FF Special White Day "With All My Heart" PART 3

>> Wednesday, March 17, 2010

Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita

-------------------------------------------------------------

(hari Valentine)

JaeJoong menunggu ChangMin di taman tempat biasa mereka bertemu. Hampir satu jam sudah dia menunggu. Tumben, biasanya ChangMin tidak pernah telat, bahkan dia selalu datang lebih awal dariku, pikir JaeJoong. Tak lama seseorang menepuknya dari belakang. JaeJoong berbalik, namun tidak ada siapa-siapa disana. Hmm, aneh.

JaeJoong kembali berbalik, dan ChangMin sudah berdiri tepat di hadapannya, membuat dirinya kaget.

“Minnie ya, kau ini mengagetkanku saja. Lama sekali kau baru datang..” JaeJoong mengeluh.

“Joongie ya, maaf ya.. sebagai permintaan maaf, aku punya hadiah buat kamu, ayo tutup matamu sekarang,” pinta ChangMin. JaeJoong pun menurut.

Tidak lama..

“Oke, sekarang buka matamu,”

JaeJoong membuka matanya, dan sontak kaget. Seikat bunga mawar putih sekarang ada di hadapannya. Ya, JaeJoong memang sangat suka mawar putih, dan sekarang ChangMin memberikan itu untuknya? Waw, dia terlihat sangat bahagia.

“Minnie ya, ini sangat cantik.. Aku suka sekali. Darimana kau tahu aku suka mawar putih?”

“Joongie, aku tahu segalanya tentangmu. Bahkan yang kau tidak tahu pun aku pasti tahu, karena aku mencintaimu,” jawab ChangMin sambil memegang tangan JaeJoong. “Nah, ini terimalah untukmu,”

“Terima kasih Min…” belum selesai JaeJoong berbicara, ChangMin memotongnya, dan menarik kembali bunga mawar putih itu sebelum JaeJoong sempat menerimanya. “Eits tunggu dulu,”

“Eh?” JaeJoong heran.

“Di sela-sela bunga ini ada kejutan kedua untukmu. Kau harus mencarinya sampai ketemu ya! Kalau tidak ketemu, bunga ini harus dikembalikan padaku,” kata ChangMin, membuat JaeJoong penasaran.

“Eh? Kejutan lagi?”

“Yap, ayo cari! Ini bunganya. Harus ketemu ya,” ChangMin menyerahkan bunga itu pada JaeJoong.
JaeJoong pun menerima bunga itu dan segera mencari. Dia sibuk mengotak-atik bunga itu, sementara ChangMin berdiam di belakang pohon, menulis sesuatu disana tanpa JaeJoong tahu.

Saat JaeJoong sedang mencari, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang berkilau di sela-sela kelopak bunga. Indah, pikirnya. Dia segera mengambil sesuatu itu, dan dia kembali tertegun, kaget.

Sebuah kalung emas putih yang sangat cantik berada dalam genggaman tangannya sekarang. Kalung cantik itu berinisial J, dengan desain yang unik. Setiap orang yang melihatnya pasti akan menyukainya. JaeJoong seakan tidak percaya melihat semua kejutan yang diberikan ChangMin padanya.

“Bagaimana? Bagus kan? Aku yakin kau pasti akan menyukainya. Sini aku pakaikan,” ujar ChangMin sambil mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher JaeJoong.

“Minnie ya.. ini pasti mahal, darimana kau punya uang untuk membeli ini?” tanya JaeJoong.

“Sudahlah jangan pikirkan itu. Itu tidak penting. Yang penting aku bisa membuatmu bahagia, itu sudah lebih dari cukup,” ChangMin tersenyum pada JaeJoong. JaeJoong melihat ketulusan pada diri ChangMin, lebih tulus dari hari-hari biasanya. Sangat tulus. Lebih hangat dari biasanya.

“Minnie ya.. terima kasih, jeongmal gomawo..” JaeJoong menitikkan air mata.

ChangMin pun memeluk JaeJoong, “jangan menangis Joongie-ku.. aku melakukan ini bukan untuk membuatmu sedih, tapi aku ingin kau tahu, betapa aku sangat mencintaimu.. aku bisa tenang kalau sudah menunjukkan rasa cintaku padamu.. jangan menangis lagi ya,” ChangMin mengusap kepala JaeJoong dengan penuh kasih sayang.

“Aku juga mencintaimu Minnie,” isak JaeJoong.

“Sudah ah jangan menangis lagi. Nah, sekarang mana coklat untukku? Hehehe,” ChangMin melepas pelukannya dan membuka tangannya, meminta coklat pada JaeJoong, seperti seorang anak yang merengek meminta dibelikan balon pada ibunya.

“Ah ya hampir saja aku lupa,” JaeJoong menghapus air matanya dan mengambil bungkus coklat berbentuk hati dari tasnya. Coklat itu diberi pita warna merah, warna kesukaan ChangMin. Cantik sekali.
“Ini,”

“Hehehe terima kasih Joongie.. Wah, cantik sekali tampilannya.. Aku suka, gomawo,” jawab ChangMin sambil mengecup kening JaeJoong.

“Sama-sama Minnie,” jawab JaeJoong sambil memeluk ChangMin.

“Nah Joongie, ayo kita berjanji! Bulan depan saat White Day, kita bertemu lagi disini. Jam 11 ya! Aku pasti akan membalas coklat pemberianmu ini dengan lebih spesial! Kau harus datang ya!” kata ChangMin.
(note: White Day itu kebiasaan yang biasa dipakai oleh para remaja di Jepang, dimana bila kita memberi coklat saat Valentine Day 14 Februari, maka bulan berikutnya kita juga harus membalas, sebagai ucapan terima kasih. Nah aq memakai kebiasaan itu di cerita ini^^)

“Ya, aku janji,” janji JaeJoong.

Akhirnya kami berdua pun kencan seharian, mengitari kota Seoul yang ramai. Banyak pasangan yang juga tidak mau melewatkan hari Valentine ini bersama kekasihnya. Tak terasa malam pun tiba, saatnya untuk pulang.

ChangMin mengantar JaeJoong sampai depan rumah. Hari itu sangatlah berarti untuk JaeJoong, apalagi untuk ChangMin. Setelah itu ChangMin pun pulang ke rumahnya.

Saat akan memasuki rumah, seseorang memanggil JaeJoong.

“Hei Jon!”

JaeJoong menoleh. Sepertinya dia mengenal suara itu. Dan ah, siapa lagi yang memanggilnya Jon? Hanya ‘dia’ yang memanggilnya seperti itu.

“Oh, YunHo ya. Ngapain kamu kesini? Dan, darimana kau tau rumahku? Kau menguntit ya?” tanya JaeJoong curiga.

“Enak saja! Tampang tampan seperti aku ini masa dibilang penguntit sih! Aku hanya kebetulan lewat saja. Memangnya kau pikir aku sengaja mau menemuimu? Haha jangan mimpi kau,” jawab YunHo dingin.

“Lalu mau apa kau kesini?” tanya JaeJoong lagi.

“Ah, itu.. Jon, bisa kau ikut aku sebentar?” pinta YunHo. Raut wajahnya berubah menjadi hangat.

“Hei sudah kubilang aku ini JaeJoong bukan Jon! Lagipula untuk apa aku ikut kau? Mencurigakan sekali,” jawab JaeJoong. “Apa orang ini akan balas dendam padaku gara-gara ciuman yang kemarin itu?” pikir JaeJoong.

“Baiklah JaeJoong! Kim JaeJoong! Ayolah, kumohon, ikut aku sebentar saja. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu,” pinta YunHo sekali lagi. “Wah, dia tahu nama lengkapku,” pikir JaeJoong. Wajah YunHo terlihat sangat memelas. JaeJoong jadi tidak tega melihatnya.

“Aigoo, kau ini kenapa sih, aneh sekali. Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Dan satu lagi! Kau jangan macam-macam padaku! Awas kau!” ancam JaeJoong.

“Ya ya arasso..”

YunHo pun mengajak JaeJoong ke sebuah taman, tidak jauh dari rumah JaeJoong. Taman yang sangat berarti buat JaeJoong jika dia ingat masa lalunya di tempat ini. Mereka pun duduk di bangku taman, terdiam. JaeJoong sesekali melirik ke arah YunHo. Dia tampak sedang asyik menikmati langit malam itu.

“Jadi apa yang…” Jae menghentikan kata-katanya ketika YunHo momotongnya.

“Ah, kangen banget aku dengan tempat ini. Di sini banyak sekali kenangan indah dengan cinta pertamaku,” YunHo memulai kata-katanya.

“Ya, ini juga tempat yang sangat berarti bagiku,” timpal JaeJoong.

“Eh? Tunggu, kau bilang ini tempat kenanganmu? Bukannya kau katanya tinggal di Amerika?” JaeJoong yang menyadari keanehan langsung saja bertanya pada YunHo.

“Hmm.. dulu aku tinggal di Korea. Tepatnya lima tahun yang lalu, saat aku masih kelas 1 SMP. Tapi ayahku dipindahkan dari pekerjaannya di Korea ke Amerika selama 5 tahun. Ayah ingin semua keluarganya juga ikut menemani. Karena itulah keluargaku semua pindah ke Amerika,” cerita YunHo.

“Oh begitu. Jadi dulu kau sempat tinggal disini. Pantas bahasa Koreamu lancar,” timpal JaeJoong, YunHo mengangguk.

“Ya begitulah. Dulu aku sering bermain di taman ini,bermain dengan teman-temanku. Saat itu aku menolong seseorang yang aku cintai. Dia adalah cinta pertamaku, dan itu saat pertama aku muncul di hadapannya, karena aku malu jika bertatapan dengannya langsung. Tapi sayang aku tidak bisa mengenalnya lebih jauh karena aku harus pindah ke Amerika. Saat di Amerika, aku selalu memikirkannya. Bahkan semua gadis yang menyukaiku disana aku tolak, karena aku percaya aku akan bertemu lagi dengan cinta pertamaku itu. Dan aku juga yakin kalau dia juga mencintaiku. Dan sekarang aku sudah kembali ke Korea, aku ingin menjemputnya,”

JaeJoong menatap kesedihan dan kerinduan yang ada di wajah YunHo. Ternyata dibalik sifatnya yang menyebalkan, terdapat pula sisi baik dan kelembutan dalam dirinya. Entah kenapa rasanya JaeJoong sangat merasakan kerinduan yang dirasakan oleh YunHo.

Tiba-tiba YunHo memegang kedua tangan JaeJoong, membuat JaeJoong kaget. Tapi anehnya, JaeJoong sama sekali tidak menolak.

“Jae Joong a. maukah kau kembali padaku?” tanya YunHo.

“Apa? Aku? Kenapa aku?” tanya JaeJoong heran.

“Karena kaulah cinta pertamaku. Apa kau sudah benar-benar melupakanku, boojae?” jawab YunHo sambil menatap kedua bola mata JaeJoong.

“Boojae? Astaga, kau??” JaeJoong menutup mulutnya tidak percaya. Dia pun teringat kembali masa lalunya..

*flashback*
(5 tahun yang lalu di taman yang sama, saat JaeJoong baru kelas 1 SMP)

-JaeJoong POV-

“Kembalikan tasku aku mohon! Disana ada rajutan pemberian ibuku, aku mohon kembalikan..” aku berusaha merebut tasku dari SungMin, Hee Chul dan Lee Teuk. Mereka adalah tiga anak orang kaya yang selalu menggangguku.

“Apa? Rajutan? Hei teman-teman, ternyata si JaeJoong ini anak tukang rajut! Hahaha,” Hee Chul tertawa. SungMin dan Lee Teuk pun ikut tertawa.

“Hahaha dasar keluarga miskin. Anak miskin tidak pantas sekolah di sekolahan mewah, kau tau itu?” SungMin mendorongku sampai terjatuh. “Hahaha lihat, sekali dorong saja jatuh dia!”

“Tentu saja! Orang miskin kan ga punya kekuatan,” Lee Teuk menimpali.

“Hahahaha,” mereka kembali tertawa.

“Aku kan masuk sekolah ini karena beasiswa, jangan menyalahkan keadaan ekonomi keluargaku! Aku punya prestasi disini!” Aku berusaha melawan mereka bertiga.

“Oh, jadi kau mau melawan ya. SungMin, coba kau keluarkan rajutan dari tas si JaeJoong! Kita beri pelajaran dia,” perintah lee Teuk.

“Jangaannn…” aku berusaha melawan, tapi Lee Teuk dan Hee Chul memegangku dengan sangat kuat. Mereka tidak membiarkan aku mendapatkan tasku kembali.

“Oh lihat, warnanya pink! Warna perempuan! Cih,” SungMin mengeluarkan rajutan dari tasku dan menunjukkannya pada Lee Teuk dan Hee Chul.

“Cih, ayo kita bakar!” teriak Lee Teuk.

“Ayo!” Hee Chul dan SungMin tampak sangat bersemangat. Lee Teuk mengeluarkan korek api dari saku celananya, menyalakannya, kemudian.. byarr, rajutan pun terbakar di hadapanku.

“Tidaaaakk.. Jangaaaannn,” aku berteriak.

“Hahaha percuma! Dalam waktu kurang dari lima menit, rajutan ibumu ini akan menjadi abu. Dan aku tidak punya tongkat sihir untuk mengubahnya seperti semula, gimana donk? Hahaha,” ledek Hee Chul padaku.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki seumuran mereka datang menghampiri.

“Hei apa yang kalian lakukan? Cepat pergi dari sini! Atau aku akan lapor polisi!” teriak anak itu pada mereka bertiga.

“Wah ada pangeran kesiangan nih, kabur yuukk teman-teman..hahaha,” ledek Lee Teuk. Mereka pun pergi dari tempat itu.

Aku menghampiri rajutan pemberian umma yang sudah hangus terbakar. Aku pun menangis.
“Bagaimana aku mengatakan hal ini pada umma, umma JunSu pasti marah..”

Anak laki-laki tadi menghampiriku dan memakaikan sweaternya padaku.

“Kau tidak apa-apa? Jangan menangis lagi..ini aku berikan sweaterku, sebagai ganti rajutanmu yang terbakar,” kata anak itu berusaha membuatku tenang.

“Tapi, aku.. aku..” aku masih terisak-isak.

“Sudahlah, semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku, ibumu pasti akan mengerti..” kata-kata anak itu membuatku merasa lebih tenang. Aku pun berhenti menangis.

“Terima kasih ya. Kau baik sekali,” aku tersenyum padanya. Dia tampan dan baik hati, pikirku.

“Sama-sama boojae,” ujarnya.

“Boojae? Tapi namaku JaeJoong,” kataku.

“Ya aku tahu itu. Tapi aku ingin memanggilmu boojae, boleh kan? Itu panggilan khusus dariku supaya kau tidak sedih lagi,” anak itu tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Tuhan, aku menyukai anak ini..

“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya,” anak itu mengelus kepalaku, berdiri lalu berbalik dan pergi.

“Ah tunggu, namamu siapa?” teriakku.

Anak itu berbalik dan hanya memberiku senyuman yang tulus dan hangat, kemudian dia kembali berbalik dan pergi meninggalkanku. Dialah, cinta pertamaku..

Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Padahal aku selalu menunggunya di taman ini, tapi dia tidak pernah datang lagi. Tuhan, apa takdirku bertemu dengannya hanya waktu itu saja? Aku ingin bertemu dengannya lagi Tuhan..

Saat sedang sedih di bangku taman, ChangMin, sahabatku dari kecil, berusaha menghiburku. ChangMin tahu semuanya. Ya, aku selalu bercerita padanya, termasuk tentang cinta pertamaku itu. Saat itu ChangMin berkata,
“Joongie..jangan sedih lagi. kalau kau sedih aku juga ikut sedih. Kan masih ada aku.. Aku bisa menggantikan dia di hatimu, untuk menghiburmu dan menemanimu kapanpun kau mau.. aku sayang padamu Joongie, melebihi seorang sahabat. Kau mau kan meluangkan hatimu itu untukku? Aku janji aku tidak akan membuatmu sedih,”

Aku tertegun saat ChangMin mengutarakan perasaannya padaku. Aku pun berpikir, aku tidak mungkin selamanya terpuruk seperti ini. Dunia ini luas, tidak mungkin aku dapat menemukan cinta pertamaku itu. Mungkin takdirku dengannya hanya sampai disini saja. Ya, sampai disini saja. Lagipula masih ada ChangMin yang selalu ada disampingku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima perasaan ChangMin, dan kita pun pacaran.

Hingga sekarang.. sampai aku bertemu lagi dengan cinta pertamaku ini..

*end flashback & JaeJoong POV*

JaeJoong terdiam melongo, memandang YunHo yang sejak tadi terus memegang tangannya erat. Dihadapannya kini mucul sesosok pria yang tidak lain ternyata adalah cinta pertamanya.
YunHo memeluk JaeJoong dengan erat. JaeJoong tidak bisa mengelak. Dia masih tidak percaya, cinta pertamanya telah kembali. Ya, cinta pertamanya yang dulu sempat menghilang. Pantas saat bertemu YunHo di kelas, dia merasa tidak asing dengan wajahnya. JaeJoong membalas pelukan YunHo, erat.

“Jadi waktu itu, kau menghilang karena…” JaeJoong memastikan.

“Ya. Saat itu aku keburu pindah ke Amerika, dan aku belum sempat memberitahumu. Maafkan aku karena aku tiba-tiba menghilang. Tapi sekarang aku sudah kembali Boojae..aku kembali untukmu..” YunHo memeluk JaeJoong semakin erat.

“Tapi,” JaeJoong melepas pelukan YunHo. “Sekarang aku sudah punya ChangMin. Bahkan kami sudah bertunangan dan akan segera menikah. Kau terlambat Yun.. aku..” air mata JaeJoong mulai keluar.

“Boojae,” YunHo menggenggam tangan JaeJoong. “apa selama ini begitu mudahnya kau melupakanku? Aku tau kau hanya mencintaiku. Sekarang aku kembali untuk menjemputmu, aku mohon kembalilah..”

“Sudahlah YunHo, ini tidak boleh..tidak boleh..tidak boleh..andwe..andwe..andwe,” JaeJoong melepas genggaman YunHo dan pergi meninggalkan YunHo sambil menangis.

“BooJae a,” teriak YunHo, namun JaeJoong tetap berlari dan menghilang di ujung jalan. YunHo pun terduduk lemas di kursi taman. Air matanya pun mengalir. “Kenapa harus begini..” batinnya.

***
(di rumah JaeJoong)
-JaeJoong POV-

Aku membanting pintu kamarku dan menangis sejadi-jadinya. Tuhan, kenapa ini harus terjadi.. Kenapa cinta pertamaku datang lagi disaat aku sudah memiliki orang lain.. Wae..

Aku teringat dengan sweater yang dulu diberi oleh YunHo. Ya, aku memang masih menyimpannya sampai sekarang. Kubuka lemari pakaianku, meraba sudut lemari dan mengambil sweater itu dari sana. Aku memeluk sweater itu dengan hangat. Kenangan itu terus muncul dikepalaku, terngiang-ngiang di pikiranku. Tuhan, apa yang harus aku lakukan.. cintaku, cinta pertamaku, dia sudah kembali..

-end JaeJoong POV-

T.B.C

0 komentar:

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP