FF "Shoes in Love" Part 1

>> Sunday, April 25, 2010

Tittle : Shoes in Love
Cast :
Main cast :
- Xiah Jun Su TVXQ as Kim Jun Su
- Micky Yoo Chun TVXQ as Park Yoo Chun
- Mey MeyLin 사랑 시아준수 as Park So Yon
- DaieNa Micky Yoochun Cassiopeia as Kim Hyun Su
Figure cast :
- Hero Jae Joong TVXQ as Kim Jae Joong
- U-Know Yun Ho TVXQ as Jung Yun Ho
- Max Chang Min TVXQ as Shim Chang Min
Genre : Comedy-romantic
Written by : Vionita ジェジュン Cassiopeia'Peppermint aka Vio aka me^^

--------------------------------------------------------------

Pagi yang cerah menyelimuti kota Seoul. Matahari mulai memancarkan cahaya kuningnya, menembus jendela kamar apartemen So Yon yang masih tertutup gorden. Saking cerahnya, sinar matahari dapat menembus gorden dan cahayanya tepat menyoroti wajah So Yon yang masih tertidur lelap.

Merasa ada sesuatu yang menyilaukan matanya, So Yon pun terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya -hanya sedikit saja-, mencari sesuatu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Saat berhasil meraihnya, dia menatap benda itu. Perlahan membuka kedua matanya, mencari kesadaran dari tidurnya, dan berusaha menatap benda itu dengan jelas. Tidak lama ia pun terbelalak. “Astaga sudah jam 9! Gawat aku bisa-bisa terlambat!”

So Yon segera bersiap-siap. Hari ini ada wawancara di perusahaan tempat ia melamar pekerjaan. Pekerjaan yang sangat berarti untuknya. Yang selama ini dicita-citakan olehnya, yaitu menjadi seorang model. Jangan sampai mimpinya sejak kecil itu hancur hanya karena ia bangun kesiangan!

Tanpa memikirkan apapun, So Yon pun segera berangkat. Dia menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi dengan Ferarri-nya. Sepanjang jalan So Yon menjalankan mobil dengan tergesa-gesa. Tepat jam 10 saat wawancara akan dimulai, So Yon pun sampai.

Dengan langkah cepat setengah berlari, So Yon menaiki tangga dengan tergesa-gesa menuju lantai 8.

“Sial! Kenapa liftnya lagi diperbaiki segala! Aku kan jadinya harus marathon naik 8 lantai. Apa lift itu tidak tahu kalau dia bisa saja menghancurkan mimpiku! Aigoo~ sial sekali aku hari ini!” So Yon terus menggerutu sepanjang jalannya menaiki tangga. Tanpa sengaja dia menabrak seorang Office Boy yang sedang bersih-bersih. Dia pun terjatuh.

“Hei kau! Apa kau tidak punya mata hah?” So Yon memaki OB itu sambil mengambil dokumennya yang berserakan.

“Maaf, ini kelalaian saya. Maafkan saya. Biar saya bantu nona,” kata OB itu sopan. Ia mencoba membantu membereskan, tapi So Yon yang sedang emosi malah berdiri dan menyentaknya. Waw, tubuhnya lebih tinggi dari OB itu. Ya, dengan tinggi badan 180 cm untuk ukuran seorang wanita memang tidak biasa. Tapi setidaknya So Yon bisa memanfaatkan tinggi badannya itu untuk menjadi seorang model.

“Tidak usah! Ya! Kau…” sesaat So Yon melihat nama yang terpampang di seragam OB itu, dan perlahan mengejanya. “Ya! Kau! Kim… Jun… Su… Ya, Kim Jun Su! Kalau bekerja itu matanya dipake donk! Kau ini bahkan lebih pendek dariku, jadi lain kali tengadahkan kepalamu kalau sedang bekerja. Ini kan perusahaan tempat para model, dan orang yang bekerja disini pasti rata-rata badannya tinggi semua! Ingat itu! Sadar diri donk! Dasar menyebalkan! Aish~~.” So Yon pun pergi dengan langkah kesal.

“Nona tunggu…” OB itu berusaha memanggil So Yon tapi dia sudah menghilang.

“Haduh bagaimana ini..” resah JunSu sambil menatap dokumen yang masih berserakan dihadapannya.

***

So Yon pun sampai di lantai 8 dengan keringat membasahi lehernya. So Yon tidak bisa berpikir jernih. Dia masih terlalu lelah untuk marathon yang ia lakukan tadi untuk sampai ke tempat ini.

Masih ada waktu sebelum namanya dipanggil untuk wawancara. So Yon duduk di ruang tunggu, mengeluarkan tisu dari dalam tasnya lalu mengelap keringat di lehernya. Tepat saat itu, So Yon merasakan ada sesuatu yang aneh. Sepertinya tadi dia menggenggam sesuatu di tangannya, tapi apa ya?

Sejenak ia memperhatikan kedua tangannya, mencoba memikirkan apa yang aneh dari sana. Inilah kebiasaan buruk So Yon. Jika dalam keadaan lelah dan emosi, dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan hal penting apa yang ia lupakan, baik itu berupa janji, barang atau apapun itu.

Tiba-tiba di hadapannya muncul seorang lelaki pendek yang sepertinya So Yon pernah melihatnya. So Yon berpikir sejenak, berusaha mengingat lelaki ini. Hei, dia kan OB yang tadi?

“Mau apa kau?” Tanya So Yon galak.

“Maaf nona. Saya hanya ingin mengembalikan barang nona.” Jawab OB yang bernama Jun Su itu sopan sambil menyerahkan barang itu pada So Yon. So Yon tampak kaget. Itu kan dokumennya yang jatuh saat bertabrakan dengan OB itu di tangga? Ya, akhirnya dia ingat bahwa yang sejak tadi dia cari adalah dokumen penting itu. So Yon pun mengambilnya dari tangan Jun Su.

“Ya kau! Apa kau tau dokumen ini sangat penting hah? Kenapa baru sekarang kau mengembalikannya padaku? Kenapa tidak daritadi saat kau menabrakku!” bentak So Yon.

“Saya…” Jun Su terbata-bata.

“Ah sudahlah! Kau membuat emosiku naik hari ini! Cepat pergi sebelum aku menendangmu dari sini!” potong So Yon berusaha mengusir Jun Su.

“Oh My God Son..” gumam Jun Su. “Ya!” teriak Jun Su akhirnya. So Yon terperanjat kaget. Emosinya yang tadinya memuncak perlahan mulai menciut. “Wah aku pikir dia ini tidak bisa teriak, tapi ternyata bisa, bahkan sangat keras,” batin So Yon.

“Ya, kau! Apa kau tidak bisa mengucapkan terima kasih hah? Sudah bagus aku kembalikan dokumen itu padamu! Tahu kau kasar begini lebih baik aku buang saja dokumen itu tadi! Dasar tidak tahu terima kasih! Calon model macam apa kau? Sudah galak, tidak punya sopan santun pula! Aish!” Jun Su memaki So Yon dengan nada tinggi. Sepertinya kesabarannya sudah habis.

“Mwo?! Ya, kau!” So Yon berusaha melawan.

“Ah ya satu lagi!” Jun Su mengeluarkan sepasang sepatu wanita berhak tinggi, sekitar 7 cm. Lalu menyimpannya -sedikit melemparnya dengan kasar- di hadapan So Yon.

“Apa ini hah?” Tanya So Yon dengan nada emosi.

“Hei, lihat penampilanmu. Kau pikir dengan memakai sebelah sepatu kets dan sebelah lagi sepatu pantopel seperti itu, kau bisa diterima menjadi model hah?” jawab Jun Su sambil menunjuk sepatu So Yon.

“Mwo?” So Yon kaget, lalu melihat ke arah sepatunya. Dia pun tercengang. “Astaga kenapa bisa begini? Kenapa aku bisa memakai sepatu yang berbeda begini?” pikir So Yon. Ya, tadi saat pergi dia memang tidak memikirkan apapun lagi selain kunci mobil dan buru-buru. Aish!

So Yon tersenyum kecut -dipaksakan-, menatap sepatu di hadapannya, lalu kembali menatap Jun Su.

“Itu…”

“Sudahlah!” potong Jun Su. “Aku masih tetap baik padamu walaupun kau membalasnya dengan jutek dan kasar! Asal kau tahu ya, ini aku anggap hutang! Sepatu itu milik nuna-ku, dan aku pikir ukurannya cocok denganmu. Jangan lupa kembalikan padaku! Ingat itu!” Jun Su tersenyum sinis, merasa menang. Lalu ia berbalik dan pergi meninggalkan So Yon yang masih bengong.

Tepat saat Jun Su pergi, So Yon pun dipanggil untuk wawancara. Tidak ada waktu lagi. Dengan buru-buru dia membuka sepatunya yang berbeda dan menggantinya dengan sepatu yang diberikan oleh Jun Su. Jun Su benar, ukurannya memang sangat pas.

***

-So Yon POV-

Aku menghempaskan tubuhku di sofa yang empuk. Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi untung saja wawancara tadi berjalan dengan lancar. Berkat bantuan OB yang bernama Jun Su itu. Ya, kalau tidak ada dia, pasti aku gagal menjadi ‘calon’ seorang model.

Ya, Kim Jun Su.

Sejenak aku berpikir, kenapa tadi dia menolongku ya? Padahal kan aku tadi galak padanya, tapi dia tetap saja membantuku. Dan lagi, darimana dia mendapat sepatu secepat itu? Dan kenapa dia memperhatikan aku yang salah memakai sepatu? Atau jangan-jangan dia adalah penjual sepatu? Aigo~~ kenapa aku jadi memikirkannya!

Aku menatap sepatu yang dipinjamkan Jun Su. Sepatu itu memang sangat bagus, aku sangat menyukainya. Modelnya elegan, dengan hak 7 cm, cocok dipakai untuk wanita bertubuh tinggi sepertiku. Ah, andai saja sepatu ini milikku. Kalau saja aku tidak galak, pasti Jun Su si OB itu memberikan sepatu ini padaku, bukan meminjamkannya. Ah, So Yon pabo..

Andwe! Aku harus mengembalikan sepatu ini secepatnya! Aku tidak mau berurusan lagi dengan Jun Su! Lelaki itu benar-benar membuatku bingung! Misterius..

Aku menyimpan sepatu itu di kotak sepatu yang sudah kusiapkan. Besok adalah hari penentuan aku diterima atau tidak menjadi seorang model. Ya, sekalian saja besok aku kembalikan sepatu ini.

Oke, waktunya tidur..

-end So Yon POV-

*to be continued*

don't take and copy this ff !!!

Read more...

FF Special White Day "With All My Heart" PART 7 [END]

>> Wednesday, March 17, 2010

Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita

-------------------------------------------------------------

Tepat pukul 11. Namun ChangMin tidak juga muncul. Apa dia lupa dengan janjinya? Atau dia terlambat lagi? JaeJoong mulai resah. Tiba-tiba mobil YunHo berhenti dihadapannya.

“Boojae a! Cepat ikut aku!” YunHo menyuruh JaeJoong naik mobilnya.

“Tapi, aku belum bertemu ChangMin, Yun..” ucap JaeJoong.

“Ayo cepatlah! Ini gawat! Ini tentang ChangMin! Ternyata dia di rumah sakit sekarang! Dia sakit parah!” YunHo menjelaskan.

“Mwo?” JaeJoong kaget. Mereka pun langsung pergi ke rumah sakit.

(di rumah sakit)

JaeJoong dan YunHo mencari ruangan tempat ChangMin dirawat. JaeJoong terlihat sangat khawatir. Berkali-kali dia menabrak orang yang dia lewati, lalu bertanya ke semua suster, sampai akhirnya dia melihat umma JunSu dan appa YooChun disana, menangis.

“Umma! Appa!” JaeJoong berlari ke arah orang tuanya, diikuti YunHo.

“JaeJoong a..” JunSu memeluk anaknya itu. YooChun pun melakukan hal yang sama.

“Mana ChangMin? Mana? Aku ingin bertemu dengannya, dimana dia? bagaimana keadaannya? Umma, appa, katakan padaku!” JaeJoong mulai kehilangan kendali.

“JaeJoong a.. Sabar ya nak..” YooChun appa berusaha menghibur.

“Mwo? Appa ini berkata apa? Aku tanya mana ChangMin? MANA?” JaeJoong mengerang.

“Itu, disana..” JunSu umma menunjuk ke arah sebuah kamar. Banyak keluarga ChangMin disana, menangis. Apa yang terjadi? JaeJoong berlari ke arah kamar itu, melihat ke dalam ruangan melalui kaca di pintu. Terlihat para dokter disana sedang membereskan alat-alat. Di sebelah dokter itu terbaring sosok ChangMin, pucat. Dokter perlahan menutup wajah ChangMin dengan kain putih. JaeJoong berteriak tidak percaya. “Andwe.. andwe.. ANDWEEEEEEEEEE,” JaeJoong menangis histeris. YunHo menghampiri dan memeluknya.

“Andwe! Ini semua bohong kan.. Ini hanya mimpi kan.. Tidak mungkin ChangMin pergi. Dia belum menepati janjinya.. kita harus bertemu hari ini di taman.. ChangMin belum menepatinya.. Andwe.. MINNIE YA!!” JaeJoong berteriak di pelukan YunHo. JunSu umma dan YooChun appa datang dan memeluknya. “Minnie ya…” JaeJoong terus menangis.

“JaeJoong a.. Sebelum pergi, ChangMin menitipkan ini pada umma, untukmu..” JunSu umma memberikan sebuah amplop berisi surat. JaeJoong meraih surat itu dengan air mata yang terus mengalir. Dia pun duduk di salah satu kursi rumah sakit, di sebelah kamar ChangMin. Perlahan ia membuka amplop itu. Ada beberapa lembar kertas disana, dan sebuah cincin. JaeJoong menggenggam cincin itu, lalu perlahan membuka surat dan membacanya.


“Dear Joongie..

Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi.. Aigoo~ kau pasti sedang menangis ya sekarang. Maafkan aku ya sudah membuatmu menangis.. Maafkan aku juga karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk bertemu denganmu, karena aku pikir waktuku tidak akan cukup. Tapi aku tetap ingin mengucapkan Selamat hari White Day Joongie-ku.. Sesuai janjiku, aku pasti memberi surprise padamu. Aku berikan cincin ini untukmu. Kau tahu, tadinya aku ingin memberikannya saat aku menikah denganmu. Tapi aku tahu itu tidak mungkin, jadi aku memutuskan untuk memberimu saat White Day ini..”


JaeJoong memandang cincin yang ada di genggamannya. Air matanya kembali deras menghujam di pipinya. Lalu perlahan ia membaca kembali surat ChangMin.


“Joongie ya. Maafkan aku karena selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu. Aku takut kau akan sedih jika kau mengetahuinya.. Maafkan aku juga karena telah menghilang dan membuatmu cemas. Tapi aku sudah berjanji akan mengatakan hal ini padamu saat White Day. Ya, meskipun aku tidak bisa menceritakan langsung padamu, tapi ijinkan surat ini mewakilinya ya.. Aku janji aku akan menceritakan semuanya padamu, tidak akan ada yang terlewat..

Joongie ya.. Kau tahu.. Saat kau menemani YunHo berkeliling sekolah, aku sedang berjalan menyusuri lorong menuju lantai 3. Aku mau meminjam catatan Si Won untuk kita belajar bersama. Tapi saat aku akan menaiki tangga, tidak sengaja aku melihat kau dan YunHo berciuman. Ya, aku tahu itu tidak sengaja. Tapi kejadian itu membuatku sakit. Aku tak kuat melihatnya, dan akhirnya aku pun pergi dari sana. Hatiku sangat sedih. Tapi aku tidak ingin terlihat sedih di depanmu.

Malam harinya saat aku di rumahmu, aku berusaha untuk melupakan semuanya. Aku terus berbicara hal yang lucu di depanmu, tapi kau sama sekali tidak menyimakku. Aku tahu kau sedang memikirkan YunHo saat itu. Aku mencoba membuyarkan lamunanmu, tapi kau terus diam tidak mempedulikanku. Dengan sedikit bercanda, aku memukul kepalamu, membuyarkan lamunanmu sekali lagi. Barulah kau menyadari kehadiranku. Aku kecewa sekali. Aku juga tahu saat itu kau ingin menceritakan semuanya padaku. Tentang apa yang kau lamunkan hingga melupakan kehadiranku. Tapi aku pikir aku tidak akan sanggup mendengarnya. Akhirnya aku membahas Valentine denganmu. Aku tidak kuat menahan air mataku, akhirnya aku pun buru-buru pulang.

Di perjalanan pulang, kepalaku tiba-tiba sakit, dan aku pun tidak ingat apa-apa lagi. Saat sadar aku sudah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan kalau aku menderita kanker otak stadium tinggi. Dan dia memvonis hidupku hanya sebulan lagi. Aku kaget mendengarnya. Aku masih ingin hidup lebih lama, Joongie.. Kau tahu? aku benar-benar hancur saat itu. Memikirkan hidupku, juga kau dan YunHo..

Keesokan harinya saat Valentine, aku terus memikirkan hal ini. Jika memang waktuku tinggal sedikit lagi, aku ingin menemanimu sebelum aku pergi. Memberikan segalanya untukmu, membahagiakanmu di saat-saat terakhirku. Akhirnya aku menghabiskan semua uangku untuk membelikanmu mawar putih dan kalung emas putih. Tapi kau tahu, sulit sekali menemukannya. Aku berlari mengitari semua toko di Seoul, mencari semua itu, hingga aku sadar aku pun terlambat menemuimu di taman gara-gara ini. Maafkan aku..

Aku sengaja ingin menghabiskan Valentine seharian bersamamu. Mungkin ini akan jadi Valentine terakhir untukku. Sampai malam pun tiba dan waktunya aku mengantarmu pulang. Sedih sekali rasanya. Aku masih ingin bersamamu, masih ingin terus menemanimu Joongie..

Dengan berat hati aku pun melepasmu pulang. Setelah mengantarmu sampai depan rumah, aku pun melangkahkan kakiku untuk pulang. Belum jauh dari rumahmu, aku kembali berbalik, ingin melihatmu lagi. Tapi yang kulihat adalah YunHo. Dia datang dan mengajakmu pergi. Karena penasaran, aku pun mengikuti kalian ke taman tanpa kalian tahu. Dan tidak sengaja aku mendengar semua pembicaraan kalian. Aku mendengar kisah masa lalu kalian, bahwa ternyata YunHo adalah cinta pertamamu yang dulu selalu kau tunggu di taman itu. Hatiku sangat sakit mendengarnya. Aku juga melihat kalian berpelukan, sangat erat. Seakan melepas kerinduan kalian selama ini. Aku tidak sanggup lagi, akhirnya aku pun pulang dengan langkah lemas.”


JaeJoong semakin larut dalam tangisannya. Tangisannya terus menjadi, sampai bahunya berguncang tak karuan. Sesaat dia menghapus air matanya, lalu kembali membaca.


“Keesokan harinya saat aku pergi sekolah, aku kembali merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Seseorang membawaku ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, aku melihatmu sedang menemani YunHo yang juga sedang sakit. Saat itu mataku dan matamu bertatapan, tapi kemudian terhalang oleh dokter-dokter yang sibuk memeriksa keadaanku. Kau tau Joongie, saat itu aku ingin sekali memanggilmu, ingin kau juga menemaniku seperti kau menemani YunHo. Tapi aku tidak bisa. Rasa sakit di kepalaku membuatku terus mengerang kesakitan, tidak bisa mengucap namamu.

Aku dirawat di rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih. Aku sengaja tidak memberitahumu dan juga sekolah, karena aku tidak mau kalian semua khawatir, terlebih kau Joongie. Tepat saat ulang tahunku, aku meminta ijin pada dokter untuk sekolah. Hanya hari itu saja, setelah itu aku janji aku akan kembali ke rumah sakit. Dokter pun mengijinkan. Aku pun masuk sekolah saat itu.

Pagi hari saat pergi ke sekolah, aku bertemu YunHo. Banyak hal yang aku bicarakan dengannya. Dari pengakuan YunHo terhadap perasaannya padamu, aku pun akhirnya tahu siapa yang bisa menggantikanku untuk menjagamu setelah aku pergi. Ya, YunHo-lah orang yang tepat. Dia memiliki ketulusan lebih dari yang aku berikan padamu. Aku bisa melihat itu dari sorot matanya, benar-benar tulus..

Di hari yang sama, saat kita pergi ke pantai, aku tahu YunHo mengikuti kita. Itulah saatnya aku memutuskan untuk menyatukan kembali kau dengan YunHo, dan waktunya buatku untuk melepasmu pergi. Perasaanku campur aduk saat itu. Di satu sisi aku sedih karena aku harus kehilanganmu, tapi di sisi lain aku juga senang karena aku berhasil menemukan kebahagiaan untukmu, yaitu YunHo. Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang. Walau aku senang saat kau memutuskan untuk memilihku, bukan memilih YunHo, tapi aku tetap tidak bisa.. Karena hidupku tidak akan lama lagi.. Aku tidak bisa menemanimu selamanya. Andai saja aku tidak sakit dan Tuhan masih memberiku umur panjang, aku pasti tidak akan melepasmu Joongie..Karena aku sangat mencintaimu..

Setelah itu, aku pun kembali ke rumah sakit, menjalani hari-hari terakhirku disana..

Joongie ya.. Maafkan aku ya.. Aku melakukan ini semua untukmu. Aku hanya ingin kau bahagia. Aku tidak mau kebahagiaanmu hancur saat aku pergi. Karena itulah aku memilih YunHo untuk kebahagiaanmu. Kau tahu kenapa? Karena aku tahu jauh di dalam lubuk hatimu, kau masih sangat mencintainya dan selalu menunggunya pulang..

Kini dia sudah kembali padamu. Berjanjilah padaku, kau akan selalu bahagia bersamanya. Janji ya!
Jangan bersedih lagi ya Joongie.. Karena meskipun aku tidak ada di hadapanmu lagi, aku akan selalu ada di hatimu.. Aku mencintaimu Joongie.. Selamanya..

With Love,

ChangMin”


JaeJoong menutup surat ChangMin dan kembali menangis. “Kenapa semua terjadi begitu cepat.. Bahkan aku belum mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal padamu Min.. Terima kasih atas pengorbanan cintamu demi aku dan YunHo.. Minnie a, aku janji padamu. Aku akan bahagia bersama YunHo. Kau tidak usah khawatir ya,” batin JaeJoong. Tangisnya semakin menjadi. YunHo menghampiri JaeJoong dan segera memeluknya, menghiburnya hingga dia tenang.

Selamat jalan Min..

***
(satu tahun kemudian)

“Hei, cepat. Mana pengantin wanitanya? Sudah mau dimulai nih acaranya,” Eun Hyuk mencari sang pengantin yang belum muncul juga. YunHo tersenyum melihat Eun Hyuk.

“Eun Hyuk a! Aku yang menikah koq kamu yang sewot sih? Hahaha… Tenang saja, dia sebentar lagi keluar dari kamar riasnya,” YunHo menepuk bahu Eun Hyuk.

“Ya tentu saja aku sewot! Ini pernikahan sahabatku, jadi harus perfect tau!” Eun Hyuk pun tersenyum pada YunHo, lalu merangkulnya.

“Hehehe gomawo Eun Hyuk a..” YunHo membalas rangkulan Eun Hyuk.

(di kamar rias pengantin)

“Aigoo, lihat anak umma ini. Manis sekali! Gaunnya memang sangat cocok untukmu!” JunSu umma memuji.

“Tentu saja umma, anak siapa dulu dong.. Hehe,” JaeJoong memeluk umma-nya.

“Hei, anak appa juga dong..” YooChun appa ikut memeluk JaeJoong.

“Hahaha…” semua tertawa.

“Ayo siap-siap nak. Sudah mau dimulai acaranya,” JunSu umma menyuruh JaeJoong cepat.

“Sebentar lagi umma. Umma dan appa duluan saja. Aku masih ingin menata riasanku sedikit,” jawab JaeJoong.

“Baiklah, cepat ya,” JunSu dan YooChun pun keluar meninggalkan JaeJoong.

JaeJoong membuka laci di bawah meja riasnya. Sebuah kotak tersimpan disana. Dia membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah kalung dan cincin, pemberian ChangMin. JaeJoong menggenggamnya. “Minnie a, kau lihat? Aku akan menikah sekarang,” JaeJoong tersenyum, memandang cincin dan kalungnya sejenak. Lalu kembali meletakkannya di kotak, dan menyimpannya di laci.

JaeJoong keluar dari kamar rias, didampingi YooChun appa. YunHo yang melihatnya berdecak kagum. “Boojae, manis sekali..”batin YunHo.

Mereka pun akhirnya menikah. JaeJoong dan YunHo mengikrarkan janji suci sehidup semati. Semua hadirin disana bersorak bahagia melihat pernikahan mereka yang indah ini.

Di tengah pesta meriah yang sedang berlangsung, terlihat JaeJoong melangkah ke sebuah balkon, memisahkan diri dari hadirin yang lain. Raut bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Sesaat dia memandang langit yang cerah, menikmati segelas sampanye di tangannya. Langit hari ini benar-benar cerah, pikirnya. Tiba-tiba YunHo datang menghampiri JaeJoong.

“Boojae ya.. kenapa memisahkan diri dari yang lain?” tanya YunHo.

“Aku ingin menikmati hari ini di bawah langit yang cerah Yunnie ya..” jawab JaeJoong, tersenyum sambil terus memandang langit.

“Hmm.. begitu ya.. langit hari ini memang cerah,” YunHo ikut memandang langit, tersenyum.

“Minnie pasti sedang melihat kita di atas sana..” ucap JaeJoong. YunHo mengalihkan pandangannya ke JaeJoong. Lalu merangkulnya, dan kembali menatap langit.

“Hei ChangMin a! Kau lihat, aku dan JaeJoong sangat bahagia sekarang. Kau jangan khawatir. Aku akan menepati janjiku. Aku akan membahagiakan JaeJoong selamanya, sampai maut memisahkan kita. Kau dengar itu ChangMin a?? Aku janji akan menjaga JaeJoong untukmu, juga demi cintaku padanya,” YunHo berkata pada langit, berharap ChangMin ada disana dan mendengarkan semuanya. JaeJoong melirik YunHo, tersenyum lalu membalas rangkulan YunHo.

“Yunnie ya.. benarkah itu?”

YunHo menatap JaeJoong dalam-dalam, mengelus pipinya yang lembut lalu menjawab, “Tentu saja Boojae..”

Muka JaeJoong memerah. “Yunnie ya.. Oh ya kalau begitu, bagaimana kalau kau tidak menepati janjimu?” JaeJoong berusaha membelokkan topik pembicaraan, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti apel merah saking senangnya.

“Eh? Hmm itu belum kupikirkan. Tapi kalau memang begitu, hei ChangMin a! Kau hantui aku saja tiap hari ya! JaeJoong juga kau hantui saja! Hahaha,” canda YunHo. JaeJoong mencubit perut YunHo gemas, “Yunnie ya!”

“Hahaha,” YunHo tetap tertawa. JaeJoong terus mencubit perutnya manja. Perlahan ia menghentikan tawanya, menggenggam tangan JaeJoong lalu berkata, “Joongie ya.. Aku tidak akan ingkar janji. Yang kucintai di dunia ini hanyalah kau. Dan pasti aku akan membahagiakan orang yang kucintai. Percayalah padaku..”

“Yunnie ya..” JaeJoong memeluk YunHo erat. YunHo pun membalas pelukan JaeJoong.

“Aku mencintaimu Boojae a..”

“Aku juga mencintaimu Yunnie ya.. Yeongwonhi (selamanya)..”

Mereka pun larut dalam kebahagiaan.

“Minnie ya.. apa kau melihatku di atas sana? Aku sudah bahagia sekarang.. Sangat bahagia.. Terima kasih Minnie ya.. Semoga kau juga bahagia di alam sana,” batin JaeJoong dalam hati, tersenyum.
[END]

Read more...

FF Special White Day "With All My Heart" PART 6

Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita

-------------------------------------------------------------

“Minnie ya. Aku sudah mengambil keputusan, dan aku memilihmu. Aku sudah katakan ini pada YunHo. Aku dan YunHo hanyalah masa lalu Min.. kaulah yang kupilih sekarang. Kau yang akan mengisi hari-hariku, sampai nanti. Aku memilihmu Minnie..” JaeJoong tersenyum. ChangMin menunduk sejenak, menutupi kesedihannya di hadapan JaeJoong. Sesaat, lalu ia kembali melihat ke depan dan menatap JaeJoong, tersenyum.

“Terima kasih Joongie-ku. Tapi maaf. Aku memutuskan untuk berpisah denganmu sekarang. Maafkan aku,”

“Mwo? Minnie ya, andwe! Kenapa? Apa karena kau kecewa padaku lalu kau menghilang sampai kemarin, dan sekarang memutuskan hubungan ini begitu saja? Kita kan sudah tunangan Min.. Apa sebegitu besarkah kekecewaanmu padaku sampai kau melakukan hal ini padaku?” JaeJoong mulai menangis.

ChangMin hanya tersenyum, lalu berkata, “Aniya. Aku punya alasan lain untuk itu,”

“Alasan lain? Apa?” JaeJoong berteriak, dia tidak bisa membendung tangisannya lagi. ChangMin memegang kedua tangan JaeJoong dengan hangat.

“Joongie ya. Aku tidak bisa memberitahu alasannya padamu sekarang. Terlalu berat untukku. Suatu hari nanti kau pasti tahu kenapa aku begini padamu. Aku takut aku tidak bisa membuatmu bahagia.. Aku takut kau kecewa karena memilihku..”

“Andwe Minnie ya. Kenapa kau berbicara seperti itu! Aku yakin dengan pilihanku, aku mohon jangan begini..” JaeJoong terus menangis.

ChangMin menatap JaeJoong, menghapus air mata yang mengalir di pipinya yang lembut. ChangMin tersenyum, lalu berkata, “Joongie ya. Aku melepasmu sekarang. Kembalilah pada YunHo. Aku bisa tenang kalau dia yang menjagamu,”

“Tapi Minnie ya,” JaeJoong terisak-isak.

“Joongie ya. Aku tahu kau juga mencintai YunHo. Aku tahu itu. Matamu tidak bisa berbohong padaku. Cinta pertama itu tidak mudah untuk dilupakan sampai kapanpun. Tugasku menemanimu sudah selesai. Kau kembalilah pada YunHo. Sungguh aku rela. Aku yakin YunHo bisa membuatmu bahagia melebihi aku. Aku rela mengorbankan segalanya untuk kebahagiaanmu, dan semua itu bisa kau dapat dari YunHo. Aku akan lebih tenang jika YunHo yang ada disampingmu..” ChangMin kembali tersenyum. Mengelus rambut JaeJoong perlahan, dan memeluknya.

“Minnie ya…” JaeJoong menangis di pelukan ChangMin.

Tak lama ChangMin tiba-tiba memanggil seseorang.

“YunHo ya!”

“Eh?” JaeJoong melepas pelukan ChangMin, heran.

“YunHo ya! Keluarlah! Aku tahu kau mengikuti kita daritadi..” ChangMin kembali memanggil YunHo. YunHo pun perlahan muncul dari persembunyiannya. Matanya sembab. ChangMin melihat YunHo, lalu menyuruhnya datang. YunHo pun menghampiri mereka.

ChangMin memandang YunHo dan JaeJoong. Perlahan tangan kanannya meraih tangan JaeJoong, dan tangannya yang lain meraih tangan YunHo. Ia menyatukan tangan mereka, saling menatap. Tangis JaeJoong semakin menjadi.

“Minnie ya,” JaeJoong menatap ChangMin. ChangMin tersenyum.

“YunHo a, JaeJoong a. Semoga kalian bisa bahagia. Dengan begini aku tenang,” ChangMin tersenyum penuh ketulusan. Perlahan ia melepaskan tangan mereka, lalu pergi.

“Minnie ya!” JaeJoong berusaha mengejar ChangMin, namun YunHo menahannya. ChangMin berhenti lalu menoleh. Dia tersenyum lalu berkata pada JaeJoong, “Kau akan tahu alasanku saat White Day nanti.. Janji kita di taman, kau ingat kan? Aku akan menepati janjiku..” ChangMin pun pergi meninggalkan mereka berdua. JaeJoong lalu memeluk YunHo, menangis.

“YunHo a. Kenapa begini.. Kenapa..” isak JaeJoong.

“Mullaseo.. aku juga tidak mengerti. Tadi pagi juga dia mengatakan hal yang sama padaku. Sepertinya dia memang merelakan kita untuk bersama. Tapi aku tidak tahu apa alasan yang sebenarnya.. Tenanglah Boojae.. Jangan menangis lagi.. Ada aku disini..” YunHo berusaha menenangkan JaeJoong.

***

Semenjak hari itu ChangMin tidak pernah muncul lagi. Tidak ada yang tahu dimana ChangMin berada. Sama seperti sebelumnya, ChangMin tidak bisa dihubungi. ChangMin menghilang begitu saja, meninggalkan banyak misteri, terutama bagi JaeJoong. Ia ingat, ChangMin masih belum memberitahunya satu alasan terakhir kenapa ChangMin meninggalkannya. White Day, ya. Saat White Day nanti aku akan tahu semua, pikir JaeJoong.

Dibalik semua kekhawatiran JaeJoong, akhirnya dia dan YunHo pun resmi berpacaran. Tentu saja hal ini membuat mereka sangat bahagia karena bisa bersatu lagi. Tapi mereka tetap harus berterima kasih pada ChangMin. Karena ChangMin-lah yang menyatukan cinta mereka kembali.

***
(13 Maret malam)

YunHo dan JaeJoong duduk bersebelahan, menikmati makan malam romantis di sebuah kafe milik keluarga YunHo. Mereka terlihat sedang asyik bercakap-cakap.

“Boojae ya..” YunHo manja.

“Hmm?” JaeJoong melirik sambil menyuapi YunHo. YunHo memandang wajah JaeJoong.

“Ya Yunnie ya.. Kenapa kau memandangku begitu..” JaeJoong tersipu malu.

“Tidak.. hanya saja kau manis sekali hari ini..” YunHo memuji JaeJoong. Muka JaeJoong memerah. “Yunnie ya..”

“Ah, beruntung sekali aku memiliki dirimu Boo.. Aku benar benar bahagia..” YunHo melemparkan senyum termanisnya pada JaeJoong.

“Aku juga bahagia bisa dimiliki oleh dirimu..” JaeJoong pun tersenyum lalu memeluk YunHo, “Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Jangan pernah pergi lagi ya..”

YunHo mengelus kepala JaeJoong lalu menjawab, “Tentu saja Boojae.. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.. Aku janji padamu.. Dan aku juga sudah janji pada ChangMin.. Aku akan membahagiakanmu selamanya..”

JaeJoong tersenyum di pelukan YunHo. “ChangMin a, aku sangat berterima kasih padamu,” batinnya dalam hati. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“YunHo a,” JaeJoong melepas pelukannya, “besok White Day ya?”

“Hmm, ya. Memang kenapa? Ah, kau pasti ingin aku memberimu surprise ya.. haha tenang saja Boojae, sudah aku siapkan..” timpal YunHo.

“Aniya, bukan itu. Aku ingat ChangMin pernah berkata padaku, dia akan memberitahu alasan terakhirnya saat White Day,”

“alasan?” YunHo bingung.

“Ya. Alasan kenapa dulu dia menghilang dan membuat keputusan untuk merelakan aku denganmu. Mungkin alasan ini sama dengan menghilangnya ChangMin sekarang. Dan lagi aku masih punya janji saat Valentine kemarin. Saat itu aku dan ChangMin berjanji akan bertemu lagi di taman yang sama,” jelas JaeJoong.

“Begitu ya,” YunHo mengangguk.

“Yunnie ya, apa kau mengijinkanku pergi besok?” JaeJoong bertanya pada YunHo.

“Tentu saja. Kenapa tidak..” YunHo tersenyum.

“Benarkah? Gomawo Yunnie ya..<3 br="" jaejoong="" memeluk="" yunho.="">
“Apa kau mau aku temani?” tawar YunHo.

“Aniya. Aku sendiri saja.. Gomawo Yunnie ya,”

“Eits, tidak gratis loh,” kata YunHo serius.

“Eh?” JaeJoong heran.

“Ya.. Kau harus memberiku ‘sun’ disini,” YunHo menunjuk pipinya.

“Ya Yunnie ya.. Kau ini jail deh..” JaeJoong tersipu. YunHo hanya tertawa. Saat YunHo tertawa, JaeJoong mengecup pipi YunHo.

“Hehehe sudah tuh,” JaeJoong tersipu malu. YunHo tertawa, menatap JaeJoong lalu menciumnya.

***
(14 Maret, White Day)

JaeJoong berada di taman tempat janjian dia dan ChangMin. Taman yang sama saat hari Valentine. Saat ini, jam 10. JaeJoong sengaja datang lebih pagi, padahal janjinya dengan ChangMin jam 11.

Sambil menunggu, JaeJoong duduk di sebuah bangku taman di dekat pohon. Dia terkejut saat melihat pohon itu. Di batangnya yang besar tertulis,

“With All My Heart
창민 사랑 재중 영원히”
(trans : ChangMin sarang JaeJoong Yeongwonhi-ChangMin love JaeJoong forever)”

JaeJoong menatapnya dan air matanya perlahan mulai keluar. Sungguh, betapa ChangMin sangat mencintai dirinya hingga mengorbankan diri sendiri hanya demi kebahagiaannya..

JaeJoong menunggu ChangMin dengan sabar. Dia memegang kalung yang melingkar di lehernya. Kalung berinisial J, pemberian ChangMin saat Valentine, selalu ia pakai kemanapun. “Minnie ya. Aku datang sekarang. Aku menunggumu. Bogoshipo (aku merindukanmu)..” batin JaeJoong.

Tepat pukul 11. Namun ChangMin tidak juga muncul. Apa dia lupa dengan janjinya? Atau dia terlambat lagi? JaeJoong mulai resah. Tiba-tiba mobil YunHo berhenti dihadapannya.

“Boojae a! Cepat ikut aku!” YunHo menyuruh JaeJoong naik mobilnya.

“Tapi, aku belum bertemu ChangMin, Yun..” ucap JaeJoong.

“Ayo cepatlah! Ini gawat! Ini tentang ChangMin!"

"Eh??"

T.B.C

Read more...

FF Special White Day "With All My Heart" PART 5

Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita

-------------------------------------------------------------

(keesokan harinya, 18 Februari, hari ulang tahun ChangMin)

YunHo pergi ke sekolah dengan langkah lemas. Masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah. YunHo masih memikirkan kejadian kemarin saat dia memeluk JaeJoong untuk terakhir kalinya. Perih sekali rasanya..

Saat sedang sibuk dengan pikirannya, seseorang menepuknya dari belakang.

“YunHo ya!”

YunHo menoleh dan kaget melihat orang yang menepuknya barusan. “Eh? ChangMin a?”

“Ya. Pagi sekali kau pergi hari ini,” ujar ChangMin santai.

“Oh, kau juga,” jawab YunHo singkat.

“Ya. Tiba-tiba saja ingin pergi lebih dulu,” ChangMin tersenyum. Tumben sekali, padahal biasanya dia selalu memasang tampang jutek di depan YunHo.

“Kau kemana saja? Jaejoong mengkhawatirkanmu,” YunHo memulai pembicaraan. Suaranya semakin pelan jika menyangkut JaeJoong.

“Joongie? Oh.. Aku sudah terlalu lama tidak memberi kabar padanya,” jawab ChangMin.

“Ya kau! Tega sekali membuatnya khawatir seperti itu! Kau…” YunHo mulai emosi.

“Kau menyukai JaeJoong?” potong ChangMin, melirik ke arah YunHo.

“Mwo?” YunHo kaget.

“Aku tanya apa kau menyukai JaeJoong? Aku tahu kau cinta pertamanya, sekarang jawab aku, apa kau masih mencintainya?” ChangMin meninggikan suaranya.

“Darimana kau tau itu hah?” YunHo balik bertanya.

“Itu tidak penting! Kau jawab saja, YA ATAU TIDAK?” ChangMin mulai emosi.

YunHo yang emosinya memuncak, tanpa pikir panjang langsung menjawab ChangMin dengan sedikit membentak, “Ya! Aku mencintainya! Aku mencintainya! Aku tidak bisa hidup tanpanya! Aku datang ke korea hanya untuk menjemputnya kembali padaku! Tapi ternyata dia memilihmu, bukan aku! Kau puas hah? KAU PUAS?”

ChangMin terdiam sejenak. Perlahan ia mulai mengontrol emosinya, lalu kembali bertanya dengan nada pelan, “Lalu, apa kau bisa membuat JaeJoong bahagia?”

“Mwo?” YunHo heran. Emosinya sedikit demi sedikit berkurang. “Apa yang kau katakan?”

ChangMin tersenyum dan melirik YunHo, “Aku tanya apa kau bisa membahagiakan JaeJoong?”

“Apa maksudmu?” YunHo menatap ChangMin serius.

“Jawab saja..” ChangMin tidak kalah serius.

“Ya tentu saja! Mana mungkin aku tidak bisa membahagiakan orang yang aku cintai!” jawab YunHo mantap.

ChangMin menunduk, dia menghela napas lalu berkata, “Begitu ya..”

YunHo masih terlihat bingung dengan sikap ChangMin. Lama sekali ChangMin menunduk seperti memikirkan sesuatu, tidak lama ia kembali menatap YunHo lalu tersenyum.

“Oke, kalau begitu aku tenang sekarang. Aku titip JaeJoong padamu ya. Jagalah dia. Jangan pernah kau sakiti dia,” ujar ChangMin menepuk bahu YunHo. YunHo melongo.

“Baiklah aku pergi duluan ya,” ChangMin pun pergi meninggalkan YunHo yang masih bengong. Baru beberapa langkah ChangMin pergi, YunHo memanggilnya.

“Ya ChangMin a! apa maksud perkataanmu? Kau ini kenapa hah?”

ChangMin menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah YunHo dan berkata, “aniya..”. ChangMin tersenyum lalu kembali berbalik pergi tanpa mempedulikan YunHo yang terus menerus memanggil namanya.

***

JaeJoong datang lebih awal ke sekolah. Ia sengaja menunggu ChangMin di dekat sekolah. Dia ingin memberikan surprise sebelum masuk sekolah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.55, lima menit lagi bel sekolah berbunyi. Tapi ChangMin belum juga muncul. JaeJoong menatap jam tangannya dan tertunduk lemas. Minnie ya, sebenarnya kau kemana?pikirnya.

JaeJoong pun putus asa. Akhirnya dia pun berlari menuju sekolah sebelum bel berbunyi. Air matanya ingin sekali keluar, tapi dia menahannya.

JaeJoong berjalan di koridor kelasnya. Dia terus mengkhawatirkan ChangMin. Sampai tiba-tiba..

“Ya Joongie ya!” seseorang merangkul JaeJoong dari belakang. JaeJoong menoleh.

“Minnie ya!” JaeJoong pun memeluk ChangMin. “Kau kemana saja, aku khawatir sekali, kenapa kau tidak memberi kabar.. Leluconmu tidak lucu ah..” JaeJoong mulai menangis. ChangMin membalas pelukan JaeJoong.

“Uuu Joongie ya, cup cup cup.. jangan nangis ya.. Aku sudah disini sekarang, jangan sedih lagi ya..” ChangMin pun melepas pelukannya setelah tangis JaeJoong mulai reda.

“Minnie ya, kau kurus sekali?!” JaeJoong memegang wajah ChangMin, meraba setiap tirus wajahnya yang semakin mengecil.

“Oh ya? Aku kan diet, berarti dietku ini berhasil dong..hehehe,” ChangMin tertawa.

“Ah bohong.. Kau kan sudah kurus kerempeng begitu, mana mungkin diet? Kau bohong ya?” JaeJoong mulai curiga.

“Hahaha jahat sekali aku dibilang kurus kerempeng,” ChangMin tertawa sambil cemberut manja.

“Min, aku serius tau.. “ JaeJoong merubah ekspresi wajahnya, serius.

ChangMin menatap JaeJoong dalam dalam, lalu tersenyum, “Joongie ya, aku tidak apa-apa, sungguh. Percayalah,” ChangMin berusaha meyakinkan JaeJoong, lalu memeluknya. “Aku rindu sekali padamu Joongie..”

“Minnie ya.. Aku juga merindukanmu.. Kau ini kemana saja..” JaeJoong semakin mempererat pelukannya.

“Aku hanya pergi ke suatu tempat sebentar.. Maaf ya aku tidak memberitahumu..” ChangMin mengelus kepala JaeJoong.

“Oh ya,” ChangMin melepas pelukannya. “Kau tidak lupa dengan ulang tahunku kan?”

“Tentu saja tidak Min.. Ini hadiah untukmu,” JaeJoong memberi sebuah kantong berisi hadiah untuk ChangMin. ChangMin membuka kantong itu.

“Whaa, syal. Bagus sekali Joongie ya! Aku pakai ya,” ChangMin memakaikan syal itu ke lehernya. “Bagaimana? Bagus tidak?”

“Kau tampan sekali memakainya Min..” JaeJoong tersenyum.

“Ah senangnya, gomawo Joongie ya. Ah tunggu, ada lagi ya,” ChangMin kembali meraba isi kantong. “Whaa, bento! Horeee, kangen sekali aku dengan masakanmu Joongie.. terima kasih ya.. nanti saat istirahat kita makan bersama ya,” ChangMin terlihat sangat bersemangat, tapi tetap terlihat aneh di mata JaeJoong.

“Kau benar-benar tidak apa-apa Minnie?” JaeJoong kembali bertanya.

“Jeongmal.. sungguh aku tidak apa-apa Joongie.. Ah, ayo ke kelas, sebentar lagi pelajaran dimulai..”
Mereka pun masuk ke kelas. Eun Hyuk yang melihat mereka masuk segera menghampiri.

“Ya ChangMin a! kemana saja kau? Aigoo, kau ini. Pacarmu ini sedih sekali selama kau tak ada, kau tahu?” Eun Hyuk menepuk pundak ChangMin. ChangMin tersenyum dan melihat ke arah JaeJoong. JaeJoong tersipu, “Ya Eun Hyuk!”

“Hehehe, dasar pacarku ini..” ChangMin kembali menatap JaeJoong lalu merangkulnya. Tatapannya terlihat sangat sedih.

“Aigoo, mesra-mesraan lagi deh.. Oke aku ga akan ganggu kalian kangen-kangen’an .. haha,” Eun Hyuk menepuk ChangMin lalu kembali ke kursinya. ChangMin melepas rangkulannya dan menatap JaeJoong. Tatapan kosong. Kesedihan yang mendalam muncul dari sana.

“Minnie ya, kenapa kau melihatku seperti itu?” JaeJoong heran. Sikap dan tatapan ChangMin berbeda hari ini, pikirnya.

“Ah tidak apa-apa. Aku hanya berpikir ternyata pacarku ini sangat peduli padaku ya.. Aku jadi terharu.. Hehe .. “ ChangMin mencubit pipi JaeJoong manja.

“Minnie ya,” JaeJoong malu.

“Hehe.. Ah sudahlah, ayo duduk Joongie,”

ChangMin dan JaeJoong pun berjalan menuju meja mereka. YunHo terlihat memperhatikan mereka. ChangMin tersenyum ke arah YunHo lalu duduk di kursinya.

***
(pulang sekolah)

ChangMin dan JaeJoong berjalan berdampingan ke luar kelas. YunHo mengikuti mereka dari jauh.
“Joongie ya. Hari ini kita jalan-jalan ya? Aku ingin menghabiskan hari ini denganmu,” kata ChangMin pada JaeJoong, manja. Raut wajahnya lebih manja dari biasanya.

“Tentu saja Minnie ya, aku untukmu hari ini,” jawab JaeJoong tersenyum. ChangMin membalas senyuman JaeJoong. “Baiklah, kalau begitu kita ke pantai ya. Aku ingin sekali ke pantai,”

“Eh? Pantai? Tapi ini kan musim dingin, masa ke pantai?” JaeJoong heran.

“Tidak apa-apa. Dengan syal pemberianmu ini aku akan selalu merasa hangat Joongie.. Ah lagipula kau kan sudah janji mau menemaniku hari ini. Jadi kau nurut saja ya! Hehehe ayo kita pergi,” tanpa pikir panjang ChangMin langsung menarik tangan JaeJoong.

Mereka pun pergi ke pantai naik bis umum. Ya, memang ada bis yang menuju ke sana. Sekitar 2 jam perjalanan, sore hari, akhirnya mereka pun sampai di pantai.

“Ah, akhirnya sampai juga,” kata ChangMin lalu duduk di pinggir pantai. JaeJoong mangikutinya. “Sunset disini sangat bagus Joongie,” lanjut ChangMin.

“Benarkah? Aku ingin melihatnya,” ungkap JaeJoong.

“Ya. Aku juga ingin melihatnya bersamamu, meski untuk terakhir kalinya..” ChangMin menatap laut yang ada di depannya.

“Minnie ya! Kenapa berbicara seperti itu?” JaeJoong heran.

“Ah tidak, hehehe,” jawab ChangMin tertawa sambil mengelus kepala JaeJoong.

Mereka pun larut dalam pemandangan laut yang sangat indah. Tak lama pembicaraan mereka pun dimulai.

“Minnie ya,”

“Hmm?”

“Aku… aku ingin menceritakan sesuatu padamu..” JaeJoong memulai kata-katanya.

“Oh ya? Cerita saja,” jawab ChangMin masih memandang laut.

“Begini. Itu, soal.. Emh..” JaeJoong terbata-bata.

“YunHo kan?” potong ChangMin.

“Eh? Darimana kau tahu?” tanya JaeJoong kaget.

ChangMin mengalihkan pandangannya pada JaeJoong. Berusaha berbicara serius padanya. “Joongie ya. Aku sudah tahu koq. Aku tahu kalau YunHo itu cinta pertamamu lima tahun lalu,” ChangMin tersenyum.

“Mwo? Kau sudah tahu? Kenapa bisa?” JaeJoong semakin bingung.

ChangMin menatap JaeJoong lebih dalam lagi, “Joongie ya. Aku tahu semuanya. Tidak penting aku tahu darimana. Tapi yang jelas aku tahu semua.. Aku kan pernah bilang padamu, aku tahu segalanya tentangmu Joongie.. Termasuk hal ini.. Dan, ya.. aku memang sedikit kecewa mengetahui hal ini..” ChangMin berusaha tersenyum.

“Minnie ya. Aku tahu aku salah. Tapi kau harus dengarkan aku,” kata JaeJoong terbata-bata.
“Ya, aku dengarkan Joongie,” kata ChangMin.

“Minnie ya. Aku sudah mengambil keputusan, dan aku memilihmu. Aku sudah katakan ini pada YunHo. Aku dan YunHo hanyalah masa lalu Min.. kaulah yang kupilih sekarang. Kau yang akan mengisi hari-hariku, sampai nanti. Aku memilihmu Minnie..” JaeJoong tersenyum. ChangMin menunduk sejenak, menutupi kesedihannya di hadapan JaeJoong. Sesaat, lalu ia kembali melihat ke depan dan menatap JaeJoong, tersenyum.

“Terima kasih Joongie-ku. Tapi maaf. Aku memutuskan untuk berpisah denganmu sekarang. Maafkan aku,”

"Mwo????!!!!!!"

T.B.C

Read more...

FF Special White Day "With All My Heart" PART 4

Tittle : With All My Heart
Cast : Chang Min-YunHo-JaeJoong-Junsu-YooChun (TVXQ), KangIn-EunHyuk-LeeTeuk-SungMin-HeeChul (Super Junior)
Guest Star : YunJaeMin
Author : Vionita

-------------------------------------------------------------

(keesokan harinya di sekolah)

“Hei JaeJoong a, kenapa wajahmu pucat begitu? Kau sakit?” tanya Eun Hyuk.

“Oh, Eun Hyuk a. kau sudah sembuh ya..”

“Hei kau ini. Aku tanya kau kenapa Jae.. oh iya mana ChangMin? Tumben kalian gak bareng, lagi ada masalah ya?” tanya Eun Hyuk lagi.

JaeJoong terdiam sesaat.

“Eun Hyuk a..” JaeJoong mulai bicara.

“Hmm?”

“Apabila kau menemukan cinta pertamamu saat kau sudah bersama yang lain, apa yang akan kamu lakukan?” tanya JaeJoong.

“Hmm.. Kalau aku, tentu saja aku akan memilih cintaku yang sekarang. Walaupun cinta pertama itu penting, tapi bukan berarti aku harus meninggalkan cintaku yang sekarang hanya untuk cinta pertama. Yang lalu biarlah berlalu, tidak akan pernah kembali. Itu hanya akan menjadi kenangan yang tidak bisa diulang kembali. Jalani saja yang sekarang dan lupakan masa lalu,” jawab Eun Hyuk mantap.

“Begitu ya,” JaeJoong menarik napas panjang.

“Jae, setiap orang punya pemikirannya masing-masing. Tadi itu pemikiranku. Saranku, ikutilah kata hatimu, jangan ikuti egomu. Hanya hatimu yang dapat membawamu menuju kebahagiaan yang kau inginkan. Percayalah padaku,” Eun Hyuk merangkul JaeJoong, berusaha memberikan support padanya.

“Ya aku mengerti. Gomawo Eun Hyuk a..” JaeJoong tersenyum pada Eun Hyuk. Hanya Eun Hyuk yang selalu bisa membuat dirinya merasa tenang. Ya, Eun Hyuk memang tempatnya berkeluh kesah jika sedang ada masalah. Eun Hyuk sahabat terbaiknya.

“Sama-sama Jae. Oh ya tentang murid baru itu, apa kau mau aku menggantikanmu menemaninya keliling sekolah? Aku kan sudah sembuh sekarang,” tanya Eun Hyuk.

“Aniya, gwenchana.. nanggung, aku saja Hyukkie..” jawab Jae Joong cepat. Entah mengapa dia jadi bersemangat.

“Oh begitu, baiklah. Kalau ada apa-apa kau panggil aku saja ya. Ya sudah kalau begitu, aku kembali ke kursiku ya. Bel masuk kan baru saja bunyi,” Eun Hyuk pun pergi.

“Oke,”

-JaeJoong POV-
Yosh! Aku sudah mengambil keputusan sekarang. Meskipun aku senang YunHo telah kembali, tapi aku kan sudah punya ChangMin. Aku tidak boleh mengecewakannya.. eh tunggu dulu, tapi ChangMin kemana ya? Kenapa dia tidak masuk hari ini? Apa dia sakit? Dan, astaga.. YunHo juga tidak masuk! Apa dia marah karena aku meninggalkannya kemarin? Aduh kemana mereka ini?

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Ada telepon masuk. YunHo??

Aku pun mengangkat telepon YunHo, “Nde YunHo a,”

“Boojae a..boojae a.. boojae a..” suara YunHo terdengar sangat lemas.

“YunHo a, ada apa? Kau kenapa? Ya YunHo!” aku berteriak, teman-teman sekelas melihat padaku.

Tiba-tiba seseorang berbicara di ujung telepon, tapi bukan YunHo.

“Maaf, apa anda temannya YunHo? Kami dari Rumah Sakit Seoul. Seseorang menemukan YunHo pingsan ditengah jalan dan membawanya kemari. Dia terus menyebut nama anda, karena itu saya berusaha menghubungi anda saat pria ini siuman tadi. Saya harap anda bisa kesini secepatnya,” kata pria di ujung telepon.

Aku tersentak kaget. Handphone-ku kubiarkan terjatuh. YunHo.. YunHo.. YunHo.. Hanya dia yang kini ada di dalam otakku. Tanpa pikir panjang aku pun langsung pergi meninggalkan kelas. Aku tidak peduli pada teman-temanku yang berteriak memanggilku. Aku hanya ingin melihat keadaan YunHo sekarang..
-End JaeJoong POV-

JaeJoong sampai di Rumah Sakit Seoul, dan langsung mencari kamar UGD. Sampai disana, dia mencari sosok YunHo di setiap tempat tidur, berharap ia menemukan YunHo yang terbaring disana. Tiba di ujung ruangan, akhirnya ia pun melihat YunHo. JaeJoong segera berlari dan memeluk YunHo yang masih terbaring lemah.

“Boojae a..kau datang..” YunHo berbisik lemah pada JaeJoong.

“Tentu saja aku datang YunHo a.. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku.. Kumohon jangan begini..” JaeJoong mulai menitikkan air mata.

“Jangan khawatir Boojae. Dokter bilang aku hanya demam.. Aku kecapean, terlalu banyak pikiran, jadi aku hanya perlu banyak istirahat,” YunHo berusaha membuat JaeJoong tenang.

“YunHo a..” JaeJoong pun melepas pelukannya dan duduk di samping YunHo. “Aku akan menemanimu disini sampai kau sembuh..”

Tiba-tiba seorang pasien datang dan dibawa ke sebelah tempat tidur YunHo. Sayang mereka tidak bisa melihat pasien itu karena masing-masing kamar ditutup oleh gorden. Pasien itu mengerang kesakitan. JaeJoong penasaran ingin melihatnya, tapi banyak sekali dokter yang mengerubuninya untuk memberi pertolongan. Samar-samar dia mendengar dokter itu berbicara, “Penyakitnya sudah sangat gawat. Dia hanya bisa bertahan sebulan.. Kasihan sekali anak ini.. padahal dia masih SMU, masih muda..”

Sesaat JaeJoong melihat pria yang sedang mengerang itu melihat ke arahnya. Mata yang hangat. JaeJoong seperti tidak asing dengan sepasang mata hangat itu. Dia seperti mengenalnya, tapi siapa dia? Saat sedang berusaha mengingat, YunHo memanggilnya.

“Boojae, ada apa?”

“Ah, tidak apa-apa Yun,” jawab JaeJoong dan kembali duduk disamping YunHo.

***

Keesokan harinya YunHo sudah masuk sekolah seperti biasa. Tapi ChangMin masih belum masuk sekolah. JaeJoong sudah berusaha menghubunginya semalaman, tapi tidak bisa. Ada apa dengan ChangMin?

Dibalik menghilangnya ChangMin, YunHo dan JaeJoong malah semakin dekat. Semalam JaeJoong mengantarkan YunHo pulang ke rumahnya. Dan bahkan tadi pagi mereka pergi ke sekolah bersama. JaeJoong berpikir, semua yang ia lakukan pada YunHo saat ini mungkin adalah yang terakhir, karena dia sudah memutuskan untuk tetap bersama ChangMin. Jadi saat ChangMin kembali sekolah nanti, saat itu juga dia akan meninggalkan YunHo. Dia berjanji kalau ChangMin kembali ke sekolah, ia akan menceritakan semuanya pada ChangMin. Dan ia percaya ChangMin akan mengerti dirinya.

***
(3 hari kemudian)

Tiga hari sudah ChangMin tidak masuk sekolah. Kemana dia? JaeJoong terus gelisah di meja kelasnya. Tidak ada yang tahu dimana ChangMin berada sekarang. Hal ini membuat JaeJoong sedih. Tapi..

“Boojae a.. mau eskrim?” tawar YunHo yang sejak tadi sudah duduk di sampingnya.

“Ah, kau saja Yun.. aku sedang tidak ingin apapun,” jawab JaeJoong datar.

“Kau pasti memikirkan pacarmu itu ya?” tanya YunHo sambil melumat eskrim yang ada di tangannya.

“Ya, tentu saja. Aku sangat khawatir. Dia sama sekali tidak memberiku kabar,” jawab JaeJoong lemas.

“Kau tenang saja Boojae..dia pasti masuk sekolah besok..” YunHo berusaha menghibur JaeJoong.

JaeJoong menatap wajah YunHo yang sedang asyik dengan eskrim-nya. Mata YunHo memancarkan kesedihan yang amat dalam, JaeJoong menyadari itu.

“Maafkan aku YunHo. Aku tahu kau sebenarnya sangat sedih kan karena aku memilih ChangMin, bukan memilih kau..” JaeJoong menatap YunHo dalam-dalam, YunHo terdiam.

JaeJoong meraih tangan YunHo dan menggenggamnya erat. “Yunnie ya.. Meski aku memilih ChangMin, tapi percayalah.. Kau cinta pertama yang sangat berarti bagiku. Aku sangat berterima kasih kau mau manjemputku kembali, tapi semua sudah terlambat. Maaf aku telah mengecawakanmu. Walau begitu, aku akan selalu mencintaimu sebagai cinta pertamaku.. Kau adalah kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan,”

YunHo menatap JaeJoong. Dia melihat ketulusan dalam kata-kata JaeJoong barusan. YunHo ingin menangis, tapi ia tahan sampai ia berkata, “Boojae, bolehkah aku memelukmu?”

JaeJoong kembali menatap YunHo, lalu mengangguk pelan. YunHo pun memeluk JaeJoong, memberikan dekapan hangat untuk orang yang dicintainya itu. Mungkin ini adalah pelukan terakhir, pikirnya. Tak terasa YunHo meneteskan air matanya dan terasa oleh JaeJoong. JaeJoong pun mengelus punggung YunHo, berusaha menghentikan air matanya. Tapi tanpa ia sadari, ia pun menangis di pelukan YunHo. “YunHo menangis karena aku. Maafkan aku YunHo,” gumam JaeJoong dalam hati.

***
(malam harinya, di rumah JaeJoong)

-JaeJoong POV-
Aku berusaha menghubungi ChangMin berkali-kali, tapi tetap tidak bisa. Besok kan ulang tahun ChangMin, kenapa dia malah tidak bisa dihubungi?

Mungkin ChangMin akan memberi surprise di ulang tahunnya besok. Dia sengaja menghilang agar aku khawatir, lalu dia akan tiba-tiba muncul di hadapanku. Ah ya, pasti begitu! Dasar Minnie, lihat saja ya.. Aku akan membuatmu menyesal karena sudah mengerjaiku..

Aku kembali membungkus hadiahku untuk ChangMin. ChangMin pasti suka ini. Sebuah syal merah dengan motif unik yang kubuat dengan tanganku sendiri. Cocok untuk ChangMin. Ah ya, ada satu lagi. Aku akan buatkan bento(bekal) untuk ChangMin besok. Dia kan sangat suka masakan buatanku. Dan aku yakin, besok ChangMin pasti masuk sekolah. Dan dia akan menyukai hadiah ulang tahun dariku..
-end JaeJoong POV-

T.B.C

Read more...

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP