FF Special White Day "With All My Heart" PART 7 [END]
>> Wednesday, March 17, 2010
Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita
-------------------------------------------------------------
Tepat pukul 11. Namun ChangMin tidak juga muncul. Apa dia lupa dengan janjinya? Atau dia terlambat lagi? JaeJoong mulai resah. Tiba-tiba mobil YunHo berhenti dihadapannya.
“Boojae a! Cepat ikut aku!” YunHo menyuruh JaeJoong naik mobilnya.
“Tapi, aku belum bertemu ChangMin, Yun..” ucap JaeJoong.
“Ayo cepatlah! Ini gawat! Ini tentang ChangMin! Ternyata dia di rumah sakit sekarang! Dia sakit parah!” YunHo menjelaskan.
“Mwo?” JaeJoong kaget. Mereka pun langsung pergi ke rumah sakit.
(di rumah sakit)
JaeJoong dan YunHo mencari ruangan tempat ChangMin dirawat. JaeJoong terlihat sangat khawatir. Berkali-kali dia menabrak orang yang dia lewati, lalu bertanya ke semua suster, sampai akhirnya dia melihat umma JunSu dan appa YooChun disana, menangis.
“Umma! Appa!” JaeJoong berlari ke arah orang tuanya, diikuti YunHo.
“JaeJoong a..” JunSu memeluk anaknya itu. YooChun pun melakukan hal yang sama.
“Mana ChangMin? Mana? Aku ingin bertemu dengannya, dimana dia? bagaimana keadaannya? Umma, appa, katakan padaku!” JaeJoong mulai kehilangan kendali.
“JaeJoong a.. Sabar ya nak..” YooChun appa berusaha menghibur.
“Mwo? Appa ini berkata apa? Aku tanya mana ChangMin? MANA?” JaeJoong mengerang.
“Itu, disana..” JunSu umma menunjuk ke arah sebuah kamar. Banyak keluarga ChangMin disana, menangis. Apa yang terjadi? JaeJoong berlari ke arah kamar itu, melihat ke dalam ruangan melalui kaca di pintu. Terlihat para dokter disana sedang membereskan alat-alat. Di sebelah dokter itu terbaring sosok ChangMin, pucat. Dokter perlahan menutup wajah ChangMin dengan kain putih. JaeJoong berteriak tidak percaya. “Andwe.. andwe.. ANDWEEEEEEEEEE,” JaeJoong menangis histeris. YunHo menghampiri dan memeluknya.
“Andwe! Ini semua bohong kan.. Ini hanya mimpi kan.. Tidak mungkin ChangMin pergi. Dia belum menepati janjinya.. kita harus bertemu hari ini di taman.. ChangMin belum menepatinya.. Andwe.. MINNIE YA!!” JaeJoong berteriak di pelukan YunHo. JunSu umma dan YooChun appa datang dan memeluknya. “Minnie ya…” JaeJoong terus menangis.
“JaeJoong a.. Sebelum pergi, ChangMin menitipkan ini pada umma, untukmu..” JunSu umma memberikan sebuah amplop berisi surat. JaeJoong meraih surat itu dengan air mata yang terus mengalir. Dia pun duduk di salah satu kursi rumah sakit, di sebelah kamar ChangMin. Perlahan ia membuka amplop itu. Ada beberapa lembar kertas disana, dan sebuah cincin. JaeJoong menggenggam cincin itu, lalu perlahan membuka surat dan membacanya.
“Dear Joongie..
Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi.. Aigoo~ kau pasti sedang menangis ya sekarang. Maafkan aku ya sudah membuatmu menangis.. Maafkan aku juga karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk bertemu denganmu, karena aku pikir waktuku tidak akan cukup. Tapi aku tetap ingin mengucapkan Selamat hari White Day Joongie-ku.. Sesuai janjiku, aku pasti memberi surprise padamu. Aku berikan cincin ini untukmu. Kau tahu, tadinya aku ingin memberikannya saat aku menikah denganmu. Tapi aku tahu itu tidak mungkin, jadi aku memutuskan untuk memberimu saat White Day ini..”
JaeJoong memandang cincin yang ada di genggamannya. Air matanya kembali deras menghujam di pipinya. Lalu perlahan ia membaca kembali surat ChangMin.
“Joongie ya. Maafkan aku karena selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku takut kau akan sedih jika kau mengetahuinya.. Maafkan aku juga karena telah menghilang dan membuatmu cemas. Tapi aku sudah berjanji akan mengatakan hal ini padamu saat White Day. Ya, meskipun aku tidak bisa menceritakan langsung padamu, tapi ijinkan surat ini mewakilinya ya.. Aku janji aku akan menceritakan semuanya padamu, tidak akan ada yang terlewat..
Joongie ya.. Kau tahu.. Saat kau menemani YunHo berkeliling sekolah, aku sedang berjalan menyusuri lorong menuju lantai 3. Aku mau meminjam catatan Si Won untuk kita belajar bersama. Tapi saat aku akan menaiki tangga, tidak sengaja aku melihat kau dan YunHo berciuman. Ya, aku tahu itu tidak sengaja. Tapi kejadian itu membuatku sakit. Aku tak kuat melihatnya, dan akhirnya aku pun pergi dari sana. Hatiku sangat sedih. Tapi aku tidak ingin terlihat sedih di depanmu.
Malam harinya saat aku di rumahmu, aku berusaha untuk melupakan semuanya. Aku terus berbicara hal yang lucu di depanmu, tapi kau sama sekali tidak menyimakku. Aku tahu kau sedang memikirkan YunHo saat itu. Aku mencoba membuyarkan lamunanmu, tapi kau terus diam tidak mempedulikanku. Dengan sedikit bercanda, aku memukul kepalamu, membuyarkan lamunanmu sekali lagi. Barulah kau menyadari kehadiranku. Aku kecewa sekali. Aku juga tahu saat itu kau ingin menceritakan semuanya padaku. Tentang apa yang kau lamunkan hingga melupakan kehadiranku. Tapi aku pikir aku tidak akan sanggup mendengarnya. Akhirnya aku membahas Valentine denganmu. Aku tidak kuat menahan air mataku, akhirnya aku pun buru-buru pulang.
Di perjalanan pulang, kepalaku tiba-tiba sakit, dan aku pun tidak ingat apa-apa lagi. Saat sadar aku sudah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan kalau aku menderita kanker otak stadium tinggi. Dan dia memvonis hidupku hanya sebulan lagi. Aku kaget mendengarnya. Aku masih ingin hidup lebih lama, Joongie.. Kau tahu? aku benar-benar hancur saat itu. Memikirkan hidupku, juga kau dan YunHo..
Keesokan harinya saat Valentine, aku terus memikirkan hal ini. Jika memang waktuku tinggal sedikit lagi, aku ingin menemanimu sebelum aku pergi. Memberikan segalanya untukmu, membahagiakanmu di saat-saat terakhirku. Akhirnya aku menghabiskan semua uangku untuk membelikanmu mawar putih dan kalung emas putih. Tapi kau tahu, sulit sekali menemukannya. Aku berlari mengitari semua toko di Seoul, mencari semua itu, hingga aku sadar aku pun terlambat menemuimu di taman gara-gara ini. Maafkan aku..
Aku sengaja ingin menghabiskan Valentine seharian bersamamu. Mungkin ini akan jadi Valentine terakhir untukku. Sampai malam pun tiba dan waktunya aku mengantarmu pulang. Sedih sekali rasanya. Aku masih ingin bersamamu, masih ingin terus menemanimu Joongie..
Dengan berat hati aku pun melepasmu pulang. Setelah mengantarmu sampai depan rumah, aku pun melangkahkan kakiku untuk pulang. Belum jauh dari rumahmu, aku kembali berbalik, ingin melihatmu lagi. Tapi yang kulihat adalah YunHo. Dia datang dan mengajakmu pergi. Karena penasaran, aku pun mengikuti kalian ke taman tanpa kalian tahu. Dan tidak sengaja aku mendengar semua pembicaraan kalian. Aku mendengar kisah masa lalu kalian, bahwa ternyata YunHo adalah cinta pertamamu yang dulu selalu kau tunggu di taman itu. Hatiku sangat sakit mendengarnya. Aku juga melihat kalian berpelukan, sangat erat. Seakan melepas kerinduan kalian selama ini. Aku tidak sanggup lagi, akhirnya aku pun pulang dengan langkah lemas.”
JaeJoong semakin larut dalam tangisannya. Tangisannya terus menjadi, sampai bahunya berguncang tak karuan. Sesaat dia menghapus air matanya, lalu kembali membaca.
“Keesokan harinya saat aku pergi sekolah, aku kembali merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Seseorang membawaku ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, aku melihatmu sedang menemani YunHo yang juga sedang sakit. Saat itu mataku dan matamu bertatapan, tapi kemudian terhalang oleh dokter-dokter yang sibuk memeriksa keadaanku. Kau tau Joongie, saat itu aku ingin sekali memanggilmu, ingin kau juga menemaniku seperti kau menemani YunHo. Tapi aku tidak bisa. Rasa sakit di kepalaku membuatku terus mengerang kesakitan, tidak bisa mengucap namamu.
Aku dirawat di rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih. Aku sengaja tidak memberitahumu dan juga sekolah, karena aku tidak mau kalian semua khawatir, terlebih kau Joongie. Tepat saat ulang tahunku, aku meminta ijin pada dokter untuk sekolah. Hanya hari itu saja, setelah itu aku janji aku akan kembali ke rumah sakit. Dokter pun mengijinkan. Aku pun masuk sekolah saat itu.
Pagi hari saat pergi ke sekolah, aku bertemu YunHo. Banyak hal yang aku bicarakan dengannya. Dari pengakuan YunHo terhadap perasaannya padamu, aku pun akhirnya tahu siapa yang bisa menggantikanku untuk menjagamu setelah aku pergi. Ya, YunHo-lah orang yang tepat. Dia memiliki ketulusan lebih dari yang aku berikan padamu. Aku bisa melihat itu dari sorot matanya, benar-benar tulus..
Di hari yang sama, saat kita pergi ke pantai, aku tahu YunHo mengikuti kita. Itulah saatnya aku memutuskan untuk menyatukan kembali kau dengan YunHo, dan waktunya buatku untuk melepasmu pergi. Perasaanku campur aduk saat itu. Di satu sisi aku sedih karena aku harus kehilanganmu, tapi di sisi lain aku juga senang karena aku berhasil menemukan kebahagiaan untukmu, yaitu YunHo. Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang. Walau aku senang saat kau memutuskan untuk memilihku, bukan memilih YunHo, tapi aku tetap tidak bisa.. Karena hidupku tidak akan lama lagi.. Aku tidak bisa menemanimu selamanya. Andai saja aku tidak sakit dan Tuhan masih memberiku umur panjang, aku pasti tidak akan melepasmu Joongie..Karena aku sangat mencintaimu..
Setelah itu, aku pun kembali ke rumah sakit, menjalani hari-hari terakhirku disana..
Joongie ya.. Maafkan aku ya.. Aku melakukan ini semua untukmu. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku tidak mau kebahagiaanmu hancur saat aku pergi. Karena itulah aku memilih YunHo untuk kebahagiaanmu. Kau tahu kenapa? Karena aku tahu jauh di dalam lubuk hatimu, kau masih sangat mencintainya dan selalu menunggunya pulang..
Kini dia sudah kembali padamu. Berjanjilah padaku, kau akan selalu bahagia bersamanya. Janji ya!
Jangan bersedih lagi ya Joongie.. Karena meskipun aku tidak ada di hadapanmu lagi, aku akan selalu ada di hatimu.. Aku mencintaimu Joongie.. Selamanya..
With Love,
ChangMin”
JaeJoong menutup surat ChangMin dan kembali menangis. “Kenapa semua terjadi begitu cepat.. Bahkan aku belum mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal padamu Min.. Terima kasih atas pengorbanan cintamu demi aku dan YunHo.. Minnie a, aku janji padamu. Aku akan bahagia bersama YunHo. Kau tidak usah khawatir ya,” batin JaeJoong. Tangisnya semakin menjadi. YunHo menghampiri JaeJoong dan segera memeluknya, menghiburnya hingga dia tenang.
Selamat jalan Min..
***
(satu tahun kemudian)
“Hei, cepat. Mana pengantin wanitanya? Sudah mau dimulai nih acaranya,” Eun Hyuk mencari sang pengantin yang belum muncul juga. YunHo tersenyum melihat Eun Hyuk.
“Eun Hyuk a! Aku yang menikah koq kamu yang sewot sih? Hahaha… Tenang saja, dia sebentar lagi keluar dari kamar riasnya,” YunHo menepuk bahu Eun Hyuk.
“Ya tentu saja aku sewot! Ini pernikahan sahabatku, jadi harus perfect tau!” Eun Hyuk pun tersenyum pada YunHo, lalu merangkulnya.
“Hehehe gomawo Eun Hyuk a..” YunHo membalas rangkulan Eun Hyuk.
(di kamar rias pengantin)
“Aigoo, lihat anak umma ini. Manis sekali! Gaunnya memang sangat cocok untukmu!” JunSu umma memuji.
“Tentu saja umma, anak siapa dulu dong.. Hehe,” JaeJoong memeluk umma-nya.
“Hei, anak appa juga dong..” YooChun appa ikut memeluk JaeJoong.
“Hahaha…” semua tertawa.
“Ayo siap-siap nak. Sudah mau dimulai acaranya,” JunSu umma menyuruh JaeJoong cepat.
“Sebentar lagi umma. Umma dan appa duluan saja. Aku masih ingin menata riasanku sedikit,” jawab JaeJoong.
“Baiklah, cepat ya,” JunSu dan YooChun pun keluar meninggalkan JaeJoong.
JaeJoong membuka laci di bawah meja riasnya. Sebuah kotak tersimpan disana. Dia membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah kalung dan cincin, pemberian ChangMin. JaeJoong menggenggamnya. “Minnie a, kau lihat? Aku akan menikah sekarang,” JaeJoong tersenyum, memandang cincin dan kalungnya sejenak. Lalu kembali meletakkannya di kotak, dan menyimpannya di laci.
JaeJoong keluar dari kamar rias, didampingi YooChun appa. YunHo yang melihatnya berdecak kagum. “Boojae, manis sekali..”batin YunHo.
Mereka pun akhirnya menikah. JaeJoong dan YunHo mengikrarkan janji suci sehidup semati. Semua hadirin disana bersorak bahagia melihat pernikahan mereka yang indah ini.
Di tengah pesta meriah yang sedang berlangsung, terlihat JaeJoong melangkah ke sebuah balkon, memisahkan diri dari hadirin yang lain. Raut bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Sesaat dia memandang langit yang cerah, menikmati segelas sampanye di tangannya. Langit hari ini benar-benar cerah, pikirnya. Tiba-tiba YunHo datang menghampiri JaeJoong.
“Boojae ya.. kenapa memisahkan diri dari yang lain?” tanya YunHo.
“Aku ingin menikmati hari ini di bawah langit yang cerah Yunnie ya..” jawab JaeJoong, tersenyum sambil terus memandang langit.
“Hmm.. begitu ya.. langit hari ini memang cerah,” YunHo ikut memandang langit, tersenyum.
“Minnie pasti sedang melihat kita di atas sana..” ucap JaeJoong. YunHo mengalihkan pandangannya ke JaeJoong. Lalu merangkulnya, dan kembali menatap langit.
“Hei ChangMin a! Kau lihat, aku dan JaeJoong sangat bahagia sekarang. Kau jangan khawatir. Aku akan menepati janjiku. Aku akan membahagiakan JaeJoong selamanya, sampai maut memisahkan kita. Kau dengar itu ChangMin a?? Aku janji akan menjaga JaeJoong untukmu, juga demi cintaku padanya,” YunHo berkata pada langit, berharap ChangMin ada disana dan mendengarkan semuanya. JaeJoong melirik YunHo, tersenyum lalu membalas rangkulan YunHo.
“Yunnie ya.. benarkah itu?”
YunHo menatap JaeJoong dalam-dalam, mengelus pipinya yang lembut lalu menjawab, “Tentu saja Boojae..”
Muka JaeJoong memerah. “Yunnie ya.. Oh ya kalau begitu, bagaimana kalau kau tidak menepati janjimu?” JaeJoong berusaha membelokkan topik pembicaraan, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti apel merah saking senangnya.
“Eh? Hmm itu belum kupikirkan. Tapi kalau memang begitu, hei ChangMin a! Kau hantui aku saja tiap hari ya! JaeJoong juga kau hantui saja! Hahaha,” canda YunHo. JaeJoong mencubit perut YunHo gemas, “Yunnie ya!”
“Hahaha,” YunHo tetap tertawa. JaeJoong terus mencubit perutnya manja. Perlahan ia menghentikan tawanya, menggenggam tangan JaeJoong lalu berkata, “Joongie ya.. Aku tidak akan ingkar janji. Yang kucintai di dunia ini hanyalah kau. Dan pasti aku akan membahagiakan orang yang kucintai. Percayalah padaku..”
“Yunnie ya..” JaeJoong memeluk YunHo erat. YunHo pun membalas pelukan JaeJoong.
“Aku mencintaimu Boojae a..”
“Aku juga mencintaimu Yunnie ya.. Yeongwonhi (selamanya)..”
Mereka pun larut dalam kebahagiaan.
“Minnie ya.. apa kau melihatku di atas sana? Aku sudah bahagia sekarang.. Sangat bahagia.. Terima kasih Minnie ya.. Semoga kau juga bahagia di alam sana,” batin JaeJoong dalam hati, tersenyum.
[END]
0 komentar:
Post a Comment