FF "Shoes in Love" Part 2
>> Sunday, April 25, 2010
Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^
----------------------------------------------------------------------
(Keesokan harinya)
So Yon dan calon model lainnya berkumpul menunggu pengumuman. So Yon tampak bolak-balik berjalan tidak karuan. Ketegangan terpancar dari wajahnya. Tak lama kertas pengumuman pun ditempel. So Yon segera mencari namanya.
“Ah, aku lolos! Aku menjadi seorang model sekarang! Hore..” So Yon jingkrak jingkrak gembira. Tanpa sengaja ia menabrak wanita di sebelahnya hingga terjatuh.
“Ah maafkan saya,” So Yon membantu wanita itu berdiri. Wanita itu tersenyum. Tinggi badannya 3 cm lebih pendek dari So Yon.
“Ah, tidak apa-apa.”
“Maaf ya. Saya terlalu senang, jadi tidak melihat sekitar..” So Yon tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah, kau lolos menjadi model ya?” Wanita itu bertanya.
“Ya. Kau tahu, aku sangat senang! Akhirnya cita-citaku sejak kecil bisa terwujud.” So Yon mengungkapkan kegembiraannya.
“Benarkah? Kalau begitu kita akan menjadi rekan satu tim. Aku juga lolos,” jawab wanita itu.
“Jeongmal? Kalau begitu kenalkan, aku So Yon. Park So Yon.”
“Aku Hyun Su. Kim Hyun Su. Senang berkenalan denganmu, So Yon.”
“Ya, senang berkenalan denganmu Hyun Su.”
“Ah maaf So Yon, aku harus pulang. Aku ingin memberitahu kabar gembira ini pada keluargaku. Mereka semua pasti sudah menungguku di rumah. Kalau begitu aku duluan ya..” Hyun Su pamit.
“Ya, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa..”
Hyun Su pun pergi meninggalkan So Yon. “Ah, senangnya kalau aku juga bisa memberitahu umma dan appa, seperti Hyun Su. Tapi sayang mereka sudah tidak ada.. Umma, appa, apa kalian melihatku dari atas sana? Aku sekarang seorang model.. Kalian pasti bangga kan padaku?” batin So Yon, tersenyum.
Ya, orang tua So Yon sudah meninggal lima bulan yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. So Yon merupakan anak satu-satunya. Sanak saudaranya semua tinggal di Paris. Mereka menginginkan So Yon tinggal di Paris bersama mereka, tapi So Yon menolaknya. Dia ingin berkarir di Korea dan ingin sekali menjadi model terkenal disana. Itu semua demi meneruskan mimpi ibunya yang memang menginginkan So Yon menjadi model terkenal. Lagipula So Yon sudah dewasa. Umurnya sudah menginjak angka 21 tahun. Sejak kecil dia diajarkan untuk menjadi wanita yang mandiri. Bahkan saat duduk di bangku SMA, So Yon sudah bisa membiayai hidupnya sendiri dengan menjadi fotomodel kecil-kecilan. Ya, lumayan untuk tambahan uang sekolahnya saat itu. So Yon memang terlahir dari keluarga kaya, tapi ia ingin menghidupi dirinya sendiri dari hasil jerih payahnya. Dengan sedikit peninggalan dari orang tuanya, terkadang dia pun berusaha mencari uang dengan bekerja part time setiap malam. Bahkan kini dia menyewa sebuah apartemen untuk tinggal, karena diam di rumah hanya akan membuatnya sedih dan teringat kenangan-kenangan bersama kedua orang tuanya.
Setelah selesai, So Yon ingat dengan sesuatu yang dibawanya sejak tadi. Ya, sepatu. Aku harus mengembalikan ini pada Jun Su, pikirnya.
***
So Yon berputar menyusuri setiap ruangan, mencari sosok Kim Jun Su, tapi ia tidak menemukannya. Kemana OB itu? Ah ya, lebih baik aku cari di ruang OB, pikirnya.
So Yon pun pergi ke ruang OB di lantai 1. Tiba di sana, tampak kepala OB baru saja memberi pengarahan pada semua anak buahnya. Tapi tidak ada Jun Su disana. Kemana dia?
So Yon pun menghampiri kepala OB tadi. “Ah maaf, saya mencari OB yang bernama Kim Jun Su. Apa dia ada?” Tanya So Yon.
“Ah, Jun Su ya. Maaf nona, dia sudah berhenti bekerja mulai hari ini. Tadi pagi dia menyerahkan surat berhenti kerja, setelah itu dia langsung pergi.” jawab kepala OB itu sopan.
“Eh? Begitu ya. Kalau begitu, apa anda punya nomor telepon atau alamat rumahnya? Ada barang yang harus saya kembalikan padanya.”
“Hmm. Hanya ada alamatnya saja nona.” Jawab kepala OB.
“Ya tidak apa-apa. Terima kasih ya..”
***
Setelah berhasil mendapatkan alamat, So Yon pun bergegas mencari rumah Jun Su. Dengan ferarri-nya, ia melesat menuju alamat yang dituju. Sepatu ini harus kukembalikan hari ini, pikirnya.
Tak lama ia pun menemukan rumah Jun Su. Rumah itu terlihat sangat kumuh, kecil dan tidak terawat. Pagar yang sudah usang dan lapuk, tembok yang kotor dikelilingi tanaman liar, pot tanaman dengan bunga yang sudah layu. Apa Jun Su benar-benar tinggal disini?
So Yon mencoba masuk ke rumah itu. Pagarnya tidak dikunci. Dia pun berjalan perlahan menuju pintu rumah. Di sekitarnya banyak rumput dan tanah berserakan tidak karuan. So Yon bahkan harus berjalan jinjit agar sepatunya tidak kotor terkena tanah. Ya ampun, Jun Su tinggal di tempat seperti ini?
Dengan penuh perjuangan So Yon pun sampai di depan pintu rumah. Dia mengetuknya, namun tidak ada jawaban. Aduh bagaimana ini, aku kan harus mengembalikan sepatu ini sekarang juga, batin So Yon.
Dengan langkah pasrah So Yon pun berbalik meninggalkan rumah Jun Su. Saat akan membuka pagar, Jun Su tepat berada di depannya. Sepertinya dia baru pulang.
“Sedang apa kau disini?” Tanya Jun Su heran. “Dan kenapa kau bisa tahu tempat ini?”
“Ah, aku mau mengembalikan sepatu yang kau pinjamkan kemarin.” Jawab So Yon sambil menyodorkan bungkusan berisi sepatu.
Jun Su hanya terdiam.
“Masuklah dulu,” kata Jun Su tanpa memedulikan sodoran sepatu dari So Yon.
“Eh?” So Yon heran. “Aku hanya akan mengembalikan sepatu ini, lalu pulang.”
Namun Jun Su tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan dan melangkah masuk ke rumahnya. Benar-benar misterius, pikir So Yon. Dia pun mau tidak mau akhirnya menurut.
***
Isi rumah Jun Su benar-benar sederhana. Hanya ada sofa kecil, satu televisi kecil dengan antena di atasnya, meja kecil, dan kompor kecil untuk memasak. Serba kecil. Dari perabotannya saja sudah bisa ditebak, rumah ini hanya dihuni oleh satu orang saja, yaitu Jun Su.
“Duduklah dulu. Aku buatkan minuman.” Kata Jun Su.
“Apa kau tinggal disini sendirian?” Tanya So Yon setelah duduk di sofa yang empuk, walaupun kecil.
“Ya.” Jawab Jun Su singkat, sambil membuat segelas teh hangat.
Tak lama…
“Ini minumannya. Maaf aku hanya bisa memberimu teh. Aku tidak punya minuman lagi selain teh dan air putih.” Ujar Jun Su.
“Tidak apa-apa. Ah ya, aku juga tidak bisa lama-lama. Ini sepatumu, terima kasih.” Kata So Yon dingin.
Jun Su menerima sepatu itu lalu berkata, “Oh my God Son.. ternyata kau bisa berterima kasih juga. Aku pikir tidak bisa.” Katanya dengan pandangan sinis pada So Yon.
“Mwo? Hei Kim Jun Su! Kenapa kau selalu membuatku marah hah? Kalau saja sepatu itu bukan milik kakakmu, pasti aku sudah membuangnya!” So Yon mulai naik darah. Jun Su hanya tersenyum sinis.
“Ya, ini memang milik nuna, tapi dia sudah meninggal.”
“Eh?”
Jun Su melanjutkan ceritanya. “Ya, kakakku sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Aku sangat menyayanginya. Dia sosok kakak yang sangat baik. Saat masih hidup, nuna sangat menyayangi sepatu ini. Karena itu sepatu ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi, supaya tidak hilang. Dan kau tahu kenapa aku meminjamkan sepatu nuna padamu?”
So Yon menggelengkan kepalanya, lalu Jun Su kembali melanjutkan, “karena tinggi badanmu sama dengan nuna, jadi aku pikir ukuran kaki kalian juga sama. Dan ternyata aku benar.”
So Yon menghela napas. Ternyata kakaknya Jun Su sudah meninggal. So Yon bisa merasakan apa yang Jun Su rasakan. Ah, seharusnya aku tidak bersikap kasar, pikirnya.
“Maaf, aku tidak tahu..” kata So Yon. Jun Su tersenyum kecut. Sesaat dia terdiam, lalu tiba-tiba mengeluh dan membentak So Yon. “Ya! Kenapa aku harus menceritakan ini pada orang yang galak sepertimu? Aish!”
“Mwo?” So Yon yang semula amarahnya turun kembali memuncak. “Hei kau! Kenapa kau selalu menyebutku begitu hah? Padahal aku sudah mendengarkan ceritamu, dan aku ikut prihatin atas meninggalnya kakakmu. Tadinya aku pikir kau punya sedikit kelembutan seperti kakakmu yang menyayangimu, tapi ternyata aku salah!”
“Aku tidak butuh dikasihani,” jawab Jun Su datar. Wajahnya terlihat sedih. Tapi Jun Su berusaha tidak menunjukkannya di hadapan So Yon, dan kembali memakinya, “Ah sudahlah! Kalau kau memang selalu emosi kalau bertemu denganku, lebih baik kau pergi saja! Terima kasih kau sudah jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengembalikan sepatu kakakku. Aku tahu koq kau mengembalikannya sekarang juga karena kau tidak ingin berhubungan lagi denganku kan! Kalau begitu ayo pergi! Urusan kita sudah selesai!”
Hei, darimana dia tahu itu?
“Baiklah! Aku pergi!” bentak So Yon lalu dia meninggalkan Jun Su dan menghilang dengan cepat melewati pintu. Jun Su tertunduk. Air matanya mulai keluar. “Nuna, aku tidak bisa..”
***
(tiba di apartemen)
-So Yon POV-
Aku membanting tasku ke atas kasur. Kesal sekali hari ini. Orang misterius bernama Kim Jun Su itu benar-benar telah membuatku emosi! Huh kenapa dia itu? Menyebalkan sekali!
Ah sudahlah, yang penting urusanku dengannya sudah selesai sekarang. Ya, selesai! Dan aku benar-benar lega. Lebih baik sekarang aku memikirkan kerja part time-ku. Aku harus mencari kerja part time yang baru. Gawat, uangku juga sudah menipis! Aku harus segera mencari kerja sambilan. Yap, besok aku harus mencarinya.
-End So Yon POV-
***
Keesokan harinya, So Yon berkeliling mencari kerja sambilan. Masih ada waktu seharian ini sebelum aktivitasnya sebagai seorang model dimulai besok. Tidak lama mencari, akhirnya dia mendapatkannya. Ya, hanya pekerjaan kecil. Menjadi kasir di sebuah minimarket. Meskipun gaji yang ditawarkan tidak terlalu besar, tapi itu tidak masalah bagi So Yon. Lagipula jam kerja di minimarket ini sama sekali tidak mengganggu jadwal modeling-nya. Malam itu So Yon langsung bekerja.
Saat sedang bekerja, ada seorang pria tinggi tampan yang sedang berbelanja di minimarket itu. Kelihatannya dia sedang membeli kebutuhan sehari-hari. Tak lama pria itu sudah ada di hadapan So Yon. Bukan untuk mengajak So Yon mengobrol, tapi untuk membayar semua belanjaannya.
So Yon terlihat gugup dan salah tingkah di hadapan pria itu. Ia menghitung semua belanjaan dengan terburu-buru.
“Semuanya 5200 Won,” katanya. Pria itu mengeluarkan uang 10ribu dari dompetnya, lalu memberikannya pada So Yon tanpa berkata apapun. So Yon pun segera mengambil uang kembalian dan menyerahkannya pada pria itu.
“Ini kembalinya. Terima kasih. Jangan lupa datang lagi,” kata So Yon ramah, dengan seulas senyum manis di wajahnya.
Pria itu menghitung kembaliannya, lalu tersenyum dan menatap So Yon. “Astaga, manis sekali! Tampan sekali! Oh Tuhan, jangan sampai aku meleleh di sini..” pikir So Yon.
Tak lama pria itu berkata, “Maaf nona Park So Yon, kembaliannya kelebihan..” kata pria itu sambil menyerahkan selembar uang seribu Won pada So Yon.
“Hei, darimana kau tahu namaku?” Tanya So Yon tanpa memedulikan uang yang disodorkan pria itu. Pria itu tertawa kecil lalu menjawab, “Itu, terlihat dari tanda pengenal yang kau pakai, nona.”
So Yon melihat ke arah tanda pengenal yang tertempel di bajunya. Ya, semua pegawai pasti memilikinya. So Yon terlihat semakin salah tingkah. Wajah putihnya memerah karena malu. Dia pun mengambil uang dari tangan pria itu perlahan, dan tersenyum. “Ah ya, maaf ya.” katanya salah tingkah.
Pria itu kembali tertawa kecil lalu berkata, “Ya tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu, terima kasih nona..” Dia pun pergi.
So Yon yang sedang diam mematung langsung saja lemas. “Aigoo pabo! Kenapa tadi aku bisa salah tingkah begitu! Ah, dia pasti menertawakanku. Mau ditaruh dimana mukaku? Aigoo… Tapi sungguh dia benar-benar tampan. Baru kali ini aku melihat pria setampan dan semanis dia. Ya Tuhan…” batin So Yon dalam hati.
***
(di tempat lain..)
Kim Hyun Su menatap album foto keluarga di hadapannya. Foto masa kecilnya. Perlahan ia membukanya lembar per lembar. Saat membuka halaman terakhir, foto bersama seluruh keluarganya ada di sana. Orang tua Hyun Su sedang duduk, sementara ketiga anaknya yang lain ada di belakangnya. Ya, Hyun Su ada di sana bersama kedua kakaknya. Hyun Su memiliki satu oppa dan satu onni.
Sejenak ia memperhatikan foto itu, menatapnya. Perlahan tangannya menyentuh gambar wajah onni-nya. Wajah onni terlihat bahagia dengan seragam pramugarinya, sangat cantik. Foto itu memang diambil saat onni diterima menjadi seorang pramugari. Perlahan mata Hyun Su mulai berkaca-kaca. “Onni, bogoshipo.. Kenapa kau pergi meninggalkan aku, Onni..”
Sesaat ia menatap wajah di sebelah onni-nya. Kakak laki-lakinya ada disana, tersenyum menatap kamera. Oppa-nya itu berada di tengah, merangkul kakak dan adik yang ada di sampingnya. Tubuhnya terlihat lebih pendek, berbeda dengan Hyun Su dan kakak perempuannya yang berbadan tinggi.
Tangan Hyun Su bergeser ke arah wajah oppa-nya itu. Tangisnya semakin menjadi. “Oppa… Kau juga kemana, kenapa ikut menghilang.. Semenjak onni meninggal, bahkan sampai sekarang, kau tidak pernah pulang. Kau dimana oppa..”
Ya, kakak perempuan Hyun Su sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Saat itu dia bekerja sebagai pramugari. Kecelakaan pesawat itu menewaskan semua penumpangnya, termasuk kakak perempuan Hyun Su. Sejak saat itu, oppa-nya pun shock. Setelah prosesi pemakaman, dia pergi dan tidak pulang hingga sekarang. Hyun Su berpikir, mungkin oppa-nya itu ingin menenangkan diri sejenak. Maklum, dia memang sangat menyayangi kakak perempuannya itu. Onni adalah sosok yang sangat dikagumi oleh Hyun Su dan oppa-nya. Kakak yang sangat baik. Bahkan semua orang akan bahagia jika memiliki kakak sebaik dia, yang perhatian terhadap adik-adiknya melebihi dirinya sendiri.
Namun 3 tahun sudah berlalu. Oppa tidak kunjung pulang. Tidak ada yang tahu dimana ia berada sekarang. Hyun Su sangat merindukannya..
Perlahan Hyun Su menghapus air matanya. Ia berusaha untuk tidak mengingat lagi kenangan itu, meskipun sulit. Hyun Su membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menutup album fotonya, lalu memeluknya erat. Sampai akhirnya Hyun Su pun tertidur.
***
Keesokan harinya, aktivitas sebagai model pun dimulai. So Yon dan Hyun Su terlihat akrab, meskipun mereka baru saja kenal beberapa hari yang lalu. Saat sesi pemotretan sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan pakaian casual. Sepertinya dia juga seorang model. Dia terlihat sedang mencari seseorang.
So Yon menatap pria itu lebih jauh. Hey, itu kan pria yang kemarin ada di minimarket tempatnya bekerja?! Yang membuatnya salah tingkah hingga wajahnya memerah?! “Wah, beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya lagi. Tapi siapa yang dia cari? Apa aku? Hhihi..”
So Yon sedang asik dengan pikirannya tentang pria itu, tiba-tiba Hyun Su menyikutnya.
“So Yon a! Pria itu tampan ya! Hehehe,”
Lamunan So Yon langsung saja buyar. “Eh? Emhh, ya.. Tampan..” katanya terbata-bata tanpa melepas pandangannya dari pria itu.
“Hmm, dasar oppa! Harusnya wajah tampannya itu disembunyikan saja, biar tidak ada yang tahu.. Hahaha,” Hyun Su tertawa. Spontan So Yon langsung memalingkan pandangannya ke Hyun Su dengan sangat cepat.
“Eh? Kau mengenalnya?” Tanya So Yon.
Belum sempat Hyun Su menjawab, pria itu datang menghampiri mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Bukan ke arahku, pikir So Yon. Dia melihat Hyun Su yang disebelahnya juga melambaikan tangan. Pria itu datang lalu mencium pipi kanan dan kiri Hyun Su. Eh?? Ada apa ini??
*to be continued*
don't take and copy this ff !!!
0 komentar:
Post a Comment