FF "Shoes in Love" Part 5
>> Sunday, April 25, 2010
Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^
------------------------------------------------------------------
So Yon membuka pintu mobil, lalu melihat ke arah Jun Su, memastikan apa dia sudah bangun atau belum. Tapi Jun Su tidak ada disana. Ya, Jun Su tidak ada di dalam mobil. Kemana dia??
So Yon menutup pintu mobilnya. Kopi hangat yang sejak tadi ia pegang dijatuhkan begitu saja. Yang ada di pikirannya hanya Jun Su. Kemana dia sebenarnya? Kenapa menghilang begitu saja? Saat dia berbalik hendak mencari Jun Su, tiba-tiba dia menabrak sosok yang ada di hadapannya. Barang yang dibawa orang itu pun jatuh.
“Ah maaf, maafkan saya,” So Yon membungkuk meminta maaf, mengambil barang yang terjatuh tadi lalu menengadah, melihat siapa orang yang ditabraknya tadi. “Kau.. ”
***
-Jun Su POV-
Aku terbangun dari tidurku. Lalu melihat sekelilingku, Sepertinya aku sudah sampai. Tapi kenapa So Yon tidak membangunkanku? Dan kemana dia?
Aku pun turun dari mobil, mencari sosok So Yon. Akhirnya mataku menemukannya. Dia terlihat sedang membeli kopi hangat. Mungkin dia lelah, pikirku. Akhirnya aku pun masuk ke rumah, mengambil sepatu yang akan dipinjam So Yon untuk temannya yang akan bertunangan.
Tidak lama aku pun kembali keluar. So Yon terlihat sedang membuka pintu mobil membawa dua cup kopi hangat. Tunggu, kenapa dua? Apa yang satu lagi untukku? Aneh, kenapa dia musti sebaik itu hanya karena mau meminjam sepatu? Padahal kan biasanya dia galak padaku, tapi kenapa sekarang malah peduli?
Tanpa sadar aku malah terus memikirkannya. Ayolah Jun Su, lupakan! Kalau sepatu ini sudah dikembalikan nanti, pasti dia galak lagi. Fiuh..
Aku pun berjalan ke arahnya dengan kotak sepatu di tanganku. Dia terlihat sedang sibuk mencariku. Saat aku akan menegurnya, tiba-tiba dia berbalik dan menabrakku. Kotak sepatuku pun terjatuh.
Sesaat dia berada di pelukanku tadi. Kepalanya menyentuh dadaku, membuat jantungku berdetak tak karuan. Wangi rambutnya pun tercium olehku, membuatku ingin mengelusnya. Tapi aku mengurungkan niatku. Hey, kenapa aku jadi deg-degan begini??
“Ah maaf, maafkan saya,” katanya sambil mengambil kotak sepatuku yang terjatuh. Lalu dia menengadah. Dia tampak kaget.
“Kau…” So Yon menatapku. Aku terdiam, menatap wajahnya yang terlihat khawatir. Apa dia khawatir karena aku? Tapi kenapa bisa? Dan anehnya, kenapa aku merasa senang?
Kami terdiam, saling menatap. Tiba-tiba So Yon membuyarkannya. “Jun Su a, kau ini kemana? Aku kira kau diculik tadi.” Katanya, terlihat salah tingkah.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Diculik? Bagaimana bisa? Tanpa sadar aku mengacak-ngacak rambutnya, lembut -seperti sudah akrab-. “Aniya, aku tidak diculik kok. Aku tadi hanya masuk ke rumah sebentar untuk mengambil sepatu yang mau kau pinjam. Jangan khawatir..”
Tunggu, kenapa aku berkata seperti itu? Ada apa denganku? Jun Su ya! Wae yo??
So Yon terlihat keheranan, lalu tersenyum. Aneh, dia sama sekali tidak marah. Bahkan dia tidak menepis tanganku yang masih ada di atas kepalanya. Wajahnya terlihat memerah. Aku pun menurunkan tanganku dari atas kepalanya. Gawat aku salah tingkah! Kenapa bisa begini!
“Ah, maaf. Oh ya itu sepatunya. Jaga baik-baik ya.” Kataku sambil menunjuk kotak sepatu yang sejak tadi masih ada di genggaman So Yon. “oh, emh, iya.. Terima kasih ya. Setelah pertunangan temanku selesai, aku pasti akan segera mengembalikannya.”
Aku hanya terdiam tanpa melepas pandanganku dari So Yon. So Yon terlihat salah tingkah *lagi*.
“Ah baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya.” Kata So Yon cepat. Dia lalu berbalik, membuka pintu mobilnya. Tapi tangan ini tiba-tiba saja menahan dan menariknya.
-end Jun Su POV-
***
-So Yon POV-
Aku membuka pintu mobilku. Oh Tuhan, kenapa aku jadi salah tingkah begini? Aku harus cepat pergi sebelum Jun Su memergoki aku yang salah tingkah sejak tadi. Mungkin wajahku juga sudah seperti kepiting rebus sekarang.
Tapi tiba-tiba Jun Su memegang tanganku, menahanku dan menarikku ke pelukannya. Eh? Ada apa ini?
Sejenak aku tidak bisa berpikir. Anehnya, aku tidak menolak. Aku membiarkan tubuh ini berada di pelukan Jun Su. Dia memelukku erat sekali. Hangat. Nyaman sekali sampai-sampai aku memejamkan mataku.
Tidak lama aku pun tersadar dari tingkahku. Perlahan aku melepas pelukan Jun Su, menatapnya, lalu masuk mobil dan pergi meninggalkan Jun Su sendiri. Oh Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi.. Dan apa yang aku rasakan ini..
-end So Yon POV-
***
(di tempat lain)
Hyun Su sedang berada di rumah Yoo Chun. Mereka sedang mengobrol dengan orang tua Yoo Chun untuk membicarakan konsep pertunangan mereka minggu depan. Tiba-tiba handphone Hyun Su berdering.
“Maaf umma, appa, oppa, aku menerima telepon dulu..” Hyun Su memang terbiasa memanggil orang tua Yoo Chun dengan sebutan umma dan appa, sudah seperti orang tua sendiri. Hyun Su pun memisahkan diri lalu mengangkat teleponnya.
“Oh, So Yon a. Ada apa?”
Tidak ada jawaban.
“So Yon a…” Hyun Su sekali lagi memanggil lawan bicaranya di telepon.
Tetap tidak ada jawaban.
“Ya So Yon a! Kau disana? Jawab aku!” Hyun Su mulai panik.
“Hyun Su a, pendengaranku bisa rusak kalau kau berteriak seperti itu,” jawab So Yon pelan.
“Kau ini membuatku khawatir saja. Kenapa lama sekali tidak menyahut tadi?” tanya Hyun Su mulai tenang.
“Hyun Su a..” Suara So Yon terdengar pelan, lemah sekali.
“Hei kau kenapa? Kau sakit?” tanya Hyun Su.
“Mullaseo. Aku juga tidak tahu. Pikiranku kacau sekali Hyun Su a,” kata So Yon lemas.
“Ya, kau dimana sekarang?”
“Aku di taman tengah kota.”
“Tunggu aku akan segera kesana!” Hyun Su menutup teleponnya tanpa membiarkan So Yon berbicara. Dia pamit pada orang tua Yoo Chun dan juga Yoo Chun.
“Umma, appa, oppa, maaf sepertinya aku harus pergi dulu. Tampaknya temanku sedang dalam masalah..”kata Hyun Su.
“Oh begitu ya. Kalau begitu konsep pertunangan kalian biar kami yang atur saja ya,” kata appa-nya Yoo Chun sambil menunjuk dirinya dan umma-nya Yoo Chun.
“Baiklah appa. Maaf ya merepotkan. Terima kasih umma, appa..” kata Hyun Su.
“Ah kau ini, tenang saja. Serahkan saja pada kami.. Chunnie ya, ayo antarkan Hyun Su.”
“Baiklah umma. Hyun Su a, aku antar ya,” kata Yoo Chun sambil berdiri. Namun Hyun Su menolaknya.
“Aniya oppa, aku pergi naik taksi saja. Tidak jauh dari sini kok. Hanya di taman kota. Aku harus bertemu So Yon, sepertinya dia membutuhkan aku. Ini urusan perempuan oppa..” katanya sambil mengedipkan mata.
“Ah, begitu rupanya. Baiklah kalau begitu. Aku antar kau sampai dapat taksi ya,” kata Yoo Chun lagi. Hyun Su mengangguk.
“Hati-hati ya Hyun Su a..” kata ibunya Yoo Chun.
“Ya umma. Aku pergi dulu ya,” Mereka pun pergi.
***
Yoo Chun menemani Hyun Su sambil menunggu taksi datang sambil mengobrol.
“So Yon kenapa chagi?” tanyanya.
“Entahlah. Tadi di telepon suaranya lemas. Sepertinya dia sedang sakit. Aku jadi khawatir,” jawab Hyun Su.
“Chagi ya, kau ini sejak dulu memang tidak pernah berubah ya. Perhatian sama semua orang,” kata Yoo Chun manja sambil mengacak-ngacak rambut Hyun Su.
“Ah oppa ini berlebihan ah.. Hehe,” Hyun Su menyikut Yoo Chun. “Ah, itu taksinya datang. Aku pergi ya oppa,”
“Baiklah. Kalau ada apa-apa telepon aku ya chagi. Hati-hati..” kata Yoo Chun sambil membukakan pintu taksi.
“Ya oppa. Bye..”
***
Hyun Su sampai di taman kota lalu mencari sosok So Yon. Dimana dia? Lalu dia melihat seorang gadis sedang duduk termenung dengan pandangan kosong. Itu So Yon!
Hyun Su pun menghampirinya. “Ya So Yon a! Kau ini kenapa?” tanyanya sambil merangkul So Yon. Dengan refleks So Yon menyandarkan kepalanya di bahu So Yon.
“Hyun Su a.. Aku ini kenapa.. Kenapa perasaanku begini.. Aku tidak mengerti.. Aku..”
“So Yon a.. Ceritakanlah padaku. Sebenarnya ada apa?” tanya Hyun Su.
So Yon melepaskan sandarannya. Dia kembali duduk termenung dengan pandangan menerawang ke bawah. “Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi padaku. Tapi tadi aku merasakan perasaan yang aneh. Padahal biasanya setiap bertemu dengannya aku selalu bertengkar. Bahkan tidak bisa akur. Tapi tadi..”
“Dengan siapa? OB itu?” potong Hyun Su.
“Ya. Si OB itu…” jawab So Yon sambil mengangguk perlahan. “Tadi sepertinya dia berbeda Hyun Su a.. Padahal niatku hanya berpura-pura baik supaya aku bisa meminjam sepatunya untuk pertunanganmu minggu depan, tapi entah kenapa perasaanku malah jadi begini. Dia juga sama, terlihat aneh. Bahkan dia memelukku..”
“Apa? Memelukmu?” Hyun Su kaget.
“Ya begitulah. Tapi anehnya aku tidak menolaknya. Hyun Su a, aku tidak mengerti..” So Yon menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Kebingungan terpancar dari dirinya.
Hyun Su memperhatikan tingkah So Yon, lalu ia mengangguk dan tersenyum, “Ah, aku rasa aku tahu apa yang kau rasakan itu So Yon!”
So Yon mengalihkan pandangannya pada Hyun Su, serius. “Benarkah? Apa??”
“Ya. Kau tahu? Kau itu sudah jatuh cinta padanya. Aku rasa kalian saling menyukai,” angguk Hyun Su mantap.
“Mwo? Tidak mungkin Hyun Su a! Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya! Aku dan dia itu tidak pernah akur! Setiap bertemu selalu saja bertengkar! Bahkan aku dan dia sudah jarang bertemu. Baru tadi aku bertemu dengannya lagi karena kebetulan dia baru diterima bekerja di minimarket tempatku kerja part-time!” So Yon berusaha menepis pendapat Hyun Su, namun Hyun Su tertawa kecil.
“Haha, kau ini So Yon! Justru karena kalian tidak akur, maka tumbuhlah benih-benih cinta. Ada pepatah mengatakan, jangan kau terlalu benci pada seseorang, sebab nantinya kau malah akan sangat mencintainya, begitu pula sebaliknya. Nah, karma ini sekarang kena padamu So Yon.. Apalagi setelah beberapa lama tidak bertemu, kalian akhirnya dipertemukan di tempat kerja yang sama, itu kan jodoh namanya. Berarti Tuhan memang menakdirkan kalian untuk bertemu lagi, benar kan?!” jelas Hyun Su panjang lebar. So Yon terdiam. Mungkin saja itu benar, pikirnya.
“Tapi Hyun Su a…” So Yon sekali lagi berusaha menepis.
Hyun Su memotong perkataan So Yon, lalu duduk menghadapnya sambil memegang kedua bahu So Yon, berusaha meyakinkannya,” So Yon a, dengarkan aku ya.. Cinta itu datang tanpa diduga. Cinta itu bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan bagaimana pun, tidak ada seorangpun yang tahu itu. Perasaan yang kau rasakan sekarang adalah cinta. Kau tidak bisa menepisnya, karena bagaimana pun juga, rasa itu tidak akan bisa kau hilangkan. Malah akan semakin tumbuh dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Itulah yang namanya cinta, So Yon a.. Kau mengerti??”
“Hyun Su a..” So Yon tertunduk. Hyun Su memeluknya. Membiarkan So Yon menangis di pelukannya.
“Kau harus berjuang mendapatkan cintamu So Yon a.. Aku pasti akan membantumu..” hibur Hyun Su.
“Sudahlah jangan menangis lagi ya..” Hyun Su melepas pelukannya. So Yon masih sedikit terisak.
“Ah ya, aku jadi ingat. Kau bilang kau kan pinjam sepatu untukku dari si OB itu ya? Mana sepatunya? Aku ingin lihat,” Hyun Su terlihat bersemangat. So Yon menghapus air matanya dan mulai tersenyum.
“Kau ini, bersemangat sekali dengan sepatu ini,” ujar So Yon sambil mengambil kotak sepatu disampingnya dan menyerahkannya pada Hyun Su.
“Tentu saja. Ini kan sepatu untuk acara pertunanganku. Lagipula kau bilang modelnya bagus kan, makanya aku penasaran, sebagus apa sih.. Hehe,” Hyun Su mengambil kotak sepatu itu dari tangan So Yon. “Aku lihat ya,” So Yon mengangguk.
Perlahan Hyun Su membuka kotak sepatu itu. Dia terlihat kaget saat melihat isi kotak itu.
“Ah, ini!”
*to be continued*
don't take and copy this ff !!!
0 komentar:
Post a Comment