’ di hatinya. Setelah 2 jam mencari, malam itu mereka pun pergi ke restoran untuk makan malam.

“Oppa, bagaimana ini. Dari tadi kita berkeliling, tidak ada sepatu yang ‘sreg’ denganku. Tidak ada yang aku sukai..” Hyun Su mulai putus asa.

“Sabar chagi. Kita masih punya banyak waktu. Lusa kita cari lagi ya, bagaimana?” tawar Yoo Chun.

“Apa tidak bisa besok oppa?” Tanya Hyun Su.

“Besok kan oppa ada pemotretan sampai malam chagi..” jawab Yoo Chun lemas. “Oh ya, kau minta antar temanmu saja. Siapa tadi namanya? So Yon ya kalau tidak salah?”

“Ah ya benar. So Yon. Baiklah, besok aku minta antar dia saja. Mudah-mudahan dia mau menemaniku,” jawab Hyun Su semangat, lalu kembali melahap makanan di depannya. Yoo Chun tersenyum melihat tingkah Hyun Su.

“Nah gitu donk. Jangan cemberut lagi ya chagi..” ujar Yoo Chun sambil mengelus kepala Hyun Su.

“Hehehe,” Hyun Su tersenyum.

***

Setelah dibujuk oleh Hyun Su, akhirnya So Yon mau menemaninya mencari sepatu untuk pertunangannya. Walau berat hati, namun So Yon tetap menerima ajakan Hyun Su. “Aku tidak boleh mengecewakan Hyun Su. Ya, aku harus melupakan Yoo Chun. Walau bagaimanapun mereka akan segera bertunangan. Yah, mungkin ini takdirku untuk mencari ‘gebetan’ baru. Anggap saja aku apes kali ini,” batin So Yon.

Setelah mencari ke berbagai tempat, sama seperti hari sebelumnya, Hyun Su tetap tidak menemukan sepatu yang pas untuk dirinya. Hyun Su kembali putus asa. Mereka memutuskan untuk duduk di kursi taman sebentar untuk istirahat.

“Aduh bagaimana ini…” Hyun Su cemberut.

“Bagaimana ya…” So Yon menopang dagu dengan tengannya, berpikir. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu dalam hatinya, “Oh ya, aku jadi ingat sepatu yang dipinjamkan si OB yang bernama Kim Jun Su waktu itu. Sepatu itu kan sangat bagus, aku yakin Hyun Su pasti suka. Apa aku pinjam lagi saja ya? Ah tapi aku kan tidak mau lagi berurusan dengan Jun Su! Tapi bagaimana dengan Hyun Su? Aku tidak mungkin membiarkannya terus sedih begini hanya karena sepatu.. Oh Tuhan aku harus bagaimana..”

“Ya So Yon a! Kau tidak menyimakku ya?” Hyun Su membuyarkan lamunan So Yon.

“Eh? Ah, maaf Hyun Su a.”

“Ya! Kau ini memikirkan apa sih..” Hyun Su kembali cemberut. Ia menggembungkan pipinya, tanda kecewa.

“Ah maaf Hyun Su a.. Tadi aku hanya teringat sesuatu. Dulu saat aku wawancara jadi model, ada seorang OB yang meminjamkan sepatu padaku. Saat itu aku memakai sepatu sebelah-sebelah, jadi…”

“Ah, kau pasti memakai sepasang sepatu yang berbeda kiri dan kanan ya, hahaha” potong Hyun Su tertawa. So Yon cemberut.

“Ya Hyun Su a! Ini bukan saatnya meledekku,”

“Hahaha maaf maaf. Lalu bagaimana?” Hyun Su menghentikan tawanya dan kembali menyimak So Yon.

“Jadi saat itu, entah darimana asalnya sepatu itu, si OB meminjamkannya padaku. Sepatu itu benar-benar bagus. Aku suka sekali. Dan aku yakin kau pasti menyukainya juga,” lanjut So Yon.

“Begitu ya. Kalau begitu apa aku bisa melihat sepatu itu? Apa kau bisa meminjamkannya untukku, So Yon?” pinta Hyun Su.

So Yon berpikir sejenak. Menimbang keputusan yang akan dia ambil. Apakah dia akan membantu Hyun Su, atau tetap pada prinsipnya untuk tidak berhubungan lagi dengan si OB itu. Namun akhirnya So Yon pun menjawab, “Ya baiklah. Akan kucoba.”

*To be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF "Shoes in Love" Part 2

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

----------------------------------------------------------------------

(Keesokan harinya)
So Yon dan calon model lainnya berkumpul menunggu pengumuman. So Yon tampak bolak-balik berjalan tidak karuan. Ketegangan terpancar dari wajahnya. Tak lama kertas pengumuman pun ditempel. So Yon segera mencari namanya.

“Ah, aku lolos! Aku menjadi seorang model sekarang! Hore..” So Yon jingkrak jingkrak gembira. Tanpa sengaja ia menabrak wanita di sebelahnya hingga terjatuh.

“Ah maafkan saya,” So Yon membantu wanita itu berdiri. Wanita itu tersenyum. Tinggi badannya 3 cm lebih pendek dari So Yon.

“Ah, tidak apa-apa.”

“Maaf ya. Saya terlalu senang, jadi tidak melihat sekitar..” So Yon tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ah, kau lolos menjadi model ya?” Wanita itu bertanya.

“Ya. Kau tahu, aku sangat senang! Akhirnya cita-citaku sejak kecil bisa terwujud.” So Yon mengungkapkan kegembiraannya.

“Benarkah? Kalau begitu kita akan menjadi rekan satu tim. Aku juga lolos,” jawab wanita itu.

“Jeongmal? Kalau begitu kenalkan, aku So Yon. Park So Yon.”

“Aku Hyun Su. Kim Hyun Su. Senang berkenalan denganmu, So Yon.”

“Ya, senang berkenalan denganmu Hyun Su.”

“Ah maaf So Yon, aku harus pulang. Aku ingin memberitahu kabar gembira ini pada keluargaku. Mereka semua pasti sudah menungguku di rumah. Kalau begitu aku duluan ya..” Hyun Su pamit.

“Ya, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa..”

Hyun Su pun pergi meninggalkan So Yon. “Ah, senangnya kalau aku juga bisa memberitahu umma dan appa, seperti Hyun Su. Tapi sayang mereka sudah tidak ada.. Umma, appa, apa kalian melihatku dari atas sana? Aku sekarang seorang model.. Kalian pasti bangga kan padaku?” batin So Yon, tersenyum.

Ya, orang tua So Yon sudah meninggal lima bulan yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. So Yon merupakan anak satu-satunya. Sanak saudaranya semua tinggal di Paris. Mereka menginginkan So Yon tinggal di Paris bersama mereka, tapi So Yon menolaknya. Dia ingin berkarir di Korea dan ingin sekali menjadi model terkenal disana. Itu semua demi meneruskan mimpi ibunya yang memang menginginkan So Yon menjadi model terkenal. Lagipula So Yon sudah dewasa. Umurnya sudah menginjak angka 21 tahun. Sejak kecil dia diajarkan untuk menjadi wanita yang mandiri. Bahkan saat duduk di bangku SMA, So Yon sudah bisa membiayai hidupnya sendiri dengan menjadi fotomodel kecil-kecilan. Ya, lumayan untuk tambahan uang sekolahnya saat itu. So Yon memang terlahir dari keluarga kaya, tapi ia ingin menghidupi dirinya sendiri dari hasil jerih payahnya. Dengan sedikit peninggalan dari orang tuanya, terkadang dia pun berusaha mencari uang dengan bekerja part time setiap malam. Bahkan kini dia menyewa sebuah apartemen untuk tinggal, karena diam di rumah hanya akan membuatnya sedih dan teringat kenangan-kenangan bersama kedua orang tuanya.

Setelah selesai, So Yon ingat dengan sesuatu yang dibawanya sejak tadi. Ya, sepatu. Aku harus mengembalikan ini pada Jun Su, pikirnya.

***

So Yon berputar menyusuri setiap ruangan, mencari sosok Kim Jun Su, tapi ia tidak menemukannya. Kemana OB itu? Ah ya, lebih baik aku cari di ruang OB, pikirnya.

So Yon pun pergi ke ruang OB di lantai 1. Tiba di sana, tampak kepala OB baru saja memberi pengarahan pada semua anak buahnya. Tapi tidak ada Jun Su disana. Kemana dia?

So Yon pun menghampiri kepala OB tadi. “Ah maaf, saya mencari OB yang bernama Kim Jun Su. Apa dia ada?” Tanya So Yon.

“Ah, Jun Su ya. Maaf nona, dia sudah berhenti bekerja mulai hari ini. Tadi pagi dia menyerahkan surat berhenti kerja, setelah itu dia langsung pergi.” jawab kepala OB itu sopan.

“Eh? Begitu ya. Kalau begitu, apa anda punya nomor telepon atau alamat rumahnya? Ada barang yang harus saya kembalikan padanya.”

“Hmm. Hanya ada alamatnya saja nona.” Jawab kepala OB.

“Ya tidak apa-apa. Terima kasih ya..”

***

Setelah berhasil mendapatkan alamat, So Yon pun bergegas mencari rumah Jun Su. Dengan ferarri-nya, ia melesat menuju alamat yang dituju. Sepatu ini harus kukembalikan hari ini, pikirnya.

Tak lama ia pun menemukan rumah Jun Su. Rumah itu terlihat sangat kumuh, kecil dan tidak terawat. Pagar yang sudah usang dan lapuk, tembok yang kotor dikelilingi tanaman liar, pot tanaman dengan bunga yang sudah layu. Apa Jun Su benar-benar tinggal disini?

So Yon mencoba masuk ke rumah itu. Pagarnya tidak dikunci. Dia pun berjalan perlahan menuju pintu rumah. Di sekitarnya banyak rumput dan tanah berserakan tidak karuan. So Yon bahkan harus berjalan jinjit agar sepatunya tidak kotor terkena tanah. Ya ampun, Jun Su tinggal di tempat seperti ini?

Dengan penuh perjuangan So Yon pun sampai di depan pintu rumah. Dia mengetuknya, namun tidak ada jawaban. Aduh bagaimana ini, aku kan harus mengembalikan sepatu ini sekarang juga, batin So Yon.

Dengan langkah pasrah So Yon pun berbalik meninggalkan rumah Jun Su. Saat akan membuka pagar, Jun Su tepat berada di depannya. Sepertinya dia baru pulang.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Jun Su heran. “Dan kenapa kau bisa tahu tempat ini?”

“Ah, aku mau mengembalikan sepatu yang kau pinjamkan kemarin.” Jawab So Yon sambil menyodorkan bungkusan berisi sepatu.

Jun Su hanya terdiam.

“Masuklah dulu,” kata Jun Su tanpa memedulikan sodoran sepatu dari So Yon.

“Eh?” So Yon heran. “Aku hanya akan mengembalikan sepatu ini, lalu pulang.”

Namun Jun Su tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan dan melangkah masuk ke rumahnya. Benar-benar misterius, pikir So Yon. Dia pun mau tidak mau akhirnya menurut.

***

Isi rumah Jun Su benar-benar sederhana. Hanya ada sofa kecil, satu televisi kecil dengan antena di atasnya, meja kecil, dan kompor kecil untuk memasak. Serba kecil. Dari perabotannya saja sudah bisa ditebak, rumah ini hanya dihuni oleh satu orang saja, yaitu Jun Su.

“Duduklah dulu. Aku buatkan minuman.” Kata Jun Su.

“Apa kau tinggal disini sendirian?” Tanya So Yon setelah duduk di sofa yang empuk, walaupun kecil.

“Ya.” Jawab Jun Su singkat, sambil membuat segelas teh hangat.

Tak lama…

“Ini minumannya. Maaf aku hanya bisa memberimu teh. Aku tidak punya minuman lagi selain teh dan air putih.” Ujar Jun Su.

“Tidak apa-apa. Ah ya, aku juga tidak bisa lama-lama. Ini sepatumu, terima kasih.” Kata So Yon dingin.

Jun Su menerima sepatu itu lalu berkata, “Oh my God Son.. ternyata kau bisa berterima kasih juga. Aku pikir tidak bisa.” Katanya dengan pandangan sinis pada So Yon.

“Mwo? Hei Kim Jun Su! Kenapa kau selalu membuatku marah hah? Kalau saja sepatu itu bukan milik kakakmu, pasti aku sudah membuangnya!” So Yon mulai naik darah. Jun Su hanya tersenyum sinis.

“Ya, ini memang milik nuna, tapi dia sudah meninggal.”

“Eh?”

Jun Su melanjutkan ceritanya. “Ya, kakakku sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Aku sangat menyayanginya. Dia sosok kakak yang sangat baik. Saat masih hidup, nuna sangat menyayangi sepatu ini. Karena itu sepatu ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi, supaya tidak hilang. Dan kau tahu kenapa aku meminjamkan sepatu nuna padamu?”

So Yon menggelengkan kepalanya, lalu Jun Su kembali melanjutkan, “karena tinggi badanmu sama dengan nuna, jadi aku pikir ukuran kaki kalian juga sama. Dan ternyata aku benar.”

So Yon menghela napas. Ternyata kakaknya Jun Su sudah meninggal. So Yon bisa merasakan apa yang Jun Su rasakan. Ah, seharusnya aku tidak bersikap kasar, pikirnya.

“Maaf, aku tidak tahu..” kata So Yon. Jun Su tersenyum kecut. Sesaat dia terdiam, lalu tiba-tiba mengeluh dan membentak So Yon. “Ya! Kenapa aku harus menceritakan ini pada orang yang galak sepertimu? Aish!”

“Mwo?” So Yon yang semula amarahnya turun kembali memuncak. “Hei kau! Kenapa kau selalu menyebutku begitu hah? Padahal aku sudah mendengarkan ceritamu, dan aku ikut prihatin atas meninggalnya kakakmu. Tadinya aku pikir kau punya sedikit kelembutan seperti kakakmu yang menyayangimu, tapi ternyata aku salah!”

“Aku tidak butuh dikasihani,” jawab Jun Su datar. Wajahnya terlihat sedih. Tapi Jun Su berusaha tidak menunjukkannya di hadapan So Yon, dan kembali memakinya, “Ah sudahlah! Kalau kau memang selalu emosi kalau bertemu denganku, lebih baik kau pergi saja! Terima kasih kau sudah jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengembalikan sepatu kakakku. Aku tahu koq kau mengembalikannya sekarang juga karena kau tidak ingin berhubungan lagi denganku kan! Kalau begitu ayo pergi! Urusan kita sudah selesai!”

Hei, darimana dia tahu itu?

“Baiklah! Aku pergi!” bentak So Yon lalu dia meninggalkan Jun Su dan menghilang dengan cepat melewati pintu. Jun Su tertunduk. Air matanya mulai keluar. “Nuna, aku tidak bisa..”

***

(tiba di apartemen)

-So Yon POV-

Aku membanting tasku ke atas kasur. Kesal sekali hari ini. Orang misterius bernama Kim Jun Su itu benar-benar telah membuatku emosi! Huh kenapa dia itu? Menyebalkan sekali!

Ah sudahlah, yang penting urusanku dengannya sudah selesai sekarang. Ya, selesai! Dan aku benar-benar lega. Lebih baik sekarang aku memikirkan kerja part time-ku. Aku harus mencari kerja part time yang baru. Gawat, uangku juga sudah menipis! Aku harus segera mencari kerja sambilan. Yap, besok aku harus mencarinya.

-End So Yon POV-

***

Keesokan harinya, So Yon berkeliling mencari kerja sambilan. Masih ada waktu seharian ini sebelum aktivitasnya sebagai seorang model dimulai besok. Tidak lama mencari, akhirnya dia mendapatkannya. Ya, hanya pekerjaan kecil. Menjadi kasir di sebuah minimarket. Meskipun gaji yang ditawarkan tidak terlalu besar, tapi itu tidak masalah bagi So Yon. Lagipula jam kerja di minimarket ini sama sekali tidak mengganggu jadwal modeling-nya. Malam itu So Yon langsung bekerja.

Saat sedang bekerja, ada seorang pria tinggi tampan yang sedang berbelanja di minimarket itu. Kelihatannya dia sedang membeli kebutuhan sehari-hari. Tak lama pria itu sudah ada di hadapan So Yon. Bukan untuk mengajak So Yon mengobrol, tapi untuk membayar semua belanjaannya.

So Yon terlihat gugup dan salah tingkah di hadapan pria itu. Ia menghitung semua belanjaan dengan terburu-buru.

“Semuanya 5200 Won,” katanya. Pria itu mengeluarkan uang 10ribu dari dompetnya, lalu memberikannya pada So Yon tanpa berkata apapun. So Yon pun segera mengambil uang kembalian dan menyerahkannya pada pria itu.

“Ini kembalinya. Terima kasih. Jangan lupa datang lagi,” kata So Yon ramah, dengan seulas senyum manis di wajahnya.

Pria itu menghitung kembaliannya, lalu tersenyum dan menatap So Yon. “Astaga, manis sekali! Tampan sekali! Oh Tuhan, jangan sampai aku meleleh di sini..” pikir So Yon.

Tak lama pria itu berkata, “Maaf nona Park So Yon, kembaliannya kelebihan..” kata pria itu sambil menyerahkan selembar uang seribu Won pada So Yon.

“Hei, darimana kau tahu namaku?” Tanya So Yon tanpa memedulikan uang yang disodorkan pria itu. Pria itu tertawa kecil lalu menjawab, “Itu, terlihat dari tanda pengenal yang kau pakai, nona.”

So Yon melihat ke arah tanda pengenal yang tertempel di bajunya. Ya, semua pegawai pasti memilikinya. So Yon terlihat semakin salah tingkah. Wajah putihnya memerah karena malu. Dia pun mengambil uang dari tangan pria itu perlahan, dan tersenyum. “Ah ya, maaf ya.” katanya salah tingkah.

Pria itu kembali tertawa kecil lalu berkata, “Ya tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu, terima kasih nona..” Dia pun pergi.

So Yon yang sedang diam mematung langsung saja lemas. “Aigoo pabo! Kenapa tadi aku bisa salah tingkah begitu! Ah, dia pasti menertawakanku. Mau ditaruh dimana mukaku? Aigoo… Tapi sungguh dia benar-benar tampan. Baru kali ini aku melihat pria setampan dan semanis dia. Ya Tuhan…” batin So Yon dalam hati.

***

(di tempat lain..)

Kim Hyun Su menatap album foto keluarga di hadapannya. Foto masa kecilnya. Perlahan ia membukanya lembar per lembar. Saat membuka halaman terakhir, foto bersama seluruh keluarganya ada di sana. Orang tua Hyun Su sedang duduk, sementara ketiga anaknya yang lain ada di belakangnya. Ya, Hyun Su ada di sana bersama kedua kakaknya. Hyun Su memiliki satu oppa dan satu onni.

Sejenak ia memperhatikan foto itu, menatapnya. Perlahan tangannya menyentuh gambar wajah onni-nya. Wajah onni terlihat bahagia dengan seragam pramugarinya, sangat cantik. Foto itu memang diambil saat onni diterima menjadi seorang pramugari. Perlahan mata Hyun Su mulai berkaca-kaca. “Onni, bogoshipo.. Kenapa kau pergi meninggalkan aku, Onni..”

Sesaat ia menatap wajah di sebelah onni-nya. Kakak laki-lakinya ada disana, tersenyum menatap kamera. Oppa-nya itu berada di tengah, merangkul kakak dan adik yang ada di sampingnya. Tubuhnya terlihat lebih pendek, berbeda dengan Hyun Su dan kakak perempuannya yang berbadan tinggi.

Tangan Hyun Su bergeser ke arah wajah oppa-nya itu. Tangisnya semakin menjadi. “Oppa… Kau juga kemana, kenapa ikut menghilang.. Semenjak onni meninggal, bahkan sampai sekarang, kau tidak pernah pulang. Kau dimana oppa..”

Ya, kakak perempuan Hyun Su sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Saat itu dia bekerja sebagai pramugari. Kecelakaan pesawat itu menewaskan semua penumpangnya, termasuk kakak perempuan Hyun Su. Sejak saat itu, oppa-nya pun shock. Setelah prosesi pemakaman, dia pergi dan tidak pulang hingga sekarang. Hyun Su berpikir, mungkin oppa-nya itu ingin menenangkan diri sejenak. Maklum, dia memang sangat menyayangi kakak perempuannya itu. Onni adalah sosok yang sangat dikagumi oleh Hyun Su dan oppa-nya. Kakak yang sangat baik. Bahkan semua orang akan bahagia jika memiliki kakak sebaik dia, yang perhatian terhadap adik-adiknya melebihi dirinya sendiri.

Namun 3 tahun sudah berlalu. Oppa tidak kunjung pulang. Tidak ada yang tahu dimana ia berada sekarang. Hyun Su sangat merindukannya..

Perlahan Hyun Su menghapus air matanya. Ia berusaha untuk tidak mengingat lagi kenangan itu, meskipun sulit. Hyun Su membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menutup album fotonya, lalu memeluknya erat. Sampai akhirnya Hyun Su pun tertidur.

***

Keesokan harinya, aktivitas sebagai model pun dimulai. So Yon dan Hyun Su terlihat akrab, meskipun mereka baru saja kenal beberapa hari yang lalu. Saat sesi pemotretan sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan pakaian casual. Sepertinya dia juga seorang model. Dia terlihat sedang mencari seseorang.

So Yon menatap pria itu lebih jauh. Hey, itu kan pria yang kemarin ada di minimarket tempatnya bekerja?! Yang membuatnya salah tingkah hingga wajahnya memerah?! “Wah, beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya lagi. Tapi siapa yang dia cari? Apa aku? Hhihi..”

So Yon sedang asik dengan pikirannya tentang pria itu, tiba-tiba Hyun Su menyikutnya.

“So Yon a! Pria itu tampan ya! Hehehe,”

Lamunan So Yon langsung saja buyar. “Eh? Emhh, ya.. Tampan..” katanya terbata-bata tanpa melepas pandangannya dari pria itu.

“Hmm, dasar oppa! Harusnya wajah tampannya itu disembunyikan saja, biar tidak ada yang tahu.. Hahaha,” Hyun Su tertawa. Spontan So Yon langsung memalingkan pandangannya ke Hyun Su dengan sangat cepat.

“Eh? Kau mengenalnya?” Tanya So Yon.

Belum sempat Hyun Su menjawab, pria itu datang menghampiri mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Bukan ke arahku, pikir So Yon. Dia melihat Hyun Su yang disebelahnya juga melambaikan tangan. Pria itu datang lalu mencium pipi kanan dan kiri Hyun Su. Eh?? Ada apa ini??

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP